- Menkeu Purbaya mengusulkan pungutan tarif kapal internasional di Selat Malaka, namun ditolak tegas oleh Malaysia dan Singapura.
- AS disebut mengincar akses di Selat Malaka sebagai jalur alternatif strategis akibat ketegangan global di Selat Hormuz.
- Menlu Sugiono menegaskan wacana pungutan tersebut bertentangan dengan hukum internasional yang menjamin hak lintas bebas kapal internasional.
Suara.com - Celetukan Menkeu Purbaya soal pungutan tarif ke kapal-kapal internasional yang melintas di Selat Malaka jadi perhatian publik internasional dan negara tetangga.
Pihak Malaysia dan Singapura tegas menolak wacana Purbaya tersebut. Kedua negara tersebut berprinsip selat Malaka harus bebas dari pungutan apapun untuk kapal internasional yang melintas.
Menariknya, salah satu media Malaysia, Says, mengulas perihal dugaan keinginan pihak Amerika Serikat yang tengah mencari jalur perayaan baru di tengah penutupan selat Hormuz oleh Iran.
Dalam laporan berjudul, The US Has Its Eyes On The Strait Of Melaka. Here’s What It Means For Malaysia, disebutkan kondisi ini tak berselang lama setelah isu soal permintaan akses militer AS di langit Indonesia.
Menurut analis keamanan Malaysia, Munira Mustaffa, menilai langkah Washington tidak lepas dari dinamika global yang lebih luas.
“AS sedang mencari titik tekanan baru di jalur perdagangan strategis,” ujarnya kepada Says seperti dikutip, Kamis (24/4).
Menurutnya, Selat Malaka kini dipandang sebagai jalur alternatif penting di tengah ketegangan di Selat Hormuz.
Selat Malaka sendiri menghubungkan Samudra Hindia dan Laut China Selatan serta menjadi jalur utama perdagangan energi dunia.
Sekitar sepertiga perdagangan global dan lebih dari separuh distribusi minyak serta gas dunia melewati perairan ini setiap tahun.
Baca Juga: Kenapa Indonesia Tidak Bisa Pungut Tarif di Selat Malaka, Akal-akalan Malaysia atau Tabrak Hukum?
Bagi Malaysia, Selat Malaka bukan sekadar jalur internasional, tetapi urat nadi ekonomi nasional.
Dua pelabuhan utama, Port Klang dan Port of Tanjung Pelepas, sangat bergantung pada arus kapal yang melintasi perairan tersebut.
“Gangguan sekecil apa pun di Selat Malaka bisa berdampak langsung pada ekonomi Malaysia,” kata Munira.
Meski Indonesia, Malaysia, dan Singapura selama ini bekerja sama menjaga keamanan selat, munculnya isu akses militer AS dinilai berpotensi menguji kesepakatan yang suda ada.
Sementara itu, menteri Pertahanan Malaysia Mohamed Khaled Nordin menegaskan tidak ada alasan bagi negara mana pun untuk mengambil alih atau mengendalikan Selat Malaka.
Nordin menilai jalur pelayaran strategis tersebut tetap aman dan berada dalam kendali negara-negara pesisir.
Berita Terkait
-
Kenapa Indonesia Tidak Bisa Pungut Tarif di Selat Malaka, Akal-akalan Malaysia atau Tabrak Hukum?
-
Wacana Tarif Purbaya, Menhan Malaysia Tegas: Tak Ada Negara Bisa Kuasai Selat Malaka!
-
Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
-
Guru Besar UGM Ingatkan Pemerintah Hati-hati soal Wacana Tarif Selat Malaka
-
Menkeu Mau Pajaki Kapal Selat Malaka, TB Hasanuddin: Bisa Picu Konflik dan Boikot Internasional
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Prabowo Bicara Persatuan Politik: Sebut PDIP dan Koalisi Punya Hati yang Sama
-
Dari Pasal 33 UUD 1945 hingga Prabowonomics, Cak Imin Bicara Mimpi Kedaulatan Ekonomi
-
Bisa Bikin Repot! Prabowo Kasih Cap 'Pemimpin Kancil' buat Dasco, Cak Imin dan Bahlil
-
Cak Imin Dukung Ekspor SDA Satu Pintu Prabowo, Sebut Ada 108 UU yang Harus Dibenahi
-
Pertamina Kilang Plaju Resmi Salurkan Biosolar B50, Tambah Pasokan Energi dari Sumatera Selatan
-
Sidang Korupsi Perkimtan Palembang Ungkap Rp440 Juta Masuk ke Eks Kadis, Lalu Mengalir ke Mana?
-
Cak Imin Minta Prabowo Revisi 108 Undang-Undang demi Kedaulatan Ekonomi
-
PKB Gaungkan Prabowonomics di Harlah ke-28, Cak Imin: Ini Bukan Akal-akalan
-
11 Warna Bedak yang Cocok untuk Kulit Hitam Manis, Dijamin Nampak Menyatu dan Flawless!
-
Cak Imin: Indonesia Kehilangan Arah Ekonomi Selama 25 Tahun