Suara.com - Perubahan iklim menurut model-model ilmiah diprediksi akan menyebabkan lautan di belahan Bumi Utara menghangat lebih cepat daripada lautan di belahan Bumi Selatan.
Namun, penelitian terbaru dari Northeastern University menyoroti adanya kesenjangan antara prediksi model iklim konvensional dengan data observasi laut aktual selama 70 tahun terakhir.
Dikutip dari Phys.org, temuan yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications ini memberikan perincian bagaimana model iklim saat ini cenderung memberikan perkiraan yang berbeda dibandingkan dengan realitas yang terjadi di lapangan.
Kesenjangan Antara Pemodelan dan Observasi
Argumen bahwa belahan Bumi Utara akan lebih cepat mengalami pemanasan ini berasal dari asumsi bahwa daratan di belahan Bumi Utara lebih luas daripada belahan Bumi Selatan, dan daratan cenderung menghangat lebih cepat daripada air.
Kenyataannya, lautan di belahan Bumi Selatan tercatat mengalami pemanasan lebih cepat. Menurut assistant professor of marine and environmental sciences di Northeastern, Chengfei He, perbedaan ini muncul karena model iklim cenderung terlalu sensitif terhadap keberadaan gas rumah kaca. Ia mengungkapkan hal ini akan mengakibatkan tekanan berlebih pada umpan balik variabel seperti kecepatan angin, suhu air laut, dan penguapan yang berdampak pada cuaca tropis.
Batasan Penggunaan Rata-Rata Global
Model iklim konvensional umumnya sejalan dengan hasil pemantauan suhu laut aktual yang dilakukan oleh para ilmuan. Ini mengandalkan ukuran suhu permukaan rata-rata global untuk menilai dampak perubahan iklim. Namun, meskipun metrik ini konsisten dalam melacak kenaikan suhu rata-rata global sebesar 1,5°C sejak awal abad ke-20, metrik ini juga masih memiliki keterbatasan dalam konteks regional.
Chengfei He menekankan pentingnya penggunaan kontras suhu antarbelahan bumi, yakni perbedaan suhu permukaan laut rata-rata antara belahan bumi Utara dan Selatan. Dengan menggunakan indikator ini, perbedaan laju pemanasan yang tidak tertangkap oleh rata-rata global menjadi terlihat jelas. Inilah yang mengonfirmasi bahwa lautan di belahan Bumi Selatan memanas lebih cepat daripada belahan Bumi Utara.
Baca Juga: Riset: Perempuan Jadi Garda Terdepan Jaga Hutan dan Ketahanan Iklim
Dinamika Umpan Balik Angin Pasat
Chengfei He menyebutkan bahwa hal ini sangat rumit karena perbedaan laju pemanasan memiliki kaitan dengan mekanisme umpan balik yang melibatkan angin pasat di daerah tropis. Angin ini bergerak dari timur dan melengkung menuju khatulistiwa.
Proses yang terjadi adalah perbedaan suhu antara lautan yang menghangat dan udara di atasnya memengaruhi kekuatan angin. Lalu, angin yang lebih kuat meningkatkan penguapan uap air dari laut ke atmosfer. Proses penguapan ini dapat mendinginkan permukaan laut. Pada akhirnya, permukaan laut yang dingin kemudian meningkatkan kecepatan angin permukaan, hingga kembali memicu penguapan lebih lanjut.
Penelitian ini menemukan bahwa gas rumah kaca tidak memperkuat siklus umpan balik ini sekuat yang diprediksi oleh model konvensional. Akibatnya, pelemahan angin pasat yang diprediksi akan terjadi di belahan Bumi Utara dan memicu suhu laut lebih hangat di utara, tidak terjadi sesuai dengan simulasi model.
Dampak terhadap Distribusi Curah Hujan
Perubahan dinamika ini secara langsung memengaruhi posisi sabuk hujan tropis, yaitu wilayah sepanjang khatulistiwa sebagai tempat bertemunya angin pasat dan uap air.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- 4 Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
- 4 Sepatu Lari Lokal Harga Rp100 Ribuan dengan Ulasan Terbaik, Pas Buat Jogging
- Mengenal Sosok Alexandra Askandar, Bankir Perempuan Berpengaruh di Jajaran Top Level BUMN
Pilihan
-
Lucky Hakim Dinobatkan Sebagai Bupati Terbaik, Wakilnya Malah Jadi Tersangka
-
Dasco Pagi-pagi Kumpulkan Menkeu Purbaya dan Gubernur BI di DPR, Evaluasi Ekonomi
-
Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
-
Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
-
Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Siap Ungkap Pihak Lain
Terkini
-
Heroik! Niat Bantu Warga, Petugas Damkar Malah Tertimpa Gedung dan Harus Jalani CT Scan
-
Tolak Tawaran Masuk Pemerintahan Prabowo, Andi Gani: Saya Pilih Jadi Presiden Buruh
-
Transisi Energi di Laut Janjikan Masa Depan Hijau, Tapi Bagaimana Nasib Masyarakat Pesisir?
-
Waspada Badai PHK! Pemerintah Gelar Rapat Khusus Pekan Depan
-
Jaga Jarak Etik! Satgas PKH Harus Hindari Celah Konflik Kepentingan Dalam Penertiban
-
Kenaikan Permukaan Laut Ancam Kemampuan Mangrove Menyimpan Karbon
-
Prabowo: Jangan Takut Dihina, Saya Jadi Presiden pun Masih Sering Diejek!
-
Krisis Iklim Bikin Ruang Kelas Makin Panas: Ngaruh ke Konsentrasi Siswa?
-
Markas Love Scamming di Semarang Digerebek! 604 HP Disita, 4 WN China dan 2 WNI Ditangkap
-
Susul Jumhur Hidayat, Said Iqbal Dilantik Jadi Penasihat Prabowo Besok Senin!