News / Internasional
Minggu, 29 Maret 2026 | 09:58 WIB
Rudal Iran
Baca 10 detik
  • PBB melakukan diplomasi telepon dengan Iran guna mengatasi hambatan pengiriman di Selat Hormuz.

  • Blokade de facto di Selat Hormuz memicu lonjakan harga BBM di pasar internasional.

  • IMO menegaskan deeskalasi lebih efektif dibandingkan pengiriman kapal perang untuk mengamankan jalur pelayaran.

Merespons tindakan tersebut, militer Iran melakukan aksi balasan terhadap kedaulatan wilayah Israel dan markas pertahanan milik Amerika Serikat.

Konfrontasi langsung ini menyebabkan situasi keamanan di Timur Tengah berubah menjadi palagan yang sangat tidak menentu bagi semua pihak.

Blokade Selat Hormuz dan Ancaman Ekonomi

Ketegangan yang terus meruncing di tanah Iran berujung pada terjadinya blokade secara de facto terhadap jalur pelayaran Selat Hormuz.

Wilayah perairan ini merupakan nadi utama bagi distribusi minyak mentah serta gas alam cair yang berasal dari negara-negara Teluk.

Tersumbatnya jalur ini otomatis mengganggu aliran pasokan energi menuju pasar global yang sangat bergantung pada produksi kawasan tersebut.

Data menunjukkan bahwa tingkat ekspor minyak dunia mengalami penurunan drastis akibat gangguan pada stabilitas keamanan di jalur navigasi tersebut.

Fenomena ini berdampak langsung pada kenaikan harga bahan bakar di berbagai belahan dunia yang memicu inflasi di banyak negara.

Kritik Terhadap Opsi Militer di Perairan

Baca Juga: Pertamina Perkuat Budaya Hemat Energi, dari Kantor hingga Program untuk Masyarakat

Di sisi lain, Organisasi Maritim Internasional atau IMO memberikan pandangan kritis terhadap rencana penggunaan kekuatan bersenjata untuk pengamanan.

Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, berpendapat bahwa pengerahan armada perang bukan merupakan solusi yang bersifat permanen atau jangka panjang.

Sebelumnya, Donald Trump selaku Presiden Amerika Serikat telah mengajak koalisi internasional termasuk China dan Inggris untuk mengirimkan kapal perang.

Namun, Dominguez menggarisbawahi bahwa kehadiran militer tidak lantas menghapus ancaman teknologi persenjataan modern yang digunakan dalam konflik ini.

"Pembentukan gugus tugas militer untuk menjaga keamanan kapal komersial tidak dapat menjadi solusi jangka panjang. Terlebih lagi, hal itu tidak akan menghilangkan semua risiko, karena kapal masih dapat diserang oleh drone atau rudal," kata Dominguez kepada surat kabar Repubblica.

Misi Penyelamatan Ribuan Pelaut yang Terjebak

Load More