-
Donald Trump kecewa berat pada Israel karena menyerang pabrik air sipil milik Iran.
-
Presiden AS berencana menarik seluruh pasukan militer dari Iran dalam waktu tiga minggu.
-
Trump mengeklaim misi nuklir selesai dan rezim Iran telah berganti menjadi lebih moderat.
Suara.com - Ketegangan diplomatik antara Washington dan Tel Aviv mendadak memanas dipicu oleh tindakan militer sepihak Israel.
Laporan terbaru dari Axios mengungkapkan kekecewaan mendalam Presiden AS Donald Trump terhadap keputusan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Fokus kemarahan tersebut tertuju pada operasi militer Israel yang menghancurkan infrastruktur sipil vital di wilayah Iran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi bahwa fasilitas pengolahan air di Pulau Qeshn menjadi sasaran bom.
Trump menilai serangan terhadap sarana desalinasi tersebut telah melampaui batas kewajaran dalam strategi peperangan yang sedang berlangsung.
Seorang pejabat tinggi Amerika Serikat membeberkan bahwa Trump menginginkan adanya keseimbangan aksi reaksi yang lebih terukur.
"Dia ingin memastikan bahwa segala sesuatunya proporsional dalam perang ini. Itulah mengapa dia (Trump) marah ketika Bibi (Netanyahu) menyerang pabrik desalinasi di Iran beberapa minggu yang lalu," kata pejabat itu seperti dikutip oleh Axios.
Insiden ini bermula sejak operasi gabungan skala besar dilancarkan pada tanggal 28 Februari yang lalu.
Kala itu, jet tempur Amerika dan Israel membombardir berbagai titik strategis termasuk pusat kota Teheran secara masif.
Baca Juga: Baru Mendarat, Pasukan Elit Amerika untuk Serang Iran Mau Ditarik Lagi
Gempuran tersebut mengakibatkan kerusakan bangunan yang parah serta merenggut nyawa penduduk sipil yang tidak berdosa.
Pihak Teheran tidak tinggal diam dan segera melakukan aksi balasan terhadap posisi militer lawan di kawasan.
Drone dan rudal Iran mulai menyasar wilayah kedaulatan Israel serta pangkalan militer milik Amerika Serikat.
Awalnya, alasan serangan "pencegahan" ini diklaim demi menghambat ambisi nuklir yang dikembangkan oleh pihak pemerintah Iran.
Namun, narasi tersebut bergeser dengan cepat menjadi upaya sistematis untuk meruntuhkan kekuasaan politik di negara tersebut.
Data dari pemerintah Iran menunjukkan angka kematian telah menembus 1.340 jiwa akibat rentetan serangan udara tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
KPK Cecar Legal Lippo Cikarang Soal Pembelian Rumah Bupati Bekasi Nonaktif Ade Kuswara
-
KPK Sebut Bos Maktour dan Eks Dirjen Haji Berpotensi Jadi Tersangka Kasus Korupsi Kuota Haji
-
Populasi Dunia Tembus 8,2 Miliar, Studi Sebut Bumi Sudah Kelebihan Beban
-
Panas! Iran Tolak Gencatan Senjata Perang
-
BBM Batal Naik per 1 April 2026, Antrean SPBU Kembali Normal
-
China dan Pakistan Gabung Perang Timur Tengah! Beijing Masih Tahan Diri Kirim Bantuan ke Iran
-
Skandal Cukai Rokok, KPK Periksa Pengusaha Liem Eng Hwie Terkait Dugaan Suap di Bea Cukai
-
Baru Mendarat, Pasukan Elit Amerika untuk Serang Iran Mau Ditarik Lagi
-
Jurus Pramono Cegah ASN Jakarta 'Keluyuran' Saat WFH Jumat, Ini yang Bakal Dilakukan
-
Serbuan Perantau Pasca Lebaran: Jakarta Masih Jadi Ladang Emas atau Jebakan Kemiskinan?