- Pak Sammy mendirikan toko Woodstock Corner Shop di Pasar Santa, Jakarta Selatan, sejak tahun 2018 setelah pensiun dini.
- Strategi kurasi barang yang sangat personal dan unik dilakukan untuk memenangkan persaingan melawan arus belanja e-commerce global.
- Prinsip kesabaran, ketekunan, dan inovasi terbukti mampu mempertahankan bisnisnya melewati masa sulit pandemi hingga saat ini.
"Saya bilang, Anda coba saja cari. Nggak akan ada di Shopee, karena memang saya kurasi keras untuk itu. Saya nggak mau terlalu umum. Kalau dijual terlalu banyak umum ya kita kalah bersaing dengan online,” tegasnya.
Bertahan dari Badai Pandemi
Perjalanannya tidak selalu mulus. Saat pandemi COVID-19 menerjang, Jakarta berubah menjadi kota mati.
Pak Sammy terpaksa menutup tokonya selama tiga bulan tanpa pemasukan sepeser pun, sementara tagihan sewa tahunan yang mencekik tetap menanti.
“Jakarta kan 3 bulan kayak kota mati. Saya di rumah saja. Nggak ada online, tapi paling saya masukin ke Instagram, Facebook," ujarnya.
Hampir 17 tahun menakhodai Woodstock, Pak Sammy memegang teguh tiga prinsip yang membuatnya tetap tegak berdiri: sabar, tekun, dan inovasi.
Ia percaya bahwa seorang pedagang harus mencintai apa yang ia jual, bukan sekadar mengejar tren yang datang dan pergi.
“Pertama sebetulnya sabar menunggu. Kedua tekun dengan apa yang kita jual. Jangan melihat orang wah ramai itu (lalu) ganti haluan. Berarti kan dia nggak menekuni apa yang dia jual. Ketiga, inovasi. Inovasi mungkin kalau kayak di sini kita mencoba merubah desain apa yang dipajang,” jelasnya.
Seringkali, Pak Sammy mengandalkan "feeling" dalam menata barang. Baginya, ada daya tarik magis saat ia memajang benda tertentu yang kemudian secara instan memikat mata pelanggan.
Baca Juga: Harga Minyak Naik! Pemprov DKI Larang MinyaKita Jadi Bansos Demi Jamin Stok di Pasar
Di akhir obrolan, Pak Sammy pun menyampaikan pesan sederhana untuk generasi yang tumbuh bersama layar.
“Datanglah ke satu tempat. Jangan terlalu berharap dengan online. Karena itu juga suasana hati kita kan juga akan beda,” pesannya.
Ia lalu tersenyum, mengangkat dua jari membentuk tanda damai.
Di Woodstock, yang dijual bukan hanya pakaian. Tapi jeda. Ruang untuk bernapas. Dan pengalaman menyentuh sesuatu yang tak bisa dikirim lewat paket, di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat.
Reporter: Dinda Pramesti K
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 SD Swasta Terbaik di Palembang dan Estimasi Biayanya, Panduan Lengkap Orang Tua 2026
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Aksi Kritik Gubernur Rudy Mas'ud 21 April, Massa Diminta Tak Tutup Jalan Umum
Pilihan
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
Terkini
-
WNI Dikurung di Malaysia, 2 Pelaku Didenda Usai Tahan Paspor Korban
-
KPK Batasi Masa Jabatan Ketua Umum Parpol 2 Periode, Siapa yang Paling Lama Menjabat?
-
UU PPRT Disahkan, Menko Cak Imin: Jaminan Sosial PRT Wajib, Bukan Lagi Pilihan!
-
Jangan Cari Kenyamanan Pribadi, Menhaj ke Petugas Haji: Kita Datang untuk Melayani, Bukan Dilayani!
-
Kolaborasi Lintas Instansi Jadi Kunci Sukses Transformasi Digital Pemerintah
-
Daftar Korporasi Raksasa Panen Cuan dari Perang AS vs Iran: Ada Perusahaan Yahudi
-
Blokade Militer Amerika Serikat Cegat Kapal Tanker Iran Dekat Perairan Indonesia
-
Vietnam Uji Coba Larangan Motor Bensin di Pusat Kota Hanoi, Langkah Serius Tekan Polusi Udara
-
Kepala BGN Tegaskan 19.000 Sapi Bukan Kebutuhan Harian MBG: Hanya Simulasi
-
Kapal Kontainer Ditembak Kapal Perang di Dekat Selat Hormuz