- CISDI mengungkapkan kebijakan cukai tembakau di Indonesia belum efektif membuat rokok tidak terjangkau bagi konsumen hingga tahun 2026.
- Struktur cukai yang kompleks memicu fenomena down-trading, sehingga perokok beralih ke produk lebih murah saat tarif rokok naik.
- Pemerintah didesak melakukan reformasi kebijakan untuk menaikkan harga rokok demi melindungi kelompok masyarakat miskin dari beban konsumsi tembakau.
Suara.com - Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) merilis temuan terkait efektivitas cukai hasil tembakau di Indonesia. Meski pemerintah rutin menaikkan tarif setiap tahun, fakta di lapangan menunjukkan rokok di Indonesia tetap sangat terjangkau bagi masyarakat.
Dalam laporan Cigarette Tax Scorecard 2024 yang disusun Johns Hopkins University, kebijakan pengendalian tembakau Indonesia mendapat skor yang dinilai memprihatinkan. Peneliti CISDI sekaligus Direktur Lembaga Demografi FEB UI, I Dewa Gede Karma Wisana, mengibaratkan kondisi ini seperti siswa yang mendapat “rapor merah”.
“Kabar baiknya, porsi pajak kita sudah cukup signifikan, skornya 4,5. Tapi skor keterjangkauannya ini yang masih harus remedial. Selama 6 tahun terakhir, rokok tidak menjadi semakin mahal secara real bagi konsumen,” ujar Dewa dalam diseminasi riset CISDI di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Ilusi Kenaikan Harga
Data riset menunjukkan adanya stagnasi keterjangkauan rokok selama satu dekade terakhir. Skor keterjangkauan Indonesia disebut terpaku di angka nol. Hal ini terjadi karena kenaikan harga rokok tidak mampu mengejar pertumbuhan pendapatan masyarakat dan inflasi.
Dewa menjelaskan, saat ini masyarakat hanya perlu menyisihkan sekitar 3 persen dari pendapatan tahunan untuk membeli 100 bungkus rokok. Angka ini dinilai sangat rendah dan menunjukkan rokok masih menjadi barang murah.
“Ini bukan stagnasi sebenarnya, tapi bisa kita anggap sebagai policy failure atau ketidakcukupan dari kebijakan tersebut. Indonesia sudah memajaki rokok, namun belum mampu membuat rokok tidak terjangkau,” tegas Dewa.
Ia memberi analogi bahwa kenaikan tarif tanpa penyederhanaan kebijakan ibarat menaikkan tarif tol, tetapi tetap membiarkan jalan alternatif murah tetap terbuka.
Fenomena Down-trading dan Struktur Cukai Berlapis
Salah satu penyebab utama kegagalan cukai dalam menekan konsumsi adalah struktur tarif yang dinilai terlalu kompleks dan berlapis. Kondisi ini memicu fenomena down-trading, yakni perokok beralih ke merek atau jenis rokok yang lebih murah, terutama sigaret kretek tangan (SKT), ketika harga sigaret mesin naik.
“SKT yang semakin murah ini menekan nilai keterjangkauan agregat ke bawah. Ini menjadi pintu masuk bagi perokok untuk beralih ke produk yang lebih murah,” tambahnya.
Baca Juga: Harga Rokok Lebih Murah dari Sebungkus Nasi, CISDI: Bisa Gagalkan Program Makan Bergizi Gratis
Kelompok Miskin Dinilai Paling Dirugikan
Riset CISDI juga menyoroti bahwa kenaikan cukai tidak selalu memberatkan masyarakat berpenghasilan rendah. Berdasarkan temuan mereka, kelompok berpendapatan rendah justru dua kali lebih sensitif terhadap perubahan harga dibanding kelompok menengah.
Artinya, jika harga rokok benar-benar dibuat tidak terjangkau, kelompok miskin dinilai paling diuntungkan karena berpotensi mengurangi konsumsi rokok dan mengalihkan pengeluaran untuk kebutuhan pokok seperti pangan dan pendidikan.
“Kalau kita membiarkan rokok tetap murah, kita mengorbankan kelompok yang paling sensitif, yang paling tidak mampu untuk mengatasi kondisi mereka, khususnya beban penyakit,” kata Dewa.
Desakan Reformasi Cukai
Di akhir paparannya, Dewa mendesak pemerintah melakukan reformasi cukai yang lebih signifikan, yakni menaikkan tarif secara lebih tegas dan menyederhanakan struktur cukai yang masih berlapis.
“Indonesia sudah punya instrumen cukai, data menunjukkan masyarakat responsif. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian dan motivasi yang kuat secara politik. Sudah saatnya membuat rokok menjadi barang yang benar-benar mahal di Indonesia,” pungkasnya.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
-
Harga Rokok Lebih Murah dari Sebungkus Nasi, CISDI: Bisa Gagalkan Program Makan Bergizi Gratis
-
Tuduh Jubir KPK Sebar Fitnah Soal Sitaan Barang, Faizal Assegaf Lapor ke Dewas
-
Dipolisikan Faizal Assegaf ke Polda Metro, Jubir KPK Santai: Itu Hak Konstitusi, Kami Hormati
-
Daftar Pengusaha Rokok Dibidik KPK di Kasus Bea Cukai, dari Haji Her hingga Rokhmawan
-
KPK Temukan Dokumen 'Sakti' dari Tangan Tersangka, Nama-nama Besar Pengusaha Rokok Masuk Radar
Terpopuler
- Maarten Paes Mulai Kehilangan Tempat di Ajax, Petinggi PSSI Pasang Badan
- 4 HP Xiaomi RAM 8 GB Snapdragon Paling Murah untuk Berbagai Kebutuhan
- Jalan Kolmas Ditutup Total 67 Hari, Polres Cimahi Siapkan Dua Jalur Alternatif
- 3 Rekomendasi HP vivo RAM 8 GB Snapdragon Paling Murah untuk Dipilih
- KBRI Kuala Lumpur Digeruduk, Warga Malaysia Desak Prabowo Buka Nama Perusahaan Terlibat Karhutla
Pilihan
-
Kedutaan Besar Negara Asing Keluarkan Peringatan untuk Warganya Pasca Erupsi Anak Krakatau
-
Kabut Asap Makin Pekat, Doa Apa yang Bisa Dibaca Muslim? Ini Bacaan Perlindungannya
-
Jakarta Terdampak Abu Vulkanik Anak Krakatau, Pemprov DKI Terapkan PJJ Mulai Besok
-
Badan Geologi Ungkap Kondisi Anak Krakatau Terkini: Tak Ada Potensi Runtuh Picu Tsunami
-
Terungkap! Sebelum Audiensi dengan Pimpinan DPR, Botok Ditelpon Prabowo
Terkini
-
Xiaomi SU7 Makin Buas, Sedan Listrik Pintar dengan Jangkauan hingga 902 Km
-
Asap Karhutla Belum Reda, Siswa di Pekanbaru Kembali Belajar dari Rumah
-
Imbas Abu Krakatau! Penutupan 7 Bandara Termasuk Soetta dan Halim Diperpanjang Sampai Senin Pagi
-
Saham CUAN dan BUMI Masuk 'Radar' di Tengah Gejolak Inflasi
-
Erupsi Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, TransNusa Siapkan Opsi Ubah Jadwal hingga Refund
-
Erupsi Anak Krakatau, Menkomdigi Minta Warga Saring Informasi Sebelum Sebarkan
-
3 Shio yang Meraih Keberuntungan dan Nasib Baik 7-13 September 2026, Kamu Termasuk?
-
Makna Lagu 'CLICK' Jisoo BLACKPINK, Saat Teman Mulai Jadi Cinta
-
Dapur Jarang Dipakai Masak Bikin Rezeki Seret? Ini Kata Pakar Feng Shui
-
'Anak Kami Diracuni' 173 Siswa-Guru Keracunan Makan Bergizi Gratis, Orang Tua Ngamuk