-
Menteri Luar Negeri Iran menuntut penghentian perang total dan menolak opsi gencatan senjata.
-
Komunikasi dengan Amerika Serikat ditegaskan hanya pertukaran pesan dan bukan merupakan negosiasi formal.
-
Iran menjamin Selat Hormuz tetap terbuka kecuali bagi negara yang menunjukkan sikap permusuhan.
Mengenai kabar beredar tentang lima belas usulan dari pihak Amerika, Araghchi memberikan bantahan yang cukup kuat.
Ia menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada satu pun respons resmi yang dikirimkan oleh pihak Teheran.
Iran juga mengklaim belum mengajukan syarat-syarat khusus atau usulan tandingan dalam merespons pesan dari pihak Washington tersebut.
Belum ada konsensus atau keputusan politik yang diambil terkait kemungkinan duduk bersama dalam sebuah meja perundingan resmi.
Araghchi secara khusus menyinggung gaya komunikasi pemimpin Amerika Serikat dalam menghadapi situasi sensitif di Timur Tengah saat ini.
"Rakyat Iran tidak bisa diancam," tegas Araghchi saat memberikan pernyataan mengenai tekanan diplomatik yang mereka hadapi dari luar.
Ia juga menyampaikan pesan terbuka agar Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menggunakan pendekatan komunikasi yang jauh lebih sopan.
"Minta Presiden AS Donald Trump untuk berbicara dengan hormat," ucapnya sebagai peringatan terhadap retorika yang berkembang saat ini.
Sektor keamanan maritim juga menjadi sorotan utama dalam pernyataan resmi kementerian luar negeri Iran tersebut kepada publik.
Baca Juga: Tak Dipindah, Presiden FIFA Sebut Iran Tetap Berlaga di Amerika Serikat pada Piala Dunia 2026
Araghchi memastikan bahwa jalur perdagangan internasional di Selat Hormuz masih beroperasi secara normal bagi dunia internasional secara luas.
Akses pelayaran di wilayah perairan strategis tersebut hanya akan dibatasi bagi entitas yang menunjukkan sikap permusuhan terhadap Iran.
"Selat Hormuz sepenuhnya tetap terbuka dan hanya dibatasi bagi pihak-pihak yang melakukan permusuhan terhadap Iran," tegasnya kembali.
Pemerintah Iran telah menetapkan serangkaian prosedur untuk memastikan keselamatan kapal-kapal yang berasal dari negara-negara sahabat mereka.
Langkah ini diambil demi menjaga stabilitas ekonomi dan arus logistik di salah satu jalur minyak terpenting di dunia.
Kebijakan ini sekaligus menjadi pesan bahwa Iran memiliki kendali penuh atas wilayah kedaulatan maritim yang mereka miliki saat ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Habib Rizieq Syihab: Umat Islam Sunni dan Syiah Harus Bersatu Lawan AS-Israel
-
Kepulangan Jenazah Praka Farizal dari Lebanon ke Kulon Progo Diestimasikan Tiba Jumat Lusa
-
Update Tarif Listrik per kWh April 2026, Apakah Ada Kenaikan Harga?
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
Terkini
-
3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Minta Investigasi Menyeluruh: Jangan Terburu-Buru Tarik Pasukan
-
Habib Rizieq Shihab: Umat Islam Sunni dan Syiah Harus Bersatu Lawan AS-Israel
-
Geger Kasus Amsal Sitepu, DPR akan Panggil Kajari Karo, Singgung Ada Perlawanan dari APH Kotor
-
'Hilal' Perang Iran Berakhir Sudah Terlihat
-
Indonesia Mengutuk Keras UU Hukuman Mati bagi Tahanan Palestina oleh Israel
-
Amsal Divonis Bebas, Kajari dan Kasipidsus Karo Langsung Diperiksa Kajati
-
7 Fakta Mengerikan Mutilasi Karyawan Ayam Geprek di Bekasi: Potongan Tubuh Ditemukan di Bogor
-
Amsal Sitepu Akhirnya Bebas, DPR: Hakim Gali Rasa Keadilan Masyarakat Terhadap Kerja Kreatif
-
Amsal Sitepu Akhirnya Divonis Bebas, DPR Ingatkan Kejaksaan: Jangan Mudah Mengkriminalisasi
-
Kunjungan Perdana ke Korea, Prabowo Tekankan Kemitraan Strategis Indonesia-Korsel