News / Nasional
Senin, 06 April 2026 | 19:41 WIB
DPR RI, DPD RI hingga MPR RI lintas fraksi mendeklarasikan Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Dunia di Kompleks Parlemen, Senayan, pada Senin sore (6/4/2026). [Suara.com/Bagaskara Isdiansyah]
Baca 10 detik
  • Anggota DPR, DPD, dan MPR RI mendeklarasikan Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Dunia di Senayan pada 6 April 2026.
  • Pembentukan kaukus dipicu eskalasi konflik global yang berdampak langsung pada gugurnya prajurit TNI di misi UNIFIL Lebanon.
  • Kaukus akan menempuh jalur institusional dan diplomasi internasional guna mendorong pemerintah segera mengambil langkah konkret menghentikan perang global.

Suara.com - Menanggapi situasi geopolitik dunia yang semakin kritis serta jatuhnya korban dari prajurit TNI di Lebanon, sejumlah anggota DPR RI, DPD RI, hingga MPR RI lintas fraksi resmi membentuk Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Dunia (World Peace Parliamentary Caucus atau WPPC).

Deklarasi ini digelar di Kompleks Parlemen, Senayan, pada Senin sore (6/4/2026).

Inisiator kaukus, Ahmad Doli Kurnia Tanjung (Fraksi Partai Golkar), menyatakan bahwa gerakan ini lahir dari kepedulian moral dan politik parlemen Indonesia untuk menjaga perdamaian abadi sesuai amanat Pembukaan UUD 1945.

Hingga saat ini, tercatat sekitar 30 anggota parlemen dari berbagai latar belakang partai telah bergabung.

“Kaukus ini sebetulnya kita inisiasi sebagai bentuk kepedulian dan gerakan moral, ya, dan mungkin juga sebagai gerakan politik Parlemen Indonesia untuk tetap menjaga perdamaian dunia,” ujar Doli.

Doli didampingi oleh sejumlah tokoh parlemen lainnya, di antaranya Muhammad Nuh (DPD RI), Saleh Daulay (Fraksi PAN), Mardani Ali Sera (Fraksi PKS), Sofyan Dedi (Fraksi PDI Perjuangan), Eva Monalisa (Fraksi PKB), dan Ahmad Irawan (Fraksi Partai Golkar).

Pembentukan kaukus ini dipicu oleh eskalasi perang yang terus meluas, mulai dari konflik Rusia–Ukraina pada 2022, invasi Israel ke Palestina pada 2023, hingga ketegangan terbuka antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran.

Doli menekankan bahwa dampak perang tersebut kini telah dirasakan langsung oleh masyarakat Indonesia, baik secara ekonomi maupun fisik.

“Bahkan secara fisik kita sudah kena langsung. Ada tiga warga negara Indonesia yang tergabung dalam prajurit TNI itu gugur saat menjalankan misi UNIFIL di Lebanon. Nah, tentu ini tidak boleh kita biarkan, tidak boleh kita berdiam diri,” tegasnya.

Baca Juga: Kepala BGN Sambangi Banggar DPR, Said Abdullah Sebut Ada Penajaman Prioritas Anggaran Rp20 Triliun

Ke depan, WPPC berencana melakukan langkah institusional dengan melapor kepada pimpinan DPR, DPD, dan MPR RI agar gerakan ini menjadi sikap resmi parlemen.

Selain itu, kaukus ini juga menjadwalkan kunjungan ke berbagai kedutaan besar negara-negara yang terlibat konflik, termasuk Amerika Serikat dan Iran, untuk menyuarakan penghentian perang.

“Supaya ini menjadi gerakan institusional secara resmi dan kemudian memberikan dukungan kepada pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah-langkah yang lebih serius, lebih tegas untuk mengakhiri perang dan menciptakan perdamaian dunia,” lanjutnya.

Dalam deklarasi resminya, WPPC menyatakan 10 poin pernyataan sikap, di antaranya mengecam keras agresi militer, mendesak gencatan senjata total tanpa syarat di seluruh wilayah konflik, serta mengutuk serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL).

“Deklarasi ini merupakan komitmen moral dan politik Parlemen Indonesia untuk berdiri di garis depan perjuangan perdamaian dunia serta penghormatan atas pengorbanan prajurit TNI yang gugur dalam tugas mulia menjaga perdamaian,” pungkas Doli saat membacakan naskah deklarasi.

Load More