-
Amerika Serikat memberlakukan blokade total terhadap seluruh pelabuhan Iran mulai Senin siang ini.
-
Harga minyak dunia melonjak hingga delapan persen akibat ancaman penutupan akses maritim tersebut.
-
Iran mengancam akan membalas keras setiap kapal militer yang melanggar batas gencatan senjata.
Suara.com - Kegagalan perundingan damai di Islamabad memicu langkah drastis Amerika Serikat menutup seluruh akses pelabuhan Iran.
Dikutip dari dokumen resmi CENTCOM, Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM secara resmi mengumumkan pemutusan arus lalu lintas maritim tersebut.
Langkah ini diambil setelah negosiasi panjang di Pakistan berakhir buntu tanpa membuahkan kesepakatan diplomatik apa pun.
Pengetatan ini berlaku bagi semua jenis kapal dari berbagai negara yang menuju atau keluar Iran.
Blokade maritim ini dijadwalkan mulai beroperasi penuh pada Senin pukul 10.00 waktu setempat atau 14.00 GMT.
Meskipun pelabuhan Iran dikunci rapat, militer Amerika Serikat memberikan pengecualian khusus untuk wilayah Selat Hormuz.
Kapal yang melintas menuju pelabuhan non-Iran tetap diberikan izin navigasi secara bebas oleh pihak keamanan AS.
“Pasukan AS tidak akan menghalangi kebebasan navigasi bagi kapal-kapal yang transit di Selat Hormuz ke dan dari pelabuhan non-Iran,” ungkap CENTCOM.
Kebijakan ini terlihat sedikit melunak dibandingkan ancaman awal Presiden Donald Trump yang ingin menutup total selat tersebut.
Baca Juga: Nego AS-Iran Buntu! Harga Minyak Tembus US$ 104 Per Barel
Perbedaan pernyataan antara Gedung Putih dan CENTCOM menciptakan keraguan publik mengenai detail teknis di lapangan.
Reaksi pasar terhadap pengumuman blokade militer ini langsung memicu guncangan hebat pada sektor ekonomi energi dunia.
Harga minyak mentah Amerika Serikat segera meroket sebesar 8 persen hingga menyentuh angka 104,24 dolar per barel.
Minyak mentah standar internasional jenis Brent juga mengalami kenaikan 7 persen menjadi 102,29 dolar per barel.
Ketidakpastian pasokan dari kawasan Teluk menjadi alasan utama para spekulan pasar menaikkan harga secara signifikan.
“Ada banyak pertanyaan di sini,” kata Heidi Zhou-Castro dari Al Jazeera yang melaporkan langsung dari Washington, DC.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Tabur atau Bedak Padat Dulu? Panduan Makeup Flawless Tahan Lama
- 4 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Sesuai Review Pembeli
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- Aisyah Zakkiyah, Komisaris Baru PTPP yang Viral Punya Gaji dan Tunjangan Miliaran
- Bedak Tabur Apa yang Bikin Glowing dan Tahan Lama? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
-
Polri Tetapkan Febrie Adriansyah dan DR Tersangka Kasus Dugaan Korupsi serta TPPU
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
Terkini
-
Gunung Karangetang Erupsi, Lontarkan Material Bikin Langit Siau Membara
-
Tragedi Pantura Indramayu, Korban Tewas Kecelakaan Beruntun Bertambah Jadi 10 Orang
-
Pikap Warkidi Dihantam Truk di Pantura Indramayu: 3 Penumpang Tewas, Belasan Orang Luka-Luka
-
Prabowo Kritik Teori Neolib: Katanya Kakayaan Menetes ke Bawah, Kalian Percaya?
-
Ketua Umum FKDT Apresiasi Langkah Presiden Redakan Polemik Kasus Febrie Adriansyah
-
Kebakaran Maut di Pulogadung, 3 Orang Tewas Saat Tidur Lelap
-
Prabowo Kecam Pemimpin Provokator Ajak Bakar-bakar: Saya Percaya Hukum Karma
-
Amnesty Kritik Pemekaran Papua: Negara Hanya Dengar Mereka yang Setuju Saja
-
Bukan Cuma Peluru, Pengungsi Papua Terancam Putus Sekolah dan Minim Medis
-
Sebut Tanggung Jawab Wapres, Bambang Pacul Dinilai 'Main-main' dengan Isu Papua