News / Nasional
Selasa, 21 April 2026 | 14:21 WIB
Ira Puspita Rahayu, pengemudi perempuan Transjakarta. (Suara.com/Lilis Varwati)
Baca 10 detik
  • Ira Puspita Rahayu resmi menjadi pramudi Transjakarta sejak 2024 setelah menempuh seleksi ketat dan pelatihan profesional.
  • Ira menjalankan rute Kampung Rambutan–Ciputat dengan tanggung jawab besar menjaga keselamatan ratusan penumpang setiap harinya.
  • Mantan perawat ini berhasil melawan stigma negatif perempuan pengemudi bus melalui kesabaran serta dedikasi tinggi bekerja.

Suara.com - Matahari belum terbit, tapi Ira Puspita Rahayu sudah memulai harinya. Pukul 3 pagi, ia tiba di pool Transjakarta, lebih awal dari kebanyakan orang memulai aktivitas.

Rutinitasnya dimulai dari pemeriksaan kesehatan, dilanjutkan dengan pengecekan kendaraan. Semua harus dipastikan aman sebelum ia duduk di balik kemudi bus besar yang akan membawanya menyusuri jalanan Jakarta.

Di balik setir itu, ada tanggung jawab besar dan cerita panjang yang jarang diketahui penumpang.

Melawan Stigma di Jalanan

Ira bertugas di rute Kampung Rambutan–Ciputat, jalur non-BRT yang menyatu dengan lalu lintas umum. Artinya, ia harus menghadapi kemacetan, kendaraan yang saling berebut jalan, hingga pengendara motor yang kerap menyalip dari berbagai arah.

Di tengah kondisi itu, bukan kecepatan yang jadi kunci, melainkan kesabaran.

Namun tantangannya bukan hanya soal jalanan. Ira juga masih harus menghadapi stigma sebagai perempuan pengemudi bus.

“Karena saya perempuan, anggapannya ‘emak-emak’ itu bawa kendaraan sembarangan. Kadang mereka memperlakukan kita tidak baik di jalan,” ujarnya saat ditemui di kantor pusat Transjakarta, Selasa (21/4/2026).

Alih-alih terpancing emosi, Ira memilih mengalah. Bukan karena tak mampu melawan, tapi karena ia sadar apa yang ia bawa bukan sekadar kendaraan.

Ada ratusan nyawa di dalamnya.

Pengalaman dan pelatihan yang ia terima sebelumnya membantunya tetap tenang menghadapi situasi tak terduga di jalan.

Perjalanan Panjang di Balik Kemudi

Perjalanan Ira menjadi pramudi bukan hal instan. Sejak 2017, ia sudah mengemudikan bus tronton di salah satu mitra Transjakarta, kendaraan yang lebih panjang dan menantang.

Selama tujuh tahun, jalanan menjadi ruang belajarnya. Hingga akhirnya pada 2024, ia resmi bergabung sebagai pramudi Transjakarta.

Untuk sampai di titik itu, Ira harus melewati berbagai tahapan seleksi, mulai dari tes tertulis, psikotes, hingga uji kemampuan mengemudi. Semua menguji fisik dan mentalnya.

Load More