Bisnis / Energi
Senin, 20 April 2026 | 10:09 WIB
Ilustrasi kapal yang berada di sekitar Selat Hormuz. [Suara.com/AI-HD]
Baca 10 detik
  • Harga minyak dunia melonjak hingga tujuh persen pada 20 April 2026 akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
  • Penutupan kembali jalur distribusi vital di Selat Hormuz dipicu oleh konflik antarkedua negara terkait pelanggaran gencatan senjata.
  • Gejolak tersebut berdampak signifikan terhadap ekonomi global karena Selat Hormuz menyuplai dua puluh persen distribusi minyak dunia.

Suara.com - Harga minyak dunia melonjak 6 persen pada perdagangan Senin, 20 April 2026, setelah sebelumnya sebelumnya anjlok 9 persen di akhir pekan lalu.

Kenaikan tajam ini dipicu oleh penutupan kembali jalur distribusi vital di Selat Hormuz akibat ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Iran.

Kedua negara tersebut saling tuduh atas pelanggaran gencatan senjata menyusul insiden serangan terhadap kapal kargo selama Sabtu dan Minggu.

Mengutip dari CNBC, harga minyak mentah berjangka Brent melonjak 6,11 dolar AS atau 6,76 persen , menjadi 96,49 dolar AS per barel pada pukul 23.27 GMT (06.27 WIB ), sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di level 90,38 dolar AS per barel, naik 6,53 dolar AS atau 7,79 persen.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran semakin meruncing setelah Presiden Donald Trump mengonfirmasi penyitaan sebuah kapal kargo Iran yang berupaya menembus blokade laut AS.

Meski diancam dengan serangan udara susulan, pihak Iran secara tegas menolak untuk kembali ke meja perundingan damai.

Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas setelah kapal perusak Angkatan Laut AS, USS Spruance (DDG-111), mencegat kapal kargo Iran yang mencoba menembus blokade laut. [NY Post]

Saat ini, kedua negara saling mengunci jalur logistic, dimana AS memblokade pelabuhan Iran, sementara Iran kembali menutup Selat Hormuz.

Konflik yang telah berlangsung selama hampir dua bulan ini sangat berdampak pada ekonomi global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur krusial yang melayani 20 persen distribusi minyak dunia sebelum pecahnya perang.

Kepala riset MST Marquee, Saul Kavonic, menyatakan bahwa pasar minyak terus bergejolak dipengaruhi oleh sentimen dari pernyataan di media sosial oleh pemerintah Amerika Serikat dan Iran yang tidak menentu.

Baca Juga: Kurs Rupiah Hari Ini Menguat ke Rp17.172 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

"Pasar minyak terus berfluktuasi sebagai respons terhadap unggahan media sosial yang berubah-ubah dari AS dan Iran, alih-alih realitas di lapangan yang tetap menjadi tantangan bagi kelancaran aliran minyak untuk pulih dengan cepat,” kata Kavonic.

Pada perdagangan hari Jumat, kedua kontrak harga minyak mengalami kemerosotan harian paling tajam sejak 18 April. Penurunan harga yang signifikan ini dipicu oleh pernyataan pihak Iran yang menjamin keamanan jalur kapal dagang di Selat Hormuz selama masa gencatan senjata masih berlaku.

Selain itu, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh pernyataan Trump yang mengklaim telah adanya kesepakatan dengan Iran untuk tidak lagi menutup jalur distribusi vital tersebut pada masa mendatang.

"Pengumuman pembukaan Selat tersebut terbukti terlalu dini. Para pemilik kapal akan dua kali lebih berhati-hati untuk kembali menuju Selat tersebut tanpa mendapatkan keyakinan yang lebih besar bahwa jalur pelayaran yang diumumkan itu benar-benar nyata," kata Kavonic.

Berdasarkan data dari Kpler, volume lalu lintas di Selat Hormuz mencapai puncaknya pada hari Sabtu dengan lebih dari 20 kapal yang melintas.

Kapal-kapal tersebut membawa berbagai komoditas penting seperti minyak, LPG, logam, hingga pupuk. Angka ini mencatatkan rekor jumlah pelintasan kapal tertinggi dalam satu hari sejak 1 Maret.

Load More