News / Internasional
Selasa, 14 April 2026 | 09:33 WIB
Kolase foto Ebrahim Zolfaghari-Donald Trump [Suara.com]
Baca 10 detik
  • Militer Iran menyebut blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz sebagai tindakan ilegal dan aksi nyata perompakan maritim di perairan internasional.
  • Republik Islam Iran memperingatkan bahwa mereka akan menghancurkan keamanan seluruh pelabuhan di Timur Tengah jika pelabuhan kedaulatan mereka diancam.
  • Rencana agresi maritim Donald Trump ini muncul pasca-kegagalan diplomasi Islamabad lantaran Iran menolak percaya pada janji palsu Amerika Serikat.

Suara.com - Tindakan sewenang-wenang Amerika Serikat yang nekat memblokade jalur perdagangan internasional di Selat Hormuz memicu kemarahan besar dari otoritas militer Republik Islam Iran.

Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia, Ebrahim Zolfaghari, secara terbuka melabeli kebijakan agresif Presiden Donald Trump tersebut sebagai tindakan ilegal yang tak ubahnya seperti aksi perompakan maritim di mata dunia.

Teheran memberikan peringatan keras bahwa arogansi Washington yang membatasi hak transit laut tersebut hanya akan menghancurkan stabilitas seluruh kawasan Timur Tengah secara menyeluruh.

Mulai Senin (14/3) pukul 10.00 waktu Washington, Angkatan Laut AS bertindak sebagai polisi lalu lintas di Selat Hormuz dan bisa memicu perang terbuka dengan negara lain [Suara.com/AI]

Militer Iran menegaskan bahwa mereka memandang upaya mempertahankan hak-hak hukum negara sebagai sebuah kewajiban alamiah dan sah yang tidak bisa ditawar lagi.

Berdasarkan prinsip berdaulat tersebut, pelaksanaan kedaulatan di wilayah perairan militer mereka merupakan hak mutlak bagi seluruh bangsa Iran.

Hak Kedaulatan Mutlak Atas Wilayah Perairan

"Oleh karena itu, penjaminan keamanan di perairan teritorial Republik Islam Iran akan terus dilaksanakan dengan penuh ketegasan oleh Angkatan Bersenjata yang berdedikasi, dan seperti yang telah berulang kali dideklarasikan, kapal-kapal yang berafiliasi dengan musuh tidak dan tidak akan memiliki hak untuk melintasi Selat Hormuz, sementara kapal-kapal lain, dengan mematuhi peraturan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, akan terus diizinkan melintas melalui selat tersebut," ujar Ebrahim Zolfaghari dikutip dari Tasnim News, Selasa (14/4/2026).

"Selanjutnya, mengingat berlanjutnya ancaman musuh terhadap bangsa Iran dan keamanan nasional negara kita bahkan setelah berakhirnya perang, Republik Islam Iran akan dengan tegas menerapkan mekanisme permanen untuk mengontrol Selat Hormuz," kata juru bicara tersebut.

Juru bicara militer tersebut mengutuk keras manuver Washington yang memberlakukan pembatasan transit maritim sebagai murni kejahatan pidana sekaligus perompakan di laut lepas.

Baca Juga: Donald Trump Peringatkan China soal Pasokan Senjata ke Iran

Peringatan Keras Militer Teheran: Aman untuk Semua atau Tidak Sama Sekali

"Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa keamanan pelabuhan-pelabuhan di Teluk Persia dan Laut Oman adalah untuk semua atau tidak untuk siapa pun," ia memperingatkan.

Militer Iran memberikan garansi bahwa jika pelabuhan mereka di Teluk Persia dan Laut Oman terus diancam, maka tidak akan ada satu pun pelabuhan di kawasan tersebut yang bisa beroperasi dengan aman.

Ancaman blokade maritim yang diumumkan oleh Donald Trump ini memang secara spesifik menargetkan kapal-kapal yang diketahui telah membayar biaya tol kepada otoritas keamanan Iran.

Militer AS bahkan secara provokatif telah mengonfirmasi bahwa eksekusi penutupan jalur laut sepihak tersebut akan secara resmi dimulai pada hari Senin pukul 14:00 GMT.

Jejak Hitam Agresi Washington dan Runtuhnya Diplomasi Islamabad

Load More