-
Perang Iran memicu risiko resesi global akibat terganggunya jalur minyak Selat Hormuz.
-
IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia karena lonjakan inflasi dan harga energi.
-
Harga minyak melambung tinggi menyebabkan biaya hidup dan produksi manufaktur meningkat tajam.
Suara.com - Konflik bersenjata di Iran telah mengubah proyeksi ekonomi dunia secara drastis menuju jurang resesi yang sangat mengkhawatirkan.
Lembaga moneter internasional IMF secara resmi memangkas target pertumbuhan ekonomi global akibat gangguan rantai pasok energi yang masif.
Dikutip dari MEE, situasi ini mematikan momentum positif yang sebelumnya sempat terbangun berkat ledakan investasi di sektor teknologi global.
Kini dunia menghadapi ancaman nyata berupa stagflasi di mana pertumbuhan melambat namun harga kebutuhan melonjak tinggi.
Interupsi jalur logistik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang merusak stabilitas pasar keuangan di berbagai negara.
Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas memberikan peringatan keras mengenai kondisi yang terjadi saat ini.
“Prospek global tiba-tiba menjadi gelap menyusul pecahnya perang,” kata Pierre-Olivier Gourinchas, kepala ekonom IMF.
“Penutupan Selat Hormuz dan kerusakan serius pada fasilitas produksi penting di wilayah yang menjadi pusat pasokan hidrokarbon global dapat menyebabkan krisis energi pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
Gourinchas menekankan bahwa peperangan telah menghentikan tren pertumbuhan stabil yang awalnya didorong oleh berbagai faktor fundamental ekonomi.
Baca Juga: Asal Bapak Senang! Pete Hegseth Dituding Sesatkan Donald Trump soal Perang Iran
“Perang di Timur Tengah akan melumpuhkan kekuatan-kekuatan dasar ini,” tambah Gourinchas.
Penurunan Drastis Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Negara G7
Inggris menjadi negara maju yang mengalami koreksi pertumbuhan paling tajam di antara anggota kelompok negara G7.
IMF memotong estimasi pertumbuhan ekonomi Inggris sebesar 0,5 poin sehingga kini hanya tersisa di angka 0,8 persen.
Amerika Serikat juga tidak luput dari dampak negatif dengan penurunan proyeksi pertumbuhan menjadi 2,3 persen tahun ini.
Negara-negara berkembang di wilayah Afrika sub-Sahara mengalami tekanan serupa dengan pemangkasan target pertumbuhan ekonomi.
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
Terkini
-
Bukan Buang Duit, Ini Alasan Sewa Mobil Dinas Tangsel Lebih Hemat Ketimbang Beli
-
Kapolri Temui Jaksa Agung dan Panglima TNI, Redam Friksi Kasus Febrie Adriansyah
-
Terungkap! Motif Siswa Padang Ledakkan Bom, Dendam Dibully Sejak SD
-
Adian Napitupulu Terima Buku Anotasi KUHAP, Ini Fungsinya
-
Tragedi di Balik Tembok Pesantren: Mengurai Kasus Santri Dibakar di Lombok
-
Bupati Mojokerto Berangkatkan 30 Siswa Sekolah Rakyat ke Kediri untuk Tahun Ajaran 2026/2027
-
Rugikan Masyarakat, Gubsu Bobby Minta Pertamina Bereskan Persoalan Distribusi BBM Dalam Dua Hari
-
Menhut Raja Juli Soal Inpres Gajah: 9 Menteri Wajib Jaga Habitat Nona Seroja dan Bang Domang
-
Legislator PDIP Tegaskan RUU Perampasan Aset Jalan Terus: Kita Geber Sampai Sah!
-
Teror Bom di SD Srengseng, Wakil Ketua Komisi X Desak Polisi Usut Tuntas