- Entin merintis usaha warung Madura 24 jam di Tebet, Jakarta Selatan, sejak empat tahun lalu bersama keluarganya.
- Warung ini beroperasi sepanjang waktu untuk memenuhi kebutuhan warga sekaligus memberikan pelayanan bagi pelanggan saat malam hari.
- Hasil pendapatan harian mencapai satu hingga dua juta rupiah untuk biaya hidup serta pendidikan anak-anak mereka.
“Biar lelahnya hilang,” kata Entin menirukan prinsip suami.
Fase di Tengah Malam: Antara Asap Rokok dan Dingin Embun
Di atas jam sepuluh malam, warung ini berubah fungsi. Ia bukan lagi sekadar tempat jual beli, melainkan sebuah pos singgah bagi jiwa-jiwa malam yang melelahkan.
Denyut kehidupan justru terasa paling kencang pada pukul 22.00 hingga 01.00 dini hari, dan kembali memuncak pada pukul 04.00 saat para pekerja shift pagi mulai menggerakkan roda Jakarta.
Di jam-jam inilah, omzet warung justru sering kali melebihi pendapatan di siang hari.
"Saingannya sedikit. Minimarket sudah banyak yang tutup atau lokasinya jauh, jadi larinya ke kita. Kotornya per hari bisa dapat 1 sampai 2 juta rupiah, tapi itu kan harus diputar lagi buat beli barang," ujarnya.
Pelanggannya beragam, mulai dari anak-anak muda yang baru pulang nongkrong, bapak-bapak yang sedang ronda, hingga para pengemudi ojek online (ojol) dengan mata merah menahan lelah.
Salah satu wajah yang paling akrab adalah seorang pengemudi ojol, Agus. Di keheningan pukul tiga pagi, Agus kerap memarkir motornya di depan warung. Tujuannya bukan sekadar membeli korek api atau menyeduh kopi, melainkan mencari kehangatan interaksi.
Duduk di depan etalase, menghisap rokok, dan lima menit berbincang bersama suami Entin sudah cukup bagi Agus untuk mengusir kantuk sebelum kembali menembus jalanan ibu kota.
Misteri dari Balik Etalase dan Ketakutan
Menjaga warung 24 jam bukan hanya soal menguji daya tahan fisik, tetapi juga mental. Sesekali, warung ini menjadi saksi pertemuan antara dunia manusia dan “mereka” yang tak kasat mata.
Baca Juga: Persib Bandung Menjauh dari Persija, Bojan Hodak Fokus Amankan Sisa Laga
Suatu malam, sekitar pukul 02.00 dini hari, ketenangan dipecahkan oleh suara yang sangat pelan.
"Beli, Pak..." suara itu menyapa.
Namun, saat suami Entin bergegas ke depan etalase untuk melayani, jalanan kosong melompong. Hanya ada hembusan angin malam.
Di hari lain, saat Entin sedang menemani suaminya berjaga, sebuah botol minum di atas meja tiba-tiba bergeser dengan sendirinya, jelas di depan mata kepalanya sendiri.
"Reaksi saya awalnya merinding," akuinya.
Namun, darah perantau yang gigih membuatnya tidak mudah menyerah pada rasa takut.
“Saya langsung bilang dalam hati, 'Saya cari nafkah di sini, jangan diganggu. Kita sama-sama makhluk Tuhan.' Setelah itu suasana kembali tenang,” ungkapnya.
Namun, di balik kisah-kisah mistis yang membuat bulu kuduk berdiri, Entin menyimpan ketakutan yang jauh lebih nyata.
"Sebenarnya yang paling seram itu orang jahat, Mbak. Kayak begal di malam hari. Saya lebih takut sama manusia yang jahat dibandingkan setan-setan," ungkapnya.
Beruntung, lingkungan di daerah Tebet tempatnya berniaga terbilang aman. Hubungan baik yang ia jalin dengan para pemuda dan warga setempat membuat warung itu seolah memiliki “pelindung” dari tindak kejahatan.
Sebuah Harapan di Ujung Fajar
Di dalam warung, tumpukan mi instan dan rentengan kopi masih menunggu setia pembeli berikutnya. Uang ribuan dan puluhan ribu yang lecek kembali berpindah tangan.
Di balik putaran uang receh dan mata yang kurang tidur, Entin dan suami memelihara asa yang tak diukur nilainya. Harapannya tidak muluk-muluk: ia ingin warungnya terus bertahan dan suatu hari mampu membuka cabang di tempat lain.
Namun, doa terbesarnya selalu bermuara pada anak-anaknya.
“Saya pengen anak saya sekolah tinggi. Biar kelak dia tidak perlu menjaga warung sampai pagi kayak orang tuanya,” ungkapnya.
Bagi Entin dan suaminya, biarlah mereka yang menanggung beratnya malam. Biarlah suaminya terus berteman dengan asap rokok, dinginnya embun, dan cerita-cerita dari balik etalase.
Semua itu mereka jalani dengan ikhlas, demi memastikan anak-anak kelak bisa menyambut masa depan di bawah sinar matahari yang paling cerah.
Di warung Madura 24 jam ini, di sudut jalanan Tebet yang tak pernah lelap, cinta orang tua kepada anaknya dibayar tunai dengan terjaga sepanjang malam.
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
-
Persib Bandung Menjauh dari Persija, Bojan Hodak Fokus Amankan Sisa Laga
-
Obrak-abrik Persija, Pelatih Bhayangkara FC Angkat Topi untuk Moussa Sidibe dan Dendy Sulistyawan
-
Rahasia Frengky Missa Bikin Bintang Persija Allano Lima Mati Kutu
-
Harga LPG Tak Naik per April 2026, Pemerintah Jamin Stok Aman
-
Dukcapil Catat 1.776 Pendatang Baru di Jakarta Pasca Lebaran
Terpopuler
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi
- 3 Rekomendasi Air Cooler 50 Watt yang Dingin Maksimal dan Suaranya Senyap
- 3 Sepatu Running Brodo Terlaris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Durian Musang King dan Black Thorn Jadi Komoditas Baru Andalan Sulsel
Pilihan
-
Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
Terkini
-
Sita 74 Kg Emas dan Valas Rp476 Miliar, Kortas Tipidkor Polri Bongkar Brankas Rahasia di Sentul
-
Gebrakan RUU Sisdiknas: Wajib Belajar Kini 13 Tahun, Termasuk 1 Tahun di PAUD
-
Usai Cafe de'CLAN Signature, Polisi Sita 74 Kg Emas dan Ratusan Miliar Hasil TPPU di Sentul City!
-
Geledah Rumah Mewah di Sentul City Bogor, Polisi Diduga Sita Emas Hingga Mata Uang Asing
-
Rumah Mewah di Sentul City Digeledah Polisi Tengah Malam, Diduga Milik Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Meluas ke 12 Titik! Polisi Geledah Pacific Place hingga Rumah Mewah di Sentul Terkait Kasus TPPU
-
Bahaya State Capture, Pakar Ungkap Cara Militer 'Kuasai' Negara Lewat Jalur Legal
-
Jejak Densus 88 Kuntit Jampidsus di Cafe de'CLAN Signature: Kini Ditemukan Brankas Dolar Rp67 M!
-
Bareskrim Rampungkan Berkas Kasus Impor Handphone Ilegal, Tiga Tersangka Segera Disidang
-
Mengapa Pengembalian Amplop Belum Tentu Membebaskan Raja Juli Antoni dari Pidana?