- Dosen ekonomi UMY menyatakan investor global kini lebih memilih aset likuid berimbal hasil tinggi saat konflik geopolitik terbatas.
- Suku bunga global yang tinggi mendorong investor mengalihkan dana dari emas ke obligasi pemerintah dan dolar AS.
- Emas tetap dianggap aset krusial bagi bank sentral dan akan kembali unggul saat terjadi krisis keuangan sistemik.
Suara.com - Harga emas sempat mengalami penurunan di tengah konflik geopolitik Timur Tengah. Fenomena ini membuktikan bahwa emas tidak lagi menjadi satu-satunya safe haven (aset lindung nilai) di masa sekarang.
Hal itu diungkap Dosen Ilmu Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dyah Titis Kusuma Wardani. Ia menilai bahwa fenomena turunnya harga emas di tengah konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi bukti bahwa definisi safe haven telah mengalami perubahan.
"Sekarang, safe haven tidak lagi tunggal. Ada beberapa lapisan yang bergantung pada jenis krisis yang terjadi," kata Dyah dikutip, Minggu (19/4/2026).
Menurut Dyah, dalam kondisi konflik terbatas seperti saat ini, investor global cenderung memilih aset yang likuid dan memberikan imbal hasil, misalnya dolar AS dan obligasi pemerintah AS.
Namun, untuk krisis yang bersifat sistemik, seperti krisis keuangan global atau ketidakpercayaan terhadap mata uang, emas tetap menjadi pilihan utama.
"Emas masih unggul untuk risiko besar seperti krisis sistem keuangan. Namun, untuk konflik terbatas, investor cenderung memilih aset lain," paparnya.
Disampaikan Dyah, bahwa di tengah suku bunga global yang masih tinggi, preferensi investor bergeser secara taktis ke instrumen yang memberikan yield. Fenomena ini kerap disebut sebagai 'cash is king'.
Obligasi pemerintah Amerika Serikat, misalnya, menawarkan kombinasi keamanan, likuiditas, dan imbal hasil yang kompetitif, sehingga hal itu menjadi pesaing kuat bagi emas.
"Investor saat ini sangat sensitif terhadap yield. Hal inilah yang membuat emas kurang menarik dalam jangka pendek," ungkapnya.
Baca Juga: Ambisi Swasembada Gula 2028 Terganjal Mesin Tua dan Kiamat Lahan
Kendati begitu, Dyah menegaskan bahwa perubahan ini bukanlah pergeseran permanen, melainkan tidak lebih dari siklus yang dipengaruhi kebijakan moneter global.
Ia memprediksi bahwa jika bank sentral seperti Federal Reserve mulai menurunkan suku bunga atau terjadi krisis besar, maka emas akan kembali menjadi primadona.
"Ini hanya rotasi aset. Ketika kondisi berubah, emas akan kembali dilirik," ujarnya.
Dalam jangka panjang, kata Dyah, peran emas sebagai aset lindung nilai dinilai tetap kuat. Ia menyoroti bahwa bank sentral di berbagai negara, khususnya negara berkembang, justru meningkatkan cadangan emas dalam beberapa tahun terakhir.
Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memperkuat stabilitas cadangan devisa.
"Ini menunjukkan bahwa secara struktural, emas masih sangat penting dalam sistem keuangan global," tambahnya.
Dyah menekankan bahwa investor di era modern perlu lebih adaptif dalam memahami dinamika pasar. Tidak cukup hanya mengandalkan satu instrumen, tetapi juga harus mempertimbangkan konteks krisis serta arah kebijakan ekonomi global.
"Investor perlu mencermati arah kebijakan bank sentral, bukan hanya isu geopolitik. Saat ini, faktor moneter justru sering kali lebih menentukan," tandasnya.
Berita Terkait
-
Ambisi Swasembada Gula 2028 Terganjal Mesin Tua dan Kiamat Lahan
-
Harga BBM RI Naik, Emas Antam Langsung Meroket
-
Rata-rata Lama Sekolah Warga RI Cuma 8,8 Tahun, Tantangan Utama Indonesia Emas 2045
-
Harga Emas Antam Terus Terjungkal Hari Ini, Dibanderol Rp 2.868.000/Gram
-
Harga Emas Antam Longsor Lagi Jadi Rp 2.888.000/Gram, Cek Daftarnya
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
- 3 HP Murah dengan Kamera Underwater Rp2 Jutaan, Cocok Buat Foto dan Video dalam Air
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Usai OTT, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Resmi Ditahan KPK
-
3 Rekomendasi Moisturizer untuk Mengecilkan Pori-Pori, Wajah Mulus dan Glowing
-
Di Balik Hibah Kapal Induk Italia, Ada Ambisi Kejar Tayang 5 Oktober yang Bisa Sedot Anggaran Jumbo
-
Resmi Pakai Rompi Oranye KPK, Bupati Lombok Barat Bungkam Soal 3 Perkara yang Menjeratnya
-
4 Hydrating Sheet Mask Ampuh Berikan Hidrasi Ekstra untuk Skin Barrier Kuat
-
Keluh Kesah PPPK Paruh Waktu Dinkes DKI di Balai Kota: Janji Setara ASN, Realita Jauh dari Kata
-
Pabrik Tekstil di Jepara Tumbang, 670 Orang Menganggur
-
Ironi Makan Bergizi Gratis: Mengapa Daerah 3T Masih Dianaktirikan?
-
Jangan Jerat Tersangka saja, Komnas HAM Dorong Korban Dapat Pemenuhan Hak Atas Pidana Korupsi
-
Gelar Sarjana vs AI: Menagih Aksi Pemerintah Atasi Krisis Kerja Gen Z