- Mendagri Tito Karnavian menyoroti maraknya kepala daerah terjaring OTT KPK sebagai dampak sistemik mahalnya biaya politik Pilkada langsung.
- KPK resmi menahan Bupati Tulungagung Gatut Sanu Wibowo atas dugaan pemerasan dan gratifikasi pada 11 April 2026.
- Tersangka Gatut diduga menyalahgunakan jabatan dengan mewajibkan bawahan menandatangani surat pengunduran diri untuk mengendalikan bawahannya secara ilegal.
Suara.com - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian memberikan tanggapan menohok terkait maraknya fenomena kepala daerah yang terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.
Menurutnya, rentetan kasus korupsi yang menimpa pimpinan daerah dalam waktu singkat menunjukkan adanya masalah sistemik dalam mekanisme rekrutmen politik di Indonesia.
Tito memulai tanggapannya dengan melontarkan pertanyaan retoris mengenai siapa yang memberikan mandat kepada para kepala daerah tersebut.
"Jawab saya cuma satu saja, dia yang milih siapa? Sudah gitu saja, yang milih siapa? Rakyat, iya kan?" ujar Tito saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/4/2026).
Mantan Kapolri ini mempertanyakan apakah mekanisme pemilihan kepala daerah (Pilkada) langsung yang selama ini diterapkan sudah efektif dalam menghasilkan pemimpin yang berintegritas.
Ia menilai, realita di lapangan menunjukkan hasil yang beragam. Ada pemimpin yang berkualitas, namun banyak pula yang justru terjerat kasus hukum.
"Artinya apa? Apakah ini ada hubungannya dengan kaitan dengan mekanisme rekrutmen Pilkada langsung? Dan ternyata tidak menjamin ada pemimpin yang bagus. Ada pemimpin yang bagus, ada juga yang begini (terjerat korupsi)," ungkapnya.
Tito berpendapat bahwa kasus korupsi kepala daerah tidak bisa hanya dilihat sebagai kasus per kasus (insidental), melainkan sebagai dampak dari problem mendasar yang sistematis.
Salah satu faktor utama yang ia soroti adalah tingginya biaya politik dalam sistem Pilkada langsung.
Baca Juga: Mendagri Sentil Daerah yang Ragu Soal WFH ASN: Ini Bukan Opsional!
"Saya berpikir tidak hanya melihat case saja, ini kan beberapa kali terjadi dalam waktu yang singkat ya. Artinya ada problem yang sistematis, ada problem mendasar. Mungkin salah satunya mekanisme rekrutmen yang selama ini digunakan," jelas Tito.
Ia menambahkan bahwa meskipun Pilkada langsung memiliki sisi positif dalam hal demokrasi, sisi negatifnya juga sangat nyata dan berdampak pada integritas pejabat publik.
"Mereka semua adalah hasil dari pemilihan langsung Pilkada. Di satu sisi ada baiknya, ada positifnya, tapi ada juga negatifnya. Di antaranya biaya politik yang mahal dan tidak menjamin yang terpilih ternyata orang yang baik," tegasnya.
Selain masalah sistem rekrutmen, Tito juga menyebut faktor-faktor lain seperti masalah kesejahteraan, moral hazard, serta rendahnya integritas individu yang turut menjadi pemicu terjadinya tindak pidana korupsi di lingkungan pemerintah daerah.
Sebelumnya, Komisi Pemberantasan Korupsi resmi menetapkan dan menahan Bupati Tulungagung, Gatut Sanu Wibowo, beserta ajudannya, Dwi Yoga Ambal, sebagai tersangka kasus dugaan pemerasan dan penerimaan gratifikasi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tulungagung periode 2025–2026.
Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, menyatakan bahwa penahanan dilakukan setelah tim penyidik melakukan OTT dan pemeriksaan intensif. Keduanya ditahan selama 20 hari pertama untuk kepentingan penyidikan.
Berita Terkait
-
Mendagri Sentil Daerah yang Ragu Soal WFH ASN: Ini Bukan Opsional!
-
Respons Modus 'Surat Mundur', Wagub Jatim Minta Inspektorat Dalami Kasus OTT Bupati Tulungagung
-
Awal 2026 yang Kelam, Ini Deretan Kepala Daerah dan Pejabat yang Terjaring OTT KPK
-
Tito Karnavian Ungkap Fakta: Angka Kemiskinan di Papua Masih di Atas Rata-Rata Nasional
-
Mendagri Dukung Perpanjangan Dana Otsus Aceh dan Usulkan Kembali ke 2 Persen Akibat Dampak Bencana
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- Misteri Lenyapnya Bocah 4 Tahun di Tulung Madiun: Hanya Sekedip Mata Saat Ibu Mencuci
Pilihan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
Terkini
-
Misteri Kerangka Manusia Nyangkut di Sampah Citarum, Ciri Kawat Jadi Kunci
-
Sapu Jalan Berujung Maut: Petugas PPSU Tewas Ditabrak Mobil Oleng di Pejaten
-
Petani Tembakau Madura Desak Pemerintah Ubah Kebijakan Rokok Ilegal
-
DKI Jakarta Berangkatkan 7.819 Jemaah Haji, Pemprov Siapkan 117 PPIH
-
Tangisan Anak di Serpong Utara Ungkap Penemuan Jasad Wanita Dalam Rumah
-
Aksi Kamisan ke-904 Soroti Militerisasi Sipil: Impunitas Masih Berulang
-
Tim Advokasi Minta MK Batalkan Pasal Kontroversial UU TNI, Soroti Ruang Sipil dan Impunitas
-
Cueki Permintaan Trump, Presiden Lebanon Ogah Bicara dengan Benjamin Netanyahu
-
Gelar KWP Awards 2026, Ariawan: Pers dan Parlemen Wajib Kolaborasi untuk Negara
-
Mengenal Piramida Budaya Perkosaan: Dari Obrolan Digital hingga Kekerasan Nyata