- Pemerintah AS khawatir harga bensin melampaui 3 dolar per galon akibat konflik di Timur Tengah jelang pemilu.
- Konflik antara AS, Israel, dan Iran menyebabkan gangguan distribusi minyak global melalui jalur penting Selat Hormuz.
- Presiden Trump menepis pernyataan Menteri Energi Wright mengenai prediksi kenaikan harga bensin hingga tahun depan mendatang.
Suara.com - Pemerintahan Amerika Serikat (AS) mulai ketar-ketir terkait akibat dampak konflik Timur Tengah.
Mereka bahkawan khawatir terhadap dampak politik jika harga bensin melampaui 3 dolar AS (sekitar Rp51.300) per galon.
“Jika kita tidak melihat harga bensin 3 dolar per galon, kita akan terpukul,” kata sumber yang dekat dengan Gedung Putih, seperti dikutip Politico, Selasa (21/4/2026).
Laporan tersebut menyebutkan bahwa para ahli strategi di dalam dan sekitar pemerintahan Presiden Donald Trump menyadari bagaimana situasi pasar energi kemungkinan akan berkembang saat AS memasuki musim pemilu pada musim gugur ini.
Sebelumnya pada hari yang sama, Trump mengatakan bahwa Menteri Energi Chris Wright keliru ketika menyebut harga bensin di AS mungkin tidak akan turun hingga tahun depan.
Ketika ditanya kapan harga akan turun, presiden menjawab “segera setelah ini berakhir.”
Pada Minggu, Wright menyatakan bahwa harga bensin kemungkinan tidak akan kembali ke tingkat sebelum konflik Iran pada tahun ini.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan diri.
Baca Juga: Detik-detik Penembakan Massal di Kampus Iowa AS, 5 Orang Jadi Korban, Pelaku Belum Ditangkap
Eskalasi tersebut hampir menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, sehingga mendorong kenaikan harga bahan bakar.
Pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan.
Pembicaraan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa hasil. Meski tidak ada pengumuman dimulainya kembali permusuhan, AS mulai memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Berita Terkait
Terpopuler
- Maarten Paes Mulai Kehilangan Tempat di Ajax, Petinggi PSSI Pasang Badan
- 4 HP Xiaomi RAM 8 GB Snapdragon Paling Murah untuk Berbagai Kebutuhan
- Jalan Kolmas Ditutup Total 67 Hari, Polres Cimahi Siapkan Dua Jalur Alternatif
- 3 Rekomendasi HP vivo RAM 8 GB Snapdragon Paling Murah untuk Dipilih
- KBRI Kuala Lumpur Digeruduk, Warga Malaysia Desak Prabowo Buka Nama Perusahaan Terlibat Karhutla
Pilihan
-
Kedutaan Besar Negara Asing Keluarkan Peringatan untuk Warganya Pasca Erupsi Anak Krakatau
-
Kabut Asap Makin Pekat, Doa Apa yang Bisa Dibaca Muslim? Ini Bacaan Perlindungannya
-
Jakarta Terdampak Abu Vulkanik Anak Krakatau, Pemprov DKI Terapkan PJJ Mulai Besok
-
Badan Geologi Ungkap Kondisi Anak Krakatau Terkini: Tak Ada Potensi Runtuh Picu Tsunami
-
Terungkap! Sebelum Audiensi dengan Pimpinan DPR, Botok Ditelpon Prabowo
Terkini
-
IHSG Diprediksi Melemah Terbatas, Saham Ini Dinilai Bisa Cuan
-
Jateng Disebut 'Minimarket Bencana', Ahmad Luthfi Minta Relawan Bergerak Cepat!
-
Xiaomi SU7 Makin Buas, Sedan Listrik Pintar dengan Jangkauan hingga 902 Km
-
Asap Karhutla Belum Reda, Siswa di Pekanbaru Kembali Belajar dari Rumah
-
Imbas Abu Krakatau! Penutupan 7 Bandara Termasuk Soetta dan Halim Diperpanjang Sampai Senin Pagi
-
Saham CUAN dan BUMI Masuk 'Radar' di Tengah Gejolak Inflasi
-
Erupsi Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, TransNusa Siapkan Opsi Ubah Jadwal hingga Refund
-
Erupsi Anak Krakatau, Menkomdigi Minta Warga Saring Informasi Sebelum Sebarkan
-
3 Shio yang Meraih Keberuntungan dan Nasib Baik 7-13 September 2026, Kamu Termasuk?
-
Makna Lagu 'CLICK' Jisoo BLACKPINK, Saat Teman Mulai Jadi Cinta