-
Amerika Serikat memulai blokade pelabuhan Iran untuk memaksa penghentian perang selama enam pekan.
-
Donald Trump menegaskan blokade bertujuan menghentikan ancaman Iran terhadap stabilitas ekonomi dunia.
-
Iran mengancam akan menyerang balik seluruh pelabuhan di kawasan Teluk jika blokade berlanjut.
Suara.com - Langkah drastis diambil Amerika Serikat dengan memutus akses logistik di seluruh pelabuhan Iran guna menghentikan agresi militer Teheran.
Kebijakan blokade ini bertujuan memaksa otoritas Iran segera menyepakati penghentian konflik bersenjata yang telah berlangsung selama enam pekan.
Dikutip dari Al Jazeera, eskalasi di kawasan Teluk kian memanas setelah armada tempur Amerika Serikat mulai bersiaga penuh di titik-titik krusial pintu masuk perairan.
Dunia kini menyoroti bagaimana kekuatan militer besar tersebut berusaha mengendalikan arus navigasi di jalur energi paling vital di bumi.
Donald Trump menegaskan bahwa manuver ini adalah jawaban atas tindakan provokatif Iran yang dianggap mengancam keamanan ekonomi internasional secara sistemik.
"Kita tidak bisa membiarkan suatu negara memeras atau mengancam dunia karena itulah yang mereka lakukan," kata Trump tentang Iran di Gedung Putih.
Meskipun melakukan tekanan fisik melalui militer, Washington mengklaim tetap membuka pintu komunikasi diplomatik bagi pihak Teheran jika bersedia berunding.
Pemerintah Amerika Serikat mengaku telah menerima komunikasi dari perantara yang menyebutkan adanya keinginan pihak lawan untuk mencapai titik temu.
"Saya dapat memberi tahu Anda bahwa kami telah dihubungi oleh pihak lain," kata Trump kepada awak media di Washington.
Baca Juga: Ramai-ramai Kecam Hinaan Donald Trump ke Paus Leo XIV, PM Italia Ikut Kesal
Trump mengindikasikan bahwa posisi tawar Iran saat ini sedang berada di titik terendah akibat tekanan blokade yang masif.
"Mereka ingin mencapai kesepakatan," tambah Presiden Amerika Serikat tersebut dalam pernyataan resminya di hadapan para wartawan.
Reaksi Keras Iran dan Dampak Navigasi Kapal
Teheran merespons ancaman ini dengan mengeluarkan peringatan serangan balik terhadap seluruh infrastruktur pelabuhan milik sekutu Amerika di kawasan Teluk.
Keamanan maritim di Teluk Persia dan Teluk Oman kini berada dalam status bahaya tinggi menyusul ancaman balasan dari militer Iran.
Data pelacakan kapal MarineTraffic menunjukkan setidaknya dua tanker besar langsung mengubah arah perjalanan saat blokade resmi diberlakukan pada hari Senin.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
Terkini
-
Momen Hangat di Kremlin, Putin Lepas Prabowo dengan Penghormatan Khusus
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Indonesia dan AS Resmi Perkuat Kemitraan Pertahanan, Fokus Modernisasi hingga Latihan Militer
-
Kritik JPPI Buntut Skandal Grup Chat FH UI: Belajar Hukum, Tapi Jadi Pelaku Pelecehan
-
Khawatir Gila, Kongres AS Minta Dokter Periksa Kesehatan Mental Donald Trump
-
Polda Metro Bongkar Pabrik Zenith di Semarang, Sita 1,83 Ton Bahan Baku
-
Dari Moskow Prabowo Terbang ke Paris, Perluas Poros Diplomasi Strategis
-
Pramono Buka Peluang Partai Politik Ikut Naming Rights Halte, Asal Tak Ganggu Wajah Kota
-
Soal Isu Peleburan dengan Gerindra, NasDem: Tidak Masuk Akal, Kami Bukan PT Tbk
-
Donald Trump Mau Tenggelamkan Kapal Cepat Iran Kalau Berani Mendekati Blokade Selat Hormuz