News / Nasional
Rabu, 15 April 2026 | 15:12 WIB
HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy (tengah). (Ist)
Baca 10 detik
  • Gus Lilur mendesak Muktamar NU pada 15 April 2026 menjadi momentum krusial untuk mengembalikan organisasi ke jalur keulamaan.
  • Ia mengkritik keterlibatan tokoh dalam politik praktis yang dinilai mengikis marwah serta independensi organisasi di mata umat.
  • Muktamar diharapkan mampu memilih pemimpin berkapasitas intelektual tinggi guna memperkuat tradisi keilmuan pesantren daripada sekadar kepentingan kekuasaan.

NU harus berdiri di atas semua golongan, bukan menjadi bagian dari kepentingan tertentu. Itu prinsip yang harus kita jaga,” tambahnya.

Ia juga mendorong agar muktamar mengembalikan fokus pada penguatan ekosistem intelektual, mulai dari pesantren, bahtsul masail, hingga pengembangan pemikiran Islam yang relevan dengan tantangan zaman.

“Kalau NU kuat di ilmu, otomatis akan dihormati. Tapi kalau NU sibuk di politik, lama-lama hanya akan diperalat,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Gus Lilur menegaskan bahwa muktamar kali ini adalah ujian sejarah bagi NU. Ia berharap para kiai dan ulama dapat mengambil keputusan yang berpihak pada masa depan jam’iyah, bukan kepentingan jangka pendek.

“Ini bukan soal hari ini saja, ini soal masa depan NU dan umat. Kita mau kembali ke jalan ulama, atau terus terseret arus kekuasaan. Itu yang sedang dipertaruhkan,” tambahnya.

Load More