News / Internasional
Kamis, 16 April 2026 | 10:36 WIB
Batalyon Netzah Yehuda, Tentara Israel yang Selalu Bawa Taurat saat Melakukan Kekejaman [Tangkap layar X]
Baca 10 detik
  • Netzah Yehuda merupakan batalyon infanteri ultra-ortodoks Israel yang beroperasi di wilayah Tepi Barat dengan standar religius ketat.
  • Unit ini sering terlibat insiden kekerasan terhadap warga Palestina, memicu sanksi internasional dan penyelidikan hak asasi manusia.
  • Batalyon tersebut sempat dihentikan operasionalnya setelah terlibat bentrok dengan jurnalis CNN di Tepi Barat pada Maret 2026.

Selain itu, unit ini memiliki waktu khusus untuk ibadah dan belajar agama.

Bahkan dalam urusan makanan, unit satu ini berbeda dengan anggota militer Israel lainnya.

Anggota Netzah Yehuda mendapatkan makanan dengan standar kosher, yakni pola diet khusus orang Yahudi.

Netzah Yehuda aktif dalam berbagai operasi keamanan, terutama di wilayah Tepi Barat. Mereka terlibat dalam, penangkapan warga sipil Palestina, , pencegahan serangan dan operasi militer rutin.

Insiden dan Kontroversi

Selama bertahun-tahun, batalyon ini beberapa kali terlibat dalam insiden kekejaman.

Pada 2019: beberapa prajurit dihukum karena kekerasan terhadap warga Palestina

Lalu pada 2022: seorang pria Palestina lanjut usia meninggal setelah ditahan oleh prajurit.

Masih di tahun yang sama, video kekerasan terhadap warga sipil memicu reaksi keras dari dunia internasional dan berujung pada sanksi kepada sejumlah prajurit. 

Baca Juga: Berani! Anggota DPR Polandia Pamer Bendera Israel Bergambar Nazi di Sidang Parlemen

Bahkan pada 2024, Amerika Serikat sempat mempertimbangkan sanksi terhadap unit ini terkait isu HAM.

Untuk kasus terbaru bentrok dengan jurnalis CNN, hukuman yang dijatuhkan oleh Mahkamah Agung Israel digugat balik oleh mereka.

Gugatan ini muncul sekitar dua pekan setelah insiden dengan kru media internasional CNN, yang berujung pada sanksi kolektif terhadap seluruh batalyon.

Dilansir dari Channel 14, para prajurit menilai kebijakan tersebut tidak proporsional dan merugikan ratusan anggota yang tidak terlibat langsung.

Para penggugat juga mengancam dampak serius terhadap keamanan dan moral pasukan.

Penarikan batalyon berpengalaman dari operasi aktif di wilayah Tepi Barat menurut mereka dapat melemahkan stabilitas keamanan serta memicu ketegangan antara prajurit cadangan dan komando militer.

Load More