- Menteri Arifah melaporkan Indeks Pembangunan Gender Indonesia tahun 2024 mencapai angka 91,85 dengan peningkatan yang lambat.
- Data BPS 2024 menunjukkan Indeks Ketimpangan Gender sebesar 0,421 akibat kesenjangan kesehatan reproduksi, ekonomi, serta keterwakilan perempuan di parlemen.
- Pemerintah mendorong perempuan menjadi subjek utama pembangunan nasional.
Suara.com - Menteri PPPA, Arifah Fauzi, memaparkan sejumlah data yang menunjukkan ketimpangan gender di Indonesia masih berlangsung hingga saat ini.
Ia mengungkap capaian Indeks Pembangunan Gender (IPG) memang menunjukkan tren peningkatan, namun belum signifikan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) angka IPG pada tahun 2024 tercatat sebesar 91,85 yang menunjukkan bahwa capaian pembangunan perempuan relatif terus menunjukkan tren yang meningkat setiap tahun walaupun persentase peningkatannya berjalan lambat dalam satu dekade terakhir.
Sementara itu, ketimpangan masih terlihat dari Indeks Ketimpangan Gender (IKG).
“IKG pada tahun 2024 berada pada angka 0,421. Meskipun mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, angka ini tetap menunjukkan adanya ketimpangan dalam aspek kesehatan reproduksi, pemberdayaan, dan partisipasi ekonomi perempuan," kata Arifah dalam pernyataan Hari Kartini 2026, Selasa (21/4/2026).
Arifah juga menyoroti persoalan konkret yang masih dihadapi perempuan, khususnya di sektor kesehatan dan ketenagakerjaan.
Perempuan yang melahirkan tidak di fasilitas kesehatan yang mencapai 24,8 persen, serta proporsi perempuan yang melahirkan pertama kali di usia kurang dari 20 tahun yang masih terjadi.
Sementara itu, di bidang ketenagakerjaan, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan juga lebih rendah dibandingkan laki-laki, yaitu sekitar 56,42 persen, dibandingkan laki-laki sebesar 84,66 persen.
Selain itu, keterwakilan perempuan di politik juga masih terbatas.
Baca Juga: Menteri PPPA Kecam Dugaan Pelecehan di FH UI, Minta Pelaku Dihukum Tegas Sesuai UU TPKS
“Di bidang politik, keterwakilan perempuan di parlemen berada pada kisaran 15 persen pada DPRD tingkat Kabupaten Kota/kabupaten, 15 persen pada DPRD Provinsi dan 22 persen pada posisi legislator di DPR RI," tutur Arifah.
Menurut Arifah, pemerintah saat ini terus mendorong penguatan peran perempuan dalam pembangunan nasional agar tidak lagi sekadar menjadi penerima manfaat.
Arifah menegaskan pentingnya memastikan perempuan memiliki posisi strategis.
Dia menekankan bahwa perempuan harus ditempatkan sebagai aktor utama dalam pembangunan, bukan hanya sebagai objek.
“Dengan demikian, perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga subyek berdaya yang mampu menentukan arah dan masa depan bangsa," ucapnya.
Berita Terkait
-
Semangat Kartini Belum Tuntas, Menteri PPPA Ungkap Ketimpangan Gender Masih Nyata di Indonesia
-
Kasus Kekerasan Seksual Libatkan Oknum Polisi di Jambi, Menteri PPPA Minta Diadili di Peradilan Umum
-
Menteri PPPA: Hentikan Normalisasi Candaan Merendahkan Martabat Perempuan
-
Menteri PPPA Kecam Dugaan Pelecehan di FH UI, Minta Pelaku Dihukum Tegas Sesuai UU TPKS
Terpopuler
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 5 Tinted Sunscreen yang Bagus untuk Flek Hitam dan Melasma
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
Bibit Bom Waktu Harga Pangan Bakal Meroket Imbas Perang AS - Iran Dimulai dari Sini
-
Gencatan Senjata AS-Iran Berakhir 22 April, Begini Analisis Pakar Hubungan Internasional
-
11 Ilmuwan Nuklir Tewas Misterius, DPR AS Bakal Periksa Kementerian Perang
-
Pengamat Sebut Amerika Serikat 'Kalah' di Perang Iran: Kas Negara Boncos, Tujuan Tak Tercapai
-
Menghitung Efek Domino Perang Iran: Keuangan Rumah Tangga, Harga BBM hingga Cicilan KPR
-
Respons Pernyataan Cak Imin, Gus Ulil: Dari Dulu NU Dipimpin Ulama!
-
Megawati di Hari Kartini: Terus Ajarkan Semangat Perjuangan Agar RI Terbebas dari Ketidakadilan
-
Media Belanda Soroti Kenapa Hari Kartini Tak Dijadikan Hari Libur Nasional?
-
AS Akui 415 Serdadunya Jadi Korban Perang Iran, Mayoritas Otaknya Terganggu
-
Kapal Perang Israel Tembak Mati Wanita Palestina di Pantai Gaza