- CISDI mengungkapkan harga rokok di Indonesia sangat murah dan mengancam efektivitas program Makan Bergizi Gratis pemerintah.
- Pengeluaran rumah tangga untuk rokok berisiko memicu kekurangan gizi serta menghambat tumbuh kembang optimal pada anak Indonesia.
- CISDI mendesak pemerintah mereformasi kebijakan cukai rokok untuk meningkatkan penerimaan negara dan melindungi kesehatan masyarakat kelompok rentan.
Suara.com - Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) mengungkap fakta terkait pengendalian tembakau di Indonesia. Hingga saat ini, harga rokok di Tanah Air dinilai masih terlalu murah, bahkan lebih rendah dibandingkan harga seporsi makanan di warung pinggir jalan.
Founder dan Chief Executive Officer CISDI, Diah Satyani Saminarsih, menyebut kemudahan akses terhadap rokok menjadi ancaman serius bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan intervensi gizi.
"Di Indonesia, Bapak Ibu menyadari harga rokok yang dijual di supermarket masih ditemukan dengan kisaran harga antara 10.000 hingga 15.000 per bungkus. Lebih murah dari rata-rata seporsi makanan dengan lauk dan sayur yang kita dapatkan di warung makan di pinggir jalan," ujar Diah dalam pembukaan acara diseminasi riset di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Ancaman bagi Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Diah menyoroti risiko besar jika pemerintah tidak segera mereformasi kebijakan cukai hasil tembakau. Menurutnya, anggaran besar yang digelontorkan negara untuk memperbaiki gizi anak bisa berakhir sia-sia jika lingkungan keluarga masih terpapar asap rokok dan anggaran rumah tangga habis untuk membeli rokok.
"Ratusan triliun yang dikeluarkan negara untuk MBG (Makan Bergizi Gratis) mungkin akan sia-sia jadinya apabila itu tetap... terpapar juga oleh asap rokok sehingga publik kita makin tidak sehat," tegasnya.
Ia menambahkan, keluarga perokok cenderung mengalihkan belanja pendidikan dan nutrisi demi rokok.
"Akibatnya anak dalam keluarga perokok memiliki potensi kekurangan gizi dan gagal mengalami tumbuh kembang yang optimal serta ideal,” tuturnya.
Beban ekonomi versus honor kader kesehatan
Berdasarkan studi CISDI, beban biaya konsumsi rokok di Indonesia pada 2019 mencapai Rp410 triliun. Angka ini dinilai ironis jika dibandingkan dengan kesejahteraan tenaga kesehatan di daerah.
"Kami baru saja mengadakan workshop di area Tegal dan Brebes... rata-rata (kader kesehatan) dibayar antara 250.000 hingga 600.000 per tahun. Per tahun. Bayangkan bila uang (Rp410 triliun) itu kita pakai untuk menggaji guru ataupun tenaga kesehatan," lanjut Diah.
Baca Juga: Respons Arahan Presiden, BGN Segera Operasikan 900 SPPG untuk Jangkau Daerah Terpencil
Politik jangka pendek dan tantangan reformasi cukai
Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Prof. Arief Anshory Yusuf, mengakui reformasi cukai rokok memang berat karena adanya fenomena Democratic Myopia Hypothesis atau hipotesis rabun jangka pendek dalam demokrasi.
"Pemimpin itu sering susah untuk mikir terlalu jauh... Reform di tobacco control itu saya kira sangat vulnerable ke Democratic Myopia Hypothesis karena impact-nya jangka panjang. Jangka pendeknya mungkin akan ada gejolak, voter hilang," ungkap Arief.
Meski demikian, ia menekankan bahwa secara teori ekonomi mikro, rokok merupakan barang inelastis. Karena itu, kenaikan cukai dinilai sebagai langkah logis untuk meningkatkan penerimaan negara.
"Kalau barang itu inelastis, naikin teksnya (pajak/cukai) naikin revenue. Sederhana itu mah... Terus kenapa kalau asumsinya mau naikin revenue kok cukai enggak dinaik-naikin? Pasti something else di ujungnya," sindirnya.
Menutup pernyataannya, Arief mengutip Randy Pausch untuk menyemangati para aktivis kesehatan dalam mendorong perubahan kebijakan.
"Brick wall is there for us to walk around it. Itulah yang telah dilakukan CISDI," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Respons Arahan Presiden, BGN Segera Operasikan 900 SPPG untuk Jangkau Daerah Terpencil
-
Inabuyer B2B2G Bisa Jadi Jembatan UMKM Ikut Serta Program MBG
-
Pemprov DKI Siap Siaga Hadapi KLB Keracunan Pangan, Perketat Pengawasan MBG di Sekolah
-
5 Motor Listrik dengan Spek Lebih Oke dari Motor Listrik MBG, Harga Lebih Murah Cuma Seperlimanya
-
KPK Siap Usut Tuntas Alasan BGN Menangkan Vendor Minim Dealer untuk Motor Listrik Emmo
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
Terkini
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Laut Merah Milik Siapa? Iran Ancam Mau Menutupnya
-
WALHI Kritik Menhan Sjafrie Sjamsoeddin di Satgas PKH: Waspada Ekspansi Militer di Ruang Sipil
-
Melihat Kapal Macet Mau ke Selat Hormuz Berdasarkan Data Pelacakan Maritim
-
Israel Hari Ini: Ancaman Roket Hizbullah hingga Serangan Lebah dan Cuaca Ekstrem
-
Predator Berkedok Jas Almamater: Mengapa Kampus Elite Gagal Melindungi Korban Kekerasan Seksual?
-
Lahan Sengketa di Tanah Abang, Ahli Waris Pakai Verponding Lawan Kementerian PKP
-
Perkuat Pengawasan Orang Asing di Bali, Imigrasi Kukuhkan Satgas Patroli Dharma Dewata
-
Jenderal Pakistan ke Teheran, Negosiasi AS dan Iran Berpotensi Berlanjut
-
Tragis! Gagal Salip Bus, Pemotor di Jakarta Barat Tewas Terlindas di Flyover Pesing