-
Pernikahan di India memicu beban utang besar akibat tekanan sosial untuk menggelar pesta mewah.
-
Praktik mahar ilegal tetap berlangsung dan memicu ribuan kasus kekerasan terhadap perempuan setiap tahun.
-
Warga kurang mampu memilih pernikahan massal guna menghindari jeratan rentenir dan biaya tinggi.
Di kota-kota besar seperti Delhi, pernikahan bukan lagi sekadar penyatuan dua insan, melainkan instrumen untuk naik kasta sosial.
Layanan perjodohan profesional seperti The Vows mencatat bahwa saldo bank sering kali menjadi penentu utama dalam kesepakatan pernikahan.
Payal Mehta Chugh, seorang makelar jodoh, mengungkapkan bahwa keluarga kliennya memiliki ekspektasi yang sangat spesifik dan transaksional.
"Rekening bank, ya," kata Mehta Chugh secara terbuka.
"Dalam banyak kasus, ini sangat transaksional. Saldo bank adalah pengubah permainan, pembuat kesepakatan, sayangnya."
Rekan kerjanya, Ritika Bawa Sachdev, menambahkan bahwa kriteria fisik yang setara juga menjadi syarat mutlak bagi banyak pemesan.
"Mereka menginginkan seseorang yang berpenampilan serupa," katanya secara blak-blakan.
"Kita tidak bisa membiarkan gadis gemuk dengan pria kurus, atau sebaliknya."
Kontras dengan kemewahan di Mumbai atau Delhi, warga pedesaan mulai beralih ke pernikahan massal untuk menghindari lintah darat.
Baca Juga: Rombongan Turis India Diduga Ambil Barang Hotel di Ubud, Aksi Terbongkar Saat Check-out
Tejpal Singh, seorang tokoh masyarakat, mengorganisir acara kolektif agar para orang tua tidak perlu meminjam uang dengan bunga tinggi.
Anamika Upadhayay, salah satu pengantin muda, terpaksa memilih jalur ini karena ibunya yang merupakan orang tua tunggal tidak mampu membiayai pesta.
Pernikahan massal ini juga memberikan bantuan alat rumah tangga senilai 1.000 dolar AS untuk membantu ekonomi pasangan baru.
"Masalah terbesarnya adalah rentenir," kata Singh, merujuk pada beban bunga yang sering menghantui keluarga di desa.
Upaya ini dilakukan untuk memutus rantai kemiskinan agar dana yang ada bisa dialokasikan untuk pendidikan anak-anak mereka.
Bahaya Laten Mahar dan Kekerasan Domestik
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
- 7 Rekomendasi Lipstik Terbaik untuk Kondangan, Tetap On Point Dibawa Makan dan Minum
- Cari Mobil Bekas untuk Wanita? Ini 3 City Car Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
-
Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
Terkini
-
Militer Iran Siaga Tempur 100 Persen Tantang Serangan AS Meski Status Gencatan Senjata Diperpanjang
-
Jarang Hadir Rapat di Komisi I DPR, Ini Alasan Menlu Sugiono
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Ogah Dijebak Donald Trump, Iran Boikot Negosiasi Islamabad dan Siapkan Serangan Balasan
-
Nadiem Makarim Sebut Tuntutan 15 Tahun Ibrahim Arif Tak Masuk Akal: Ibam is One of Us
-
Balas Dendam Masalah Geng, Polisi Ciduk Dua Pelaku Penganiayaan Pelajar Berujung Tewas di Bantul
-
Bareskrim Terbitkan DPO Frendy Dona Sang Pengendali Narkotika Sabu dan Vape Etomidate
-
Polisi Nekat Peras Tersangka Rp38 Juta Buat Tutupi Kasus Judi
-
Bela Rudy Masud, Waketum Golkar: Beliau Pemimpin Low Profile dan Tidak Anti Dialog
-
Buntut Napi Korupsi Ngopi di Kendari: Supriadi Dipindah ke Nusakambangan, Karutan Resmi Dicopot