-
Blokade AS terhadap Iran dianggap tidak efektif karena Teheran memiliki cadangan minyak melimpah di laut.
-
China berperan sebagai pendukung utama Iran yang mampu menguji kekuatan blokade maritim Amerika Serikat.
-
Perundingan di Islamabad menjadi harapan terakhir untuk mencegah konfrontasi militer terbuka di Selat Hormuz.
“Bagi kerangka waktu apa pun yang dipedulikan AS untuk menimbulkan penderitaan pada ekonomi Iran, blokade itu terlalu lambat bertindak,” ujar Alan Eyre, mantan ahli senior Departemen Luar Negeri untuk urusan Iran.
Meskipun perundingan di Pakistan sempat mengalami kebuntuan, sinyal mengenai adanya kerangka kesepakatan damai mulai bermunculan ke publik.
Isu krusial yang menjadi ganjalan adalah masa depan program nuklir Iran serta durasi moratorium pengayaan uranium yang ditawarkan Amerika.
Pemerintahan Trump dilaporkan menawarkan jeda 20 tahun, namun pihak Teheran menginginkan durasi yang jauh lebih pendek dari tawaran tersebut.
Sikap keras yang ditunjukkan oleh Wakil Presiden JD Vance dianggap sebagai bagian dari taktik negosiasi untuk menekan posisi tawar lawan.
“Vance yang meninggalkan pembicaraan itu seperti menawar permadani di pasar di Timur Tengah. Anda menanyakan harganya, mengatakan itu terlalu mahal dan pergi. Tetapi kemudian Anda kembali keesokan harinya,” kata Eyre menambahkan.
Blokade ini merupakan kelanjutan dari eskalasi militer yang memuncak setelah serangan gabungan pada akhir Februari 2025 lalu.
Selat Hormuz tetap menjadi titik nadi paling rawan karena menjadi jalur utama pengiriman energi internasional yang sangat krusial.
Iran bersikeras pada hak mereka untuk melakukan pengayaan uranium demi tujuan damai sesuai dengan fatwa pemimpin tertinggi mereka.
Baca Juga: Krisis Kemanusiaan! Rakyat Lebanon: Tewas Dirudal Israel atau Mati Kelaparan
Ketegangan ini diperumit dengan tuntutan Iran untuk mengenakan biaya tol bagi kapal-kapal yang melintasi jalur laut internasional tersebut.
“Trump butuh kemenangan besar di sini, dan itu bukan sekadar membuka selat,” tegas Miller mengenai tekanan politik yang dihadapi Washington.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Menelisik Lebih Dalam Series Human Vapor, Bisakah Korban Disebut Monster?
-
Tecno Pova 8 5G Resmi Hadir, Baterai 8.000mAh Tahan 2 Hari dan Harga Mulai Rp3,9 Juta
-
Usai Kapolri Temui Jaksa Agung, Giliran Kajati dan Kapolda Pamer Soliditas
-
4 Moisturizer Aman untuk Remaja Perbaiki Skin Barrier Harga Murah Rp40 Ribu
-
Modal Bisa dari Mana Saja, Pramono Tegaskan JPO Tendean Tetap Dibangun Ulang
-
Lionel Scaloni Minta Argentina vs Inggris Tak Dicampur Isu Politik: Ini Murni Sepak Bola
-
Di Kedubes Qatar, Sugiono Puji Warisan Sheikh Hamad untuk Dunia dan Indonesia
-
Karier Febrie Adriansyah Tamat, Tapi Kepercayaan pada Hukum Tak Boleh Mati
-
Polisi Buru Terduga Penganiaya Kekasih di Bekasi, Korban Kabur Lewat Jendela
-
Seru, Dapatkan Harga Istimewa Hyundai Creta Lewat Program Triple Zero & Trade-In Benefit