News / Internasional
Senin, 13 April 2026 | 10:08 WIB
Mojtaba Khamenei (Tasnim News Agency)
Baca 10 detik
  • Perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat di Islamabad pada Senin (13/4/2026) berakhir tanpa mencapai kesepakatan berarti.
  • Pemerintah Iran menolak tuntutan Amerika Serikat terkait penghentian nuklir serta kendali wilayah perairan di Selat Hormuz.
  • Ketegangan meningkat karena ancaman blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat memicu respons keras dari pihak militer Iran.

Suara.com - Otoritas Iran menunjukkan sikap tegas terhadap Amerika Serikat setelah perundingan damai di Islamabad berakhir tanpa hasil.

Pemerintah Iran bahkan menyerukan para pendukungnya untuk tetap memenuhi jalanan sebagai bentuk dukungan terhadap posisi negara.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang memimpin delegasi negosiasi, menyatakan bahwa pihak AS gagal membangun kepercayaan.

“Delegasi AS pada akhirnya gagal mendapatkan kepercayaan dari delegasi Iran dalam putaran negosiasi ini,” ujarnya dilansir dari Tasnim News, Senin (13/4/2026).

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan, menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump yang memerintahkan blokade Selat Hormuz.

Trump juga menyebut militer AS siap bertindak kapan saja, mempertegas ancaman terhadap Iran.

Pemerintah Iran justru menyambut kegagalan perundingan sebagai sinyal keteguhan sikap mereka. Teheran menolak tuntutan utama Washington, termasuk penghentian pengayaan nuklir dan pelepasan kendali atas Selat Hormuz.

Kepala Kehakiman Iran, Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, memuji tim negosiasi yang dinilai telah menjaga hak-hak pendukung pemerintah.

Dalam beberapa pekan terakhir, massa pro-pemerintah terus berkumpul di berbagai kota, termasuk Teheran, sebagai bentuk solidaritas.

Baca Juga: Donald Trump Perintahkan Blokade Selat Hormuz, Iran Ancam Tindak Tegas Jika Kapal Militer Mendekat

Media pemerintah juga menuding Trump memiliki agenda politik domestik di balik perundingan tersebut.

Mereka menyebut tuntutan AS sebagai berlebihan dan menjadi penyebab utama kegagalan dialog.

Sementara itu, seorang anggota Garda Revolusi Iran (IRGC) dalam siaran televisi menyerukan kesiapan menghadapi musuh.

“Jika musuh tidak mengerti, kami akan membuat mereka mengerti,” katanya dikutip dari Al Jazeera.

Sejumlah anggota parlemen garis keras bahkan menyambut positif kegagalan negosiasi. Mereka menilai Iran berada di posisi unggul dalam konflik dan tidak perlu mengalah pada tekanan internasional.

Wakil Ketua Parlemen, Hamidreza Haji-Babaei, menegaskan bahwa satu-satunya hasil yang dapat diterima adalah resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengarah pada penyerahan AS serta pencabutan sanksi terhadap Iran.

Load More