News / Internasional
Selasa, 07 April 2026 | 15:16 WIB
Presiden AS Donald Trump. [X/Potus]
Baca 10 detik
  • Presiden Donald Trump mengusulkan Amerika Serikat mengambil alih pemungutan biaya lintas kapal komersial di Selat Hormuz dari Iran.
  • Langkah tersebut bertujuan menutupi biaya operasional militer Amerika Serikat yang menjaga stabilitas jalur perdagangan energi dunia.
  • Ketegangan militer di Selat Hormuz menyebabkan penghentian total lalu lintas kapal serta memicu kenaikan harga energi global.

Serangan ini memicu gelombang protes dan ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah yang berdampak langsung pada sektor logistik global.

Sebagai bentuk perlawanan, Teheran lantas melakukan serangan balasan terhadap wilayah Israel dan pangkalan militer milik Amerika yang berada di seantero Timur Tengah, termasuk di Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

Serangan balasan ini menyasar titik-titik strategis yang selama ini menjadi pusat komando militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, yang memperparah risiko keamanan bagi kapal-kapal tanker yang melintas.

Akibat ketegangan tersebut, lalu lintas perkapalan di Selat Hormuz, rute kunci untuk suplai minyak dan LPG dari kawasan Teluk ke pasar global, berhenti total.

Selat ini merupakan jalur vital yang dilewati oleh hampir sepertiga dari total perdagangan minyak mentah dunia melalui laut. Penutupan jalur ini secara otomatis memutus rantai pasok energi ke berbagai negara maju dan berkembang.

Dampaknya, banyak negara mengalami kenaikan harga bahan bakar yang signifikan dalam waktu singkat. Negara-negara pengimpor minyak di Asia dan Eropa mulai merasakan tekanan inflasi akibat terganggunya distribusi energi.

Situasi ini membuat usulan Trump mengenai pemungutan tarif lintas menjadi isu yang sangat sensitif, mengingat Selat Hormuz kini berada di bawah bayang-bayang konflik bersenjata yang belum menunjukkan tanda-tanda deeskalasi.

Load More