News / Nasional
Senin, 20 April 2026 | 14:07 WIB
Peluncuran program Kampung Pancasila. (Dok: Pemkot Surabaya)

"Jadi kalau ada masalah fasum (fasilitas umum) atau anak tidak bisa sekolah, itu harusnya selesai di RW dengan pemerintah kotanya turun. Tapi apakah pemerintah kota (sendiri) bisa? Tentu tidak bisa kalau tidak ada laporan, tidak ada pergerakan dari RW. Karena itu saya berharap setiap RW akan didampingi oleh ASN," katanya.

Di samping itu, Wali Kota Eri juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan kelompok keagamaan, untuk terlibat aktif dalam pendampingan Kampung Pancasila. Baginya, keberhasilan Surabaya dalam menuntaskan berbagai persoalan, tidak hanya ditentukan oleh pemerintah melainkan gotong royong warga.

"Insyaallah kita akan bergerak bersama, kita akan bergandengan tangan untuk menjadikan Surabaya sejahtera. Bukan karena wali kotanya, tapi karena RT/RW, PKK, KSH, dan tokoh masyarakat yang ada di Surabaya," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Kampung Pancasila Kota Surabaya Irvan Widyanto menambahkan bahwa program ini diarahkan untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat di tingkat RW dengan menitikberatkan pada nilai gotong royong.

"Program Kampung Pancasila ini sendiri bagaimana memberdayakan seluruh unsur masyarakat yang ada di level RW untuk bersama-sama berkolaborasi," kata Irvan.

Irvan juga menuturkan gagasan Kampung Pancasila tidak lepas dari pengalaman Surabaya saat menghadapi pandemi Covid-19. Pada masa itu, nilai-nilai gotong royong tumbuh secara spontan di tengah masyarakat tanpa menunggu intervensi pemerintah.

"Di semua (kampung) itu terjadi, dan itu tanpa diperintah. Jadi spontanitas gotong royong (warga) dilakukan untuk mengatasi masalah di kampung itu sendiri," tutur Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya ini.

Pengalaman tersebut kemudian dirumuskan Wali Kota Eri Cahyadi menjadi filosofi Kampung Pancasila, dengan memperkuat solidaritas sosial di tingkat RW untuk membantu warga yang membutuhkan. Karenanya, program ini menyasar berbagai persoalan, mulai dari pencegahan stunting dan gizi buruk, akses pendidikan bagi anak, hingga pemberdayaan ekonomi warga.

Sebagai bentuk penguatan Kampung Pancasila, Pemkot Surabaya menerjunkan sekitar 12.000 ASN sebagai pendamping. ASN dan para pemuda di wilayah setempat akan mendampingi 1.361 RW agar program ini berjalan efektif dan menjangkau kebutuhan warga secara langsung.

Baca Juga: Sukses Berkolaborasi untuk Lingkungan, Pemkot Surabaya Raih 14 Penghargaan

"Kurang lebih sekitar 12.000 ASN yang ada di pemerintah kota itu ditujukan secara langsung untuk menjadi ASN Pendamping. Total ada 1.361 RW itu akan didampingi ASN pendamping untuk bersama-sama dengan warga masyarakat," terang Irvan.

Dalam pelaksanaannya, Kampung Pancasila dibagi ke dalam empat pilar utama. Keempat pilar tersebut meliputi lingkungan, kemasyarakatan, ekonomi, dan sosial budaya. Irvan pun menggarisbawahi kunci keberhasilan program terletak pada keterlibatan seluruh elemen masyarakat. "Jadi diharapkan semua elemen terlibat tanpa memandang suku, tanpa memandang agama apapun," tutupnya. (ADV)

Load More