- Militer Amerika Serikat menyerang dan menghancurkan jembatan utama di Karaj, Iran, melalui operasi udara pada 2 April 2026.
- Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengecam serangan tersebut sebagai tindakan tidak bermoral yang merusak reputasi Amerika Serikat.
- Serangan ini memicu eskalasi konflik berkelanjutan pasca pembunuhan Ali Khamenei, yang dibalas Iran dengan peluncuran rudal serta drone.
Suara.com - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, memberikan pernyataan tegas terkait eskalasi konflik yang melibatkan serangan Amerika Serikat terhadap infrastruktur sipil di wilayahnya.
Araqchi menilai bahwa penargetan fasilitas publik, termasuk jembatan di Karaj, merupakan cerminan dari kekalahan serta runtuhnya nilai-nilai moral Washington di mata dunia.
Ia menekankan bahwa agresi militer tersebut tidak akan mematahkan semangat perlawanan rakyat Iran.
Melalui unggahan di akun media sosial X miliknya pada Kamis (2/4/2026), Araqchi menyoroti serangan udara yang dilancarkan militer Amerika Serikat pada 2 April 2026.
Serangan tersebut secara spesifik menyasar jembatan utama di wilayah Karaj yang merupakan jalur logistik penting.
Menurut Araqchi, meskipun kerusakan fisik dapat diperbaiki oleh Iran, dampak negatif terhadap reputasi global Amerika Serikat bersifat permanen.
“Menyerang struktur sipil, termasuk jembatan yang belum selesai, tidak akan memaksa rakyat Iran untuk menyerah,” kata menteri luar negeri tersebut dalam pernyataannya.
Lebih lanjut, Abbas Araqchi menegaskan bahwa tindakan Amerika Serikat tersebut justru menunjukkan kondisi internal musuh yang sedang mengalami kekacauan hebat.
Ia meyakini bahwa Iran memiliki kemampuan untuk memulihkan kembali seluruh infrastruktur yang hancur dengan kualitas yang lebih baik dari sebelumnya.
Baca Juga: Klaim Trump Terbantahkan, Intelijen AS Ungkap Iran Masih Simpan 50 Persen Rudal dan Ribuan Drone
“Hal itu hanya menunjukkan kekalahan dan kehancuran moral dari musuh yang sedang kacau. Setiap jembatan dan bangunan akan dibangun kembali dengan lebih kuat. Yang tidak akan pernah pulih adalah kerusakan terhadap posisi Amerika,” lanjut Araqchi.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengklaim tanggung jawab atas operasi penghancuran jembatan terbesar di Iran tersebut.
Pernyataan ini muncul hanya berselang satu hari setelah Trump mengeluarkan ancaman keras untuk membombardir Iran hingga kondisi negara tersebut kembali seperti pada "zaman batu".
Sebagai bukti atas serangan tersebut, Trump membagikan rekaman video yang memperlihatkan detik-detik dramatis runtuhnya sebagian struktur jembatan gantung B1.
Jembatan setinggi 136 meter tersebut merupakan proyek infrastruktur prestisius Iran yang menghubungkan Teheran dan Karaj dengan nilai investasi mencapai 400 juta dolar Amerika Serikat.
Dalam rekaman tersebut, terlihat kepulan asap hitam membumbung tinggi saat material jembatan jatuh menimpa jalanan di bawahnya.
Berita Terkait
-
Klaim Trump Terbantahkan, Intelijen AS Ungkap Iran Masih Simpan 50 Persen Rudal dan Ribuan Drone
-
Rudal Ghadr Hantam Kapal Induk AS, Balas Dendam Iran Atas Gugurnya Khamenei Benar-Benar Pecah
-
Detik-Detik Rudal Iran Meledak di Pemukiman Israel: Pertahanan Jebol, Serangan Masif
-
Radar THAAD Senilai Rp2 Triliun Hancur Total Diserang Iran Bikin Hubungan AS dan NATO Kini Memanas
-
Iran Tembak Jatuh Jet F-35 Milik Amerika Serikat di Wilayah Teheran Hari Ini
Terpopuler
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
- 5 Kipas Angin Sedingin AC Lebih Murah dan Irit Listrik
- Ramalan 12 Shio Bulan di Juli 2026: Peruntungan Karier, Keuangan, Asmara, dan Kesehatan
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Teror Bom Molotov! Rumah Advokat di Ciracas Diserang Dua Pria Misterius
-
Bagaimana Satelit Membantu Ilmuwan Melindungi Sungai dari Pencemaran dan Perubahan Iklim?
-
Iran Kesal dengan Aktivis HAM Dunia, Lihat Kelakuan Israel Cuma Diam
-
Per 5 Juli 2026, Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 2.954 Orang
-
Sempat Hilang! Bripda Nopandri Ditemukan Tewas di Sungai Katingan Usai Gerebek Bandar Narkoba
-
Dasco Ucapkan Ultah ke Nadiem Makarim, Netizen: Kode Keras Amnesti atau Abolisi?
-
Program 'Speling' Jateng di Banyumas, Wagub Taj Yasin Dekatkan Dokter Spesialis ke Tingkat Kecamatan
-
Rencana Kemasan Rokok Polos Tuai Protes, Dinilai Rugikan Petani dan Industri Tembakau
-
Roy Suryo Ajukan Praperadilan Lagi, Padahal Putusan Gugatan Pertama Tinggal Hitungan Hari
-
OTT Diduga Bocor di Kasus Bupati Kuansing dan Langkat, KPK Bakal Evaluasi