-
Perang Iran memicu risiko resesi global akibat terganggunya jalur minyak Selat Hormuz.
-
IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia karena lonjakan inflasi dan harga energi.
-
Harga minyak melambung tinggi menyebabkan biaya hidup dan produksi manufaktur meningkat tajam.
Kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara menderita dampak paling parah akibat kerusakan infrastruktur dan blokade jalur laut.
Selat Hormuz memiliki peran vital sebagai urat nadi distribusi minyak bumi dan gas alam cair (LNG) secara internasional.
Wilayah perairan sempit ini menjadi jalur bagi seperlima produksi minyak dunia dan sepertiga kebutuhan gas bumi global.
Mantan Gubernur Bank Dunia, Yerbol Orynbayev, menyatakan bahwa disrupsi berkepanjangan pada sektor minyak adalah lonceng kematian bagi ekonomi.
“Gangguan minyak yang berkepanjangan adalah lonceng kematian bagi ekonomi global,” kata Yerbol Orynbayev, mantan gubernur Bank Dunia.
“Peristiwa masa lalu dalam sejarah semuanya mendikte bahwa ketika pasokan minyak terhambat, lingkungan inflasi yang berkelanjutan - dan bahkan mungkin hiper - terjadi, yang mengantar pada tekanan resesi yang parah. Embargo minyak tahun 1970-an adalah contoh kasusnya.”
Lonjakan Inflasi Global Akibat Kenaikan Harga Komoditas
Prediksi inflasi dunia kini melonjak menjadi 4,4 persen akibat melambungnya biaya energi di pasar internasional.
Harga minyak mentah telah menembus angka di atas $100 per barel sementara harga gas alam meroket hingga 80 persen.
Baca Juga: Asal Bapak Senang! Pete Hegseth Dituding Sesatkan Donald Trump soal Perang Iran
Skenario terburuk IMF memprediksi pertumbuhan dunia bisa jatuh ke level 2 persen jika perang berlangsung dalam waktu lama.
Angka pertumbuhan di bawah 2 persen hanya pernah terjadi empat kali sejak tahun 1980, termasuk saat pandemi dan krisis 2008.
Bahkan dalam skenario terbaik sekalipun, harga komoditas energi diperkirakan tetap naik sebesar 19 persen tahun ini.
Kenaikan harga energi akan berdampak langsung pada biaya produksi barang-barang yang sangat bergantung pada bahan bakar.
Gourinchas menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan guncangan pasokan negatif yang akan memengaruhi daya beli masyarakat luas.
“Efek langsung dari kenaikan harga komoditas mewakili buku teks guncangan pasokan negatif,” kata Gourinchas.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
Terkini
-
Murka Elite NasDem ke Tempo Soal Merger Gerindra Dinilai Rendahkan Martabat Surya Paloh
-
Mengenal Oghab 44, Benteng Bawah Gunung Iran yang Siap Hancurkan Armada AS di Selat Hormuz
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Kelaparan Hantui India Usai LPG Langka Imbas Perang Iran, Buruh di Kota Balik ke Desa
-
DO Saja Tak Cukup, DPR Minta Mahasiswa FH UI Pelaku Pelecehan Seksual Diseret ke Ranah Pidana
-
Jangan Sampai Menyesal! Ini Risiko Besar Jika Berangkat Haji Tanpa Visa Sah
-
Dosen Universitas Budi Luhur Inisial Y Dipolisikan, Diduga Cabuli Mahasiswi Sejak 2021
-
Soroti Angkot Ngetem Picu Macet, Pramono Anung Bakal Tambah Armada Mikrotrans dan JakLingko
-
Sisi Humanis Warga Iran, Tawarkan Buah ke Jurnalis Padahal Rumahnya Hancur Lebur Habis Diserang
-
Tak Cuma Kepala Dinas, Bupati Tulungagung Diduga Peras Sekolah dan Camat