News / Metropolitan
Kamis, 23 April 2026 | 10:49 WIB
Sammy pemilik Woodstock Corner Shop di Pasar Santa, Jakarta Selatan. [Suara.com/Dinda]
Baca 10 detik
  • Pak Sammy mendirikan toko Woodstock Corner Shop di Pasar Santa, Jakarta Selatan, sejak tahun 2018 setelah pensiun dini.
  • Strategi kurasi barang yang sangat personal dan unik dilakukan untuk memenangkan persaingan melawan arus belanja e-commerce global.
  • Prinsip kesabaran, ketekunan, dan inovasi terbukti mampu mempertahankan bisnisnya melewati masa sulit pandemi hingga saat ini.

"Saya bilang, Anda coba saja cari. Nggak akan ada di Shopee, karena memang saya kurasi keras untuk itu. Saya nggak mau terlalu umum. Kalau dijual terlalu banyak umum ya kita kalah bersaing dengan online,” tegasnya.

Bertahan dari Badai Pandemi

Perjalanannya tidak selalu mulus. Saat pandemi COVID-19 menerjang, Jakarta berubah menjadi kota mati.

Pak Sammy terpaksa menutup tokonya selama tiga bulan tanpa pemasukan sepeser pun, sementara tagihan sewa tahunan yang mencekik tetap menanti.

“Jakarta kan 3 bulan kayak kota mati. Saya di rumah saja. Nggak ada online, tapi paling saya masukin ke Instagram, Facebook," ujarnya.

Hampir 17 tahun menakhodai Woodstock, Pak Sammy memegang teguh tiga prinsip yang membuatnya tetap tegak berdiri: sabar, tekun, dan inovasi.

Ia percaya bahwa seorang pedagang harus mencintai apa yang ia jual, bukan sekadar mengejar tren yang datang dan pergi.

“Pertama sebetulnya sabar menunggu. Kedua tekun dengan apa yang kita jual. Jangan melihat orang wah ramai itu (lalu) ganti haluan. Berarti kan dia nggak menekuni apa yang dia jual. Ketiga, inovasi. Inovasi mungkin kalau kayak di sini kita mencoba merubah desain apa yang dipajang,” jelasnya.

Seringkali, Pak Sammy mengandalkan "feeling" dalam menata barang. Baginya, ada daya tarik magis saat ia memajang benda tertentu yang kemudian secara instan memikat mata pelanggan.

Baca Juga: Harga Minyak Naik! Pemprov DKI Larang MinyaKita Jadi Bansos Demi Jamin Stok di Pasar

Di akhir obrolan, Pak Sammy pun menyampaikan pesan sederhana untuk generasi yang tumbuh bersama layar.

“Datanglah ke satu tempat. Jangan terlalu berharap dengan online. Karena itu juga suasana hati kita kan juga akan beda,” pesannya.

Ia lalu tersenyum, mengangkat dua jari membentuk tanda damai.

Di Woodstock, yang dijual bukan hanya pakaian. Tapi jeda. Ruang untuk bernapas. Dan pengalaman menyentuh sesuatu yang tak bisa dikirim lewat paket, di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat.

Reporter: Dinda Pramesti K

Load More