News / Internasional
Senin, 20 April 2026 | 10:15 WIB
Iran manfaatkan gencatan senjata untuk timbun rudal dan drone saat Donald Trump sibuk beri janji manis. Simak eskalasi terbaru di Selat Hormuz dan tawaran rahasia AS. [Tangkap layar X]
Baca 10 detik
  • Jenderal Majid Mousavi mengeklaim kecepatan pengisian stok rudal dan drone Iran saat ini melampaui level sebelum perang, sementara menuding stok amunisi AS mulai menipis.
  • Donald Trump menuduh Iran mencoba memeras AS lewat ancaman penutupan Selat Hormuz dan bersumpah mempertahankan blokade laut hingga Iran menyerah soal program nuklir.
  • Iran sedang meninjau proposal perdamaian baru dari AS yang dibawa oleh mediator Pakistan, namun menegaskan tidak akan memberikan kompromi yang merugikan negara.

Suara.com - Di saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump sibuk melontarkan retorika manis ke publik, Republik Islam Iran bergerak cepat memperkuat persediaan tempur mereka dengan menimbun stok rudal dan drone secara masif.

Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Majid Mousavi, mengeklaim intensitas pengisian ulang platform peluncuran senjata mereka selama periode gencatan senjata ini telah melampaui level sebelum perang dimulai.

Teheran tampaknya tidak ingin terbuai dengan diplomasi "omon-omon" Washington, mengingat militer Amerika Serikat masih bersikeras mempertahankan blokade laut yang ilegal di perairan strategis Selat Hormuz.

Persiapan Tempur di Tengah Gencatan Senjata

Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Majid Mousavi. [Dok. Tasnimnews]

Jenderal Majid Mousavi menegaskan bahwa pasukannya sedang dalam kondisi kesiagaan operasional tertinggi meski pembicaraan damai sedang diupayakan oleh berbagai pihak.

Melalui unggahan video yang menunjukkan aktivitas pemeliharaan dan rekonstruksi tumpukan rudal, Mousavi memberikan pesan yang sangat menohok bagi militer Amerika Serikat.

"Selama periode gencatan senjata, kecepatan kami dalam memperbarui dan mengisi ulang platform peluncuran rudal dan drone bahkan lebih besar daripada sebelum perang," tegas sang jenderal dikutip dari Tasnim News, Senin (20/4/2026).

Ia bahkan menyindir kondisi militer Amerika Serikat yang dianggapnya sudah kehabisan napas dan kesulitan dalam menyediakan logistik tempur bagi pasukannya sendiri di kawasan.

"Kami memiliki informasi bahwa musuh tidak mampu menciptakan kondisi seperti itu untuk dirinya sendiri dan terpaksa mendatangkan amunisi dari belahan dunia lain secara perlahan-lahan," tambah Mousavi.

Baca Juga: Perang Terbuka! AS Klaim Tembak Kapal Iran di Selat Hormuz

Arogansi Donald Trump di Ruang Oval

Di belahan dunia lain, Donald Trump justru menanggapi manuver kedaulatan Iran dengan nada meremehkan sekaligus arogan.

Berbicara dari Gedung Putih, Trump memperingatkan Teheran agar tidak mencoba "memeras" Amerika Serikat melalui ketegangan di Selat Hormuz.

"Kami sedang berbicara dengan mereka. Mereka ingin menutup selat itu lagi — Anda tahu, seperti yang telah mereka lakukan selama bertahun-tahun — dan mereka tidak bisa memeras kami," ujar Trump dikutip dari NDTV.

Meski melontarkan ancaman, Trump secara kontradiktif menunjukkan optimisme bahwa kesepakatan akan segera tercapai dalam waktu dekat.

Trump bahkan menyebut taktik diplomasi Iran selama ini sebagai tindakan yang "sedikit lucu" bagi pemerintahan Amerika Serikat.

"Mereka [Iran] bertingkah sedikit lucu, seperti yang telah mereka lakukan selama 47 tahun," sindir Trump sembari mengeklaim proses negosiasi berjalan sangat baik.

Sengketa Panas di Selat Hormuz

Situasi di Selat Hormuz kembali memanas setelah militer Iran menyatakan akan tetap memberlakukan kontrol ketat selama blokade maritim Amerika Serikat belum dicabut.

Komando militer Teheran menilai Washington telah mengkhianati janji dengan terus mencegat kapal-kapal yang berlayar menuju maupun dari pelabuhan-pelabuhan Iran.

"Sampai Amerika Serikat memulihkan kebebasan bergerak bagi semua kapal yang mengunjungi Iran, situasi di Selat Hormuz akan tetap dikendalikan dengan ketat," demikian bunyi pernyataan militer Iran.

Media pemerintah Iran juga menegaskan bahwa pengelolaan penuh jalur air strategis tersebut telah kembali ke status sebelumnya di bawah manajemen ketat Angkatan Bersenjata Iran.

Sikap tegas ini diambil sebagai respons atas pernyataan Trump yang bersikeras bahwa blokade Amerika Serikat tetap berlaku penuh sampai Iran tunduk pada tuntutan nuklir Washington.

Bagi Teheran, kendali atas Selat Hormuz adalah harga mati yang tidak bisa ditawar sebagai bentuk perlindungan atas kepentingan ekonomi nasional dari gangguan asing.

Pesan Tegas Melalui Mediator Pakistan

Di tengah saling gertak tersebut, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengonfirmasi bahwa mereka sedang meninjau "proposal baru" yang disampaikan oleh Amerika Serikat melalui mediator.

Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan hadir di Teheran sebagai perantara untuk mencoba menjembatani kebuntuan komunikasi antara kedua negara yang bertikai tersebut.

"Dalam beberapa hari terakhir, dengan kehadiran komandan tentara Pakistan di Teheran sebagai perantara dan mediator dalam negosiasi, proposal baru telah diajukan oleh Amerika, yang saat ini sedang ditinjau oleh Republik Islam Iran dan belum ditanggapi," tulis pernyataan resmi Dewan Keamanan.

Namun, Iran memberikan peringatan keras bahwa tim negosiasi mereka tidak akan memberikan kompromi sekecil apa pun yang merugikan kedaulatan bangsa.

"Delegasi perunding Iran tidak akan melakukan kompromi, mundur, atau melunak sedikit pun, dan akan membela dengan sekuat tenaga kepentingan bangsa Iran," tegas lembaga tersebut.

Keteguhan Iran ini menunjukkan bahwa mereka lebih memercayai kekuatan rudal dan drone buatan dalam negeri dibandingkan janji-janji diplomatik Donald Trump yang sering kali berubah-ubah.

Latar Belakang Konflik

Konflik antara Iran melawan aliansi Amerika Serikat dan Israel telah memasuki pekan ketujuh sejak serangan awal yang dimulai pada akhir Februari lalu.

Gencatan senjata sementara yang dimediasi oleh Pakistan saat ini menjadi satu-satunya napas bagi stabilitas kawasan, meskipun kedua pihak terus meningkatkan kewaspadaan militer.

Amerika Serikat terus berupaya menekan program nuklir Iran melalui blokade ekonomi, sementara Iran membalasnya dengan dominasi militer di Selat Hormuz yang mengancam pasokan energi global.

Hingga saat ini, belum ada jaminan bahwa gencatan senjata tersebut akan berubah menjadi perdamaian permanen selama tuntutan kedaulatan Iran belum dipenuhi secara utuh oleh Washington.

Load More