- Presiden Donald Trump mengusulkan Amerika Serikat mengambil alih pemungutan biaya lintas kapal komersial di Selat Hormuz dari Iran.
- Langkah tersebut bertujuan menutupi biaya operasional militer Amerika Serikat yang menjaga stabilitas jalur perdagangan energi dunia.
- Ketegangan militer di Selat Hormuz menyebabkan penghentian total lalu lintas kapal serta memicu kenaikan harga energi global.
Serangan ini memicu gelombang protes dan ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah yang berdampak langsung pada sektor logistik global.
Sebagai bentuk perlawanan, Teheran lantas melakukan serangan balasan terhadap wilayah Israel dan pangkalan militer milik Amerika yang berada di seantero Timur Tengah, termasuk di Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
Serangan balasan ini menyasar titik-titik strategis yang selama ini menjadi pusat komando militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, yang memperparah risiko keamanan bagi kapal-kapal tanker yang melintas.
Akibat ketegangan tersebut, lalu lintas perkapalan di Selat Hormuz, rute kunci untuk suplai minyak dan LPG dari kawasan Teluk ke pasar global, berhenti total.
Selat ini merupakan jalur vital yang dilewati oleh hampir sepertiga dari total perdagangan minyak mentah dunia melalui laut. Penutupan jalur ini secara otomatis memutus rantai pasok energi ke berbagai negara maju dan berkembang.
Dampaknya, banyak negara mengalami kenaikan harga bahan bakar yang signifikan dalam waktu singkat. Negara-negara pengimpor minyak di Asia dan Eropa mulai merasakan tekanan inflasi akibat terganggunya distribusi energi.
Situasi ini membuat usulan Trump mengenai pemungutan tarif lintas menjadi isu yang sangat sensitif, mengingat Selat Hormuz kini berada di bawah bayang-bayang konflik bersenjata yang belum menunjukkan tanda-tanda deeskalasi.
Berita Terkait
-
Donald Trump Terancam Jadi Penjahat Perang Jika Hancurkan Infrastruktur Sipil Iran
-
Donald Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Iran, Ahli Hukum Sebut Berpotensi Kejahatan Perang
-
Piala Dunia 2026 Jadi Mesin Uang Global: Putaran Ekonomi Tembus Rp1200 Triliun
-
Peneliti UGM Ungkap Bahaya Domino Kenaikan Harga Plastik: Dari Inflasi Hingga Ancaman PHK
-
Kisah Pilot AS Bertahan Hidup di Wilayah Musuh Saat Pesawat Tempur Meledak Akibat Rudal Iran
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Wajah Baru Bogor Barat, 6 Stasiun Kereta Siap Garap Jalur Parung Panjang - Jasinga
-
Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
-
Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?
-
Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha
-
Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?
-
Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari
-
Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan
-
Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Koalisi Sipil: Jangan Jadikan Bank Alat Membungkam Kritik