- Jenderal Majid Mousavi mengeklaim kecepatan pengisian stok rudal dan drone Iran saat ini melampaui level sebelum perang, sementara menuding stok amunisi AS mulai menipis.
- Donald Trump menuduh Iran mencoba memeras AS lewat ancaman penutupan Selat Hormuz dan bersumpah mempertahankan blokade laut hingga Iran menyerah soal program nuklir.
- Iran sedang meninjau proposal perdamaian baru dari AS yang dibawa oleh mediator Pakistan, namun menegaskan tidak akan memberikan kompromi yang merugikan negara.
"Mereka [Iran] bertingkah sedikit lucu, seperti yang telah mereka lakukan selama 47 tahun," sindir Trump sembari mengeklaim proses negosiasi berjalan sangat baik.
Sengketa Panas di Selat Hormuz
Situasi di Selat Hormuz kembali memanas setelah militer Iran menyatakan akan tetap memberlakukan kontrol ketat selama blokade maritim Amerika Serikat belum dicabut.
Komando militer Teheran menilai Washington telah mengkhianati janji dengan terus mencegat kapal-kapal yang berlayar menuju maupun dari pelabuhan-pelabuhan Iran.
"Sampai Amerika Serikat memulihkan kebebasan bergerak bagi semua kapal yang mengunjungi Iran, situasi di Selat Hormuz akan tetap dikendalikan dengan ketat," demikian bunyi pernyataan militer Iran.
Media pemerintah Iran juga menegaskan bahwa pengelolaan penuh jalur air strategis tersebut telah kembali ke status sebelumnya di bawah manajemen ketat Angkatan Bersenjata Iran.
Sikap tegas ini diambil sebagai respons atas pernyataan Trump yang bersikeras bahwa blokade Amerika Serikat tetap berlaku penuh sampai Iran tunduk pada tuntutan nuklir Washington.
Bagi Teheran, kendali atas Selat Hormuz adalah harga mati yang tidak bisa ditawar sebagai bentuk perlindungan atas kepentingan ekonomi nasional dari gangguan asing.
Pesan Tegas Melalui Mediator Pakistan
Baca Juga: Perang Terbuka! AS Klaim Tembak Kapal Iran di Selat Hormuz
Di tengah saling gertak tersebut, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengonfirmasi bahwa mereka sedang meninjau "proposal baru" yang disampaikan oleh Amerika Serikat melalui mediator.
Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan hadir di Teheran sebagai perantara untuk mencoba menjembatani kebuntuan komunikasi antara kedua negara yang bertikai tersebut.
"Dalam beberapa hari terakhir, dengan kehadiran komandan tentara Pakistan di Teheran sebagai perantara dan mediator dalam negosiasi, proposal baru telah diajukan oleh Amerika, yang saat ini sedang ditinjau oleh Republik Islam Iran dan belum ditanggapi," tulis pernyataan resmi Dewan Keamanan.
Namun, Iran memberikan peringatan keras bahwa tim negosiasi mereka tidak akan memberikan kompromi sekecil apa pun yang merugikan kedaulatan bangsa.
"Delegasi perunding Iran tidak akan melakukan kompromi, mundur, atau melunak sedikit pun, dan akan membela dengan sekuat tenaga kepentingan bangsa Iran," tegas lembaga tersebut.
Keteguhan Iran ini menunjukkan bahwa mereka lebih memercayai kekuatan rudal dan drone buatan dalam negeri dibandingkan janji-janji diplomatik Donald Trump yang sering kali berubah-ubah.
Latar Belakang Konflik
Konflik antara Iran melawan aliansi Amerika Serikat dan Israel telah memasuki pekan ketujuh sejak serangan awal yang dimulai pada akhir Februari lalu.
Gencatan senjata sementara yang dimediasi oleh Pakistan saat ini menjadi satu-satunya napas bagi stabilitas kawasan, meskipun kedua pihak terus meningkatkan kewaspadaan militer.
Amerika Serikat terus berupaya menekan program nuklir Iran melalui blokade ekonomi, sementara Iran membalasnya dengan dominasi militer di Selat Hormuz yang mengancam pasokan energi global.
Hingga saat ini, belum ada jaminan bahwa gencatan senjata tersebut akan berubah menjadi perdamaian permanen selama tuntutan kedaulatan Iran belum dipenuhi secara utuh oleh Washington.
Berita Terkait
-
Bela Paus Leo XIV, Menlu Prancis Anggap Pernyataan Donald Trump Tidak Bisa Diterima
-
Harga Minyak Dunia Melonjak 6 Persen Usai Iran Tutup Selat Hormuz, Brent Tembus 96 Dolar AS
-
Iran Bersedia Negosiasi tapi Siap Perang! Teheran Ogah Tunduk pada Tipu Daya AS
-
Kapal Touska Disita, Iran Pastikan akan Balas Tindakan Amerika Serikat
-
AS Luncurkan Robot Bawah Laut di Selat Hormuz, Sita Kapal Kapal Iran
Terpopuler
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial
- 3 HP Murah Samsung Terlaris Global Q1 2026: Mulai Sejutaan, Kamera Sudah OIS
- Ironi Letjen Lodewyk Pusung: 32 Tahun Setia di Militer, Tumbang dalam 1,5 Tahun Urus Gizi Nasional
Pilihan
-
Terbukti Korupsi! Immanuel Ebenezer 'Noel' Dijatuhi Hukuman 4,5 Tahun dan Denda Rp200 Juta
-
Purbaya Bantah Kabar Akan Dicopot dari Kursi Menteri Keuangan
-
Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
-
Wamen Imipas Silmy Karim Ditahan KPK, Terborgol Pakai Rompi Oranye Usai Drama Menyerahkan Diri
-
Mengejutkan! Ini Pesan Terakhir Wamen Imipas Silmy Karim Sebelum Dicari KPK Terkait OTT Imigrasi
Terkini
-
AJI dan PBHI Soroti Batalyon Teritorial Pembangunan: Demokrasi Dipersempit, Pers Terancam Dibungkam
-
Istana Jadwalkan Pelantikan Pimpinan BGN Nanik S Deyang Dkk Pekan Depan
-
Prasetyo Hadi Ungkap Alasan Prabowo Pilih Nanik S Deyang Pimpin BGN
-
Roman Politik di Balik Harlah Pancasila, Kenapa Jokowi Tak Diundang?
-
Konflik Lahan Rumpin vs TNI AU Belum Tuntas, Warga Kembali Mengadu di Aksi Kamisan
-
Said Iqbal Dikabarkan Masuk Kabinet Prabowo, Tinggal Tunggu Pelantikan?
-
KPK Bongkar Transaksi Aneh Anak Buah Silmy Karim: Bayar Rumah Mewah Pakai Kepingan Emas
-
Modus Licin Staf Imigrasi, Pakai Rekening OB dan Cleaning Service Buat Tampung Duit Suap Izin WNA
-
Kejagung Diminta Usut Tuntas Korupsi MBG Dadan Cs dan Dugaan Monopoli Dapur
-
Resmi! Prabowo Berhentikan Silmy Karim dari Jabatan Wamen Imipas