-
Presiden Iran menegaskan negaranya tidak pernah memulai perang meskipun menghadapi agresi Amerika Serikat.
-
Pezeshkian mengkritik sanksi ekonomi dan intervensi militer AS yang merugikan kesejahteraan rakyat sipil.
-
Pemimpin Iran mengajak warga dunia mengutamakan jalur diplomasi daripada konfrontasi militer yang merusak.
Suara.com - Presiden Iran Masoud Pezeshkian baru-baru ini mengirimkan pesan mendalam yang ditujukan kepada masyarakat Amerika Serikat.
Melalui platform media sosial X, pemimpin Teheran tersebut menguraikan posisi negaranya dalam konstelasi politik global saat ini.
Pezeshkian menekankan bahwa sebagai salah satu peradaban tertua, Iran tidak memiliki catatan memulai konflik bersenjata modern.
Negara ini secara konsisten menghindari praktik kolonialisme maupun upaya dominasi terhadap bangsa-bangsa di wilayah sekitarnya.
Meskipun memiliki kekuatan pertahanan yang mumpuni, Iran tetap memegang prinsip non-agresi terhadap semua negara tetangganya.
Prinsip Damai dan Penolakan Agresi
"Dan meskipun memiliki keunggulan militer atas banyak negara tetangganya, Iran tidak pernah memulai perang. Namun, Iran dengan tegas dan berani telah menolak mereka yang menyerangnya," tulis Pezeshkian dalam unggahan di X pada Rabu (1/4).
Pernyataan ini menegaskan bahwa sikap defensif Iran adalah bentuk perlindungan diri yang sah menurut hukum internasional.
Beliau menjelaskan bahwa rakyat Iran tidak menyimpan kebencian terhadap warga Amerika, Eropa, maupun masyarakat di jazirah Arab.
Baca Juga: Krisis Selat Hormuz Makin Panas, Uni Emirat Arab Desak PBB Gunakan Kekuatan Militer Hadapi Blokade
Sangat penting untuk memahami perbedaan mendasar antara sikap politik pemerintah sebuah negara dengan aspirasi rakyatnya sendiri.
Pezeshkian meyakini bahwa label "ancaman" yang disematkan pada Iran adalah sebuah narasi palsu yang dipaksakan pihak tertentu.
Rekayasa Ancaman Demi Kepentingan Ekonomi
"Ini adalah prinsip yang mengakar kuat dalam budaya dan kesadaran kolektif Iran, bukan sikap politik sementara. Oleh karena itu, menggambarkan Iran sebagai ancaman tidak sesuai dengan realitas sejarah maupun fakta yang dapat diamati saat ini," tulis Pezeshkian.
Label negatif tersebut dianggap sebagai alat politik untuk melegalkan tekanan ekonomi serta mempertahankan kontrol militer di wilayah strategis.
Ia menyoroti bagaimana Amerika Serikat membangun banyak basis militer di sekeliling wilayah Iran tanpa alasan yang mendasar.
Keberadaan pasukan asing di perbatasan Iran justru menjadi pemicu instabilitas yang nyata bagi keamanan kawasan Timur Tengah.
Presiden Iran tersebut mempertanyakan alasan logis di balik pengepungan militer terhadap negara yang tidak pernah menyerang AS.
Respon Terukur Terhadap Provokasi Militer
"Dalam lingkungan seperti itu, jika ancaman tidak ada, maka ancaman itu diciptakan. Dalam kerangka kerja yang sama, Amerika Serikat telah memusatkan sebagian besar pasukan, pangkalan, dan kemampuan militernya di sekitar Iran, sebuah negara yang, setidaknya sejak berdirinya Amerika Serikat, belum pernah memulai perang," tulis sang Presiden.
Baginya, langkah militer yang diambil Iran selama ini hanyalah reaksi spontan untuk menjaga kedaulatan tanah air mereka.
Pezeshkian mengingatkan kembali bahwa pada awalnya hubungan antara Teheran dan Washington tidak didasari oleh semangat permusuhan.
Keretakan hubungan kedua negara mulai terjadi sejak peristiwa kudeta tahun 1953 yang didalangi oleh pihak intelijen asing.
Intervensi ilegal tersebut bertujuan untuk menguasai sumber daya alam Iran dan menghancurkan proses demokrasi yang sedang tumbuh.
Sejarah Panjang Ketidakpercayaan Rakyat Iran
"Apa yang telah dilakukan Iran, dan terus dilakukan, adalah respons terukur yang didasarkan pada pembelaan diri yang sah, dan sama sekali bukan inisiasi perang atau agresi," tulisnya.
"Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat pada awalnya tidak bermusuhan, dan interaksi awal antara rakyat Iran dan Amerika tidak diwarnai dengan permusuhan atau ketegangan," imbuhnya.
Dukungan AS terhadap rezim otoriter di masa lalu menjadi luka sejarah yang sulit disembuhkan oleh rakyat Iran.
Kebijakan sanksi ekonomi yang paling lama dalam sejarah modern juga menjadi bukti nyata penindasan terhadap kesejahteraan warga sipil.
Namun, Pezeshkian mengeklaim bahwa segala tekanan internasional tersebut justru membuat Iran semakin mandiri dalam berbagai sektor vital.
Ketangguhan Infrastruktur di Tengah Sanksi
"Ketidakpercayaan ini semakin dalam dengan dukungan Amerika terhadap rezim Shah, dukungannya terhadap Saddam Hussein selama perang yang dipaksakan pada tahun 1980-an, pemberlakuan sanksi terpanjang dan terlengkap dalam sejarah modern, dan akhirnya, agresi militer tanpa provokasi, yang diluncurkan dua kali di tengah negosiasi terhadap Iran," tulis Pezeshkian.
Kemajuan dalam bidang teknologi, kesehatan, dan pendidikan menjadi bukti bahwa Iran tidak bisa ditundukkan hanya dengan isolasi.
Meskipun demikian, dampak buruk sanksi terhadap kehidupan masyarakat kelas bawah tetap menjadi perhatian serius bagi pemerintah Iran.
Pembatasan akses terhadap obat-obatan kanker dan kebutuhan dasar lainnya merupakan tindakan yang dianggap tidak memiliki nilai kemanusiaan.
Pezeshkian mempertanyakan apakah tindakan penghancuran fasilitas publik ini benar-benar mewakili kepentingan rakyat Amerika Serikat di mata dunia.
Kritik Terhadap Kebingungan Strategis Washington
"Ini adalah realitas yang terukur dan dapat diamati, yang berdiri sendiri terlepas dari narasi yang dibuat-buat," ucapnya.
"Ini mencerminkan kebenaran mendasar manusia: ketika perang menimbulkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada kehidupan, rumah, kota, dan masa depan, orang-orang tidak akan tetap acuh tak acuh terhadap mereka yang bertanggung jawab," ujarnya.
"Ini menimbulkan pertanyaan mendasar: Kepentingan rakyat Amerika mana yang sebenarnya dilayani oleh perang ini? Apakah ada ancaman objektif dari Iran untuk membenarkan perilaku tersebut? Apakah pembantaian anak-anak yang tidak bersalah, penghancuran fasilitas farmasi pengobatan kanker, atau membual tentang membom sebuah negara agar 'kembali ke zaman batu' memiliki tujuan lain selain semakin merusak kedudukan global Amerika Serikat?" lanjut Pezeshkian.
Beliau juga menyinggung tentang komitmen Iran dalam berbagai meja negosiasi internasional yang seringkali dikhianati secara sepihak.
Penarikan diri AS dari perjanjian nuklir dipandang sebagai langkah mundur yang memicu eskalasi ketegangan di seluruh dunia.
Pengaruh Rezim Luar Terhadap Kebijakan
Serangan terhadap fasilitas energi dan industri Iran disebutnya sebagai kejahatan perang karena menargetkan mata pencaharian warga sipil.
Tindakan semacam itu dianggap bukan sebagai bentuk kekuatan, melainkan cerminan dari ketidakmampuan diplomasi dalam mencari solusi damai.
Pezeshkian menduga bahwa pemerintah Amerika Serikat saat ini sedang berada di bawah pengaruh kuat kepentingan rezim lain.
Isu "America First" dipertanyakan relevansinya ketika Washington justru terseret dalam konflik yang hanya menguntungkan pihak luar tertentu.
Ia mengajak masyarakat dunia untuk melihat fakta sejarah dengan objektif dan memilih jalan dialog daripada konfrontasi berdarah.
Masa Depan Iran di Persimpangan Jalan
"Mereka menciptakan ketidakstabilan, meningkatkan biaya manusia dan ekonomi, dan melanggengkan siklus ketegangan, yang menanam benih kebencian yang akan bertahan selama bertahun-tahun. Ini bukanlah demonstrasi kekuatan; ini adalah tanda kebingungan strategis dan ketidakmampuan untuk mencapai solusi yang berkelanjutan," tukasnya.
Dunia saat ini sedang berada pada titik krusial di mana keputusan pemimpin akan menentukan nasib generasi mendatang.
Konfrontasi militer dianggap sebagai langkah sia-sia yang hanya akan menambah beban ekonomi dan penderitaan bagi semua pihak.
Pezeshkian menutup pesannya dengan keyakinan bahwa Iran akan tetap berdiri tegak melewati berbagai badai agresi dari luar.
Sejarah telah membuktikan bahwa peradaban Iran mampu bertahan jauh lebih lama dibandingkan para agresor yang pernah datang.
Ketahanan Peradaban Iran yang Panjang
"Saat ini, dunia berada di persimpangan jalan. Melanjutkan jalan konfrontasi lebih mahal dan sia-sia daripada sebelumnya. Pilihan antara konfrontasi dan keterlibatan adalah nyata dan penting; hasilnya akan membentuk masa depan bagi generasi mendatang," ucapnya.
"Sepanjang ribuan tahun sejarahnya yang membanggakan, Iran telah bertahan lebih lama daripada banyak agresor. Yang tersisa dari mereka hanyalah nama-nama yang ternoda dalam sejarah, sementara Iran tetap bertahan, tangguh, bermartabat, dan berbangga," tutupnya.
Iran tetap berkomitmen pada jalur kedaulatan sambil membuka ruang diskusi bagi siapapun yang menghargai kesetaraan antar bangsa.
Pesan ini diharapkan mampu membuka mata publik internasional mengenai duduk perkara yang sebenarnya terjadi di kawasan tersebut.
Keseimbangan kekuasaan dunia di masa depan sangat bergantung pada keberanian untuk menghentikan siklus permusuhan yang tidak perlu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- Harga Adidas Adizero Termurah Tipe Apa Saja? Ini 5 Varian Terbaiknya
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Eks Wakapolri Kritik Durasi Pendidikan Polri Hanya 5 Bulan: Masak Polisi Cuma Bisa Hormat dan Baris?
-
Bakal Gempur Iran hingga 3 Pekan ke Depan, Trump: Kami Akan Membawa Mereka Kembali ke Zaman Batu
-
Zebra Cross Pac-Man: Kreativitas Warga atau Alarm Pemerintah yang Absen?
-
Amsal Sitepu Tiba di DPR Usai Vonis Bebas: Dukung Saya Terus, Kita Kawal Sampai Selesai
-
Hanya Dirinya yang Diundang Halalbihalal PAN, Dasco: Dukungan Mereka Tak Sekadar Retorika
-
Wakalemdiklat Polri Ungkap Data Peserta Didik Bermasalah 2025: Narkoba, Joki, hingga Kasus Kematian
-
Kesaksian Karyawan SPBE Cimuning: Sebelum Kebakaran, Gas Bocor Sejak Sore
-
KPK Sita Uang Ratusan Juta dari Rumah Ono Surono Terkait Kasus Suap Ijon Proyek Bekasi
-
Datangi Gedung DPR Usai Divonis Bebas, Amsal Sitepu: Sangat Senang, Tak Bisa Bekata-kata!
-
Puan Maharani: WFH ASN Jangan Sampai Melambatkan Pelayanan kepada Rakyat