-
Presiden Trump memberlakukan blokade laut total terhadap Iran karena kegagalan negosiasi nuklir.
-
Militer Amerika Serikat dalam status siaga tempur untuk mengamankan navigasi di Selat Hormuz.
-
Langkah blokade ini berisiko menaikkan harga minyak dan memicu ketidakpastian politik domestik AS.
Suara.com - Kegagalan diplomasi di Islamabad memaksa Presiden Donald Trump mengambil langkah ekstrem dengan mengunci akses maritim Iran secara total.
Blokade ini menjadi jawaban keras Washington atas penolakan Teheran untuk menghentikan program pengembangan senjata nuklir mereka.
Dikutip dari BBC, langkah sepihak ini diprediksi akan mengubah peta kekuatan di Timur Tengah sekaligus menguji nyali sekutu serta lawan Amerika.
Presiden Trump memilih jalur konfrontasi ekonomi setelah perundingan maraton selama 20 jam tidak membuahkan kesepakatan yang diinginkan.
AS kini menempatkan armada militernya dalam posisi siaga tertinggi untuk memastikan tidak ada celah bagi pendapatan ilegal Iran.
Melalui platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa jalur laut internasional tidak akan memberikan ruang bagi pelanggar aturan.
"Tidak seorang pun yang membayar pungutan ilegal akan mendapat jalur aman di laut lepas," katanya.
Pernyataan ini merujuk pada praktik pungutan yang dilakukan Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi wilayah perairan tersebut.
Selain blokade, militer Amerika Serikat diperintahkan untuk terus melakukan operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz secara intensif.
Baca Juga: Intip Taktik Donald Trump Nekat Blokade Pelabuhan Iran
Trump memastikan bahwa kapal-kapal sekutu harus mendapatkan jaminan keamanan penuh saat mendistribusikan komoditas energi global.
Kesiapan Militer dan Kegagalan Diplomasi Islamabad
Kesiapan tempur menjadi prioritas utama Gedung Putih jika Teheran mencoba melakukan provokasi militer di wilayah perairan.
Militer AS, tambahnya, berada dalam posisi "siap tempur" dan siap melanjutkan serangan terhadap Iran pada "waktu yang tepat".
Trump mengklaim ada kemajuan dalam negosiasi di Pakistan, namun isu nuklir tetap menjadi batu sandungan yang paling besar.
Iran dianggap tetap bersikeras mempertahankan ambisi nuklirnya meski tekanan ekonomi dan militer dari pihak Barat terus meningkat.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
Pilihan
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
Terkini
-
Prabowo Akhiri Kunjungan Kenegaraan di Prancis, Bertolak Kembali ke Jakarta
-
Mangkir dari Pemeriksaan Gas 'Whip Pink', Influencer ZNM dan Dua Saksi Lain Dijemput Paksa Polisi
-
Dulu Diminta Balik ke Barak, Ray Rangkuti Kritik TNI Kini 'Kepung' Ranah Sipil
-
Modus Pungli dan Titipan dalam SPMB 2026, dari Uang Bangku hingga Rekayasa Domisili
-
Tragedi Jip Wisata Bromo: Rem Blong di Tikungan Letter S Wonokitri, Dua Orang Tewas
-
Bahaya Gas N2O Whip Pink: Konsumen Alami Lumpuh Temporer hingga Kerusakan Saraf Tepi
-
Polisi Ungkap Kronologi dan Penyebab Sementara Ledakan PT MCCI Cilegon
-
Polemik Kurban Uang Negara: Dasar Hukum, Pandangan MUI, dan Alasan Pemerintah
-
Geger Eks Pegawai Sudin LH Jakpus Tewas Usai Diduga Lompat dari Jembatan Cawang
-
Gen Z Lebih Berani dan Tak Kenal Takut Dibanding Generasi Orde Baru