News / Nasional
Senin, 06 April 2026 | 13:27 WIB
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus. (Suara.com/Lilis Varwati)
Baca 10 detik
  • Wamenkes Benjamin mengungkap terdapat 1,09 juta kasus TB di Indonesia dengan 300 ribu kasus belum terdeteksi hingga 2026.
  • Pemerintah akan melakukan skrining massal sepanjang tahun 2026 sebagai langkah konkret menemukan dan menangani pasien TB yang belum terdata.
  • Kemenkes mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperbaiki kondisi hunian serta lingkungan guna mencegah penyebaran TB secara lebih efektif.

Suara.com - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus mengungkapkan jumlah kasus Tuberkulosis di Indonesia masih tergolong tinggi. Berdasarkan data terbaru, total kasus TB di Tanah Air diperkirakan mencapai lebih dari satu juta.

Kasus TB di Indonesia masih cukup tinggi bahkan secara jumlah kasus diperkirakan ada 1.090.000 kasus TB di Indonesia dan yang diobati tahun lalu 867.000 kasus, jadi masih ada hampir 300.000 kasus yang belum ditemukan,” kata Benjamin dalam Konferensi Pers Hari TB Sedunia 2026 di kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Senin (6/4/2026).

Dari total 1,09 juta kasus, sekitar 867 ribu pasien telah mendapatkan pengobatan. Namun, masih terdapat hampir 300 ribu kasus yang belum terdeteksi.

Menurut Benjamin, kondisi ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan, dalam upaya menekan penyebaran TB di Indonesia.

Ia menegaskan bahwa upaya pemberantasan TB tidak bisa hanya dilakukan oleh Kemenkes saja, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

“Saya ingin menjelaskan bahwa pada hari ini pemberantasan TB itu lintas sektoral Kemenkes di depan bersama Kemendagri tidak cukup. Harus dibagi kementerian PKP, Kemenaker, Kemensos, Kementerian Pangan, dan Kementerian lingkungan hidup ini saling berkaitan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kerja sama antar kementerian menjadi penting karena faktor penyebab dan penyebaran TB juga berkaitan dengan kondisi sosial dan lingkungan masyarakat.

Sebagai langkah konkret, Kemenkes bersama Kementerian Dalam Negeri akan melakukan skrining secara masif sepanjang tahun 2026.

Upaya ini diharapkan mampu menemukan kasus-kasus yang selama ini belum terdeteksi, sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan efektif.

Baca Juga: Legislator PDIP Minta Dalang Penyiraman Andrie Yunus Diungkap, Jangan Hanya Pelaku Lapangan

Benjamin mengungkapkan bahwa TB banyak menyerang kelompok masyarakat pada desil 1 hingga 4 atau kelompok ekonomi terbawah.

Karena itu, penanganan tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga harus menyasar kondisi sosial seperti hunian dan lingkungan.

“Kuman TB itu kalau di udara kena sinar matahari itu 15-30 menit mati kumannya. Tapi kalau di rumah yang tidak ada ventilasi tidak bagus, kuman TBC bisa tahan berbulan-bulan. Maka pemberantasan tidak hanya menemukan kasusnya tapi rumah yang tidak layak itu harus mendapatkan perhatian yang layak,” ucap dia.

Ia menekankan pentingnya kondisi rumah yang sehat, terutama ventilasi dan akses sinar matahari, dalam mencegah penyebaran TB.

Dengan demikian, upaya eliminasi TB tidak hanya soal pengobatan pasien, tetapi juga menyangkut perbaikan kualitas tempat tinggal dan lingkungan masyarakat.

Load More