-
Aktivis Palestine Action mengalami luka akibat taser dan palu saat penangkapan di pabrik Elbit.
-
Samuel Corner mengaku memukul polisi karena penglihatannya terganggu akibat semprotan merica petugas.
-
Para terdakwa mengklaim aksi perusakan properti dilakukan demi misi kemanusiaan menghentikan produksi senjata.
Suara.com - Persidangan di Inggris mengungkap fakta mengejutkan mengenai kondisi fisik terdakwa kelompok Palestine Action yang mengalami luka-luka serius.
Laporan medis menunjukkan Leona Kamio menderita luka taser di lengan dan pinggul serta luka akibat hantaman palu besar.
Dikutip dari MME, insiden ini terjadi saat penangkapan di fasilitas milik produsen senjata asal Israel, Elbit Systems, pada Agustus 2024.
Selain Kamio, lima rekan lainnya menghadapi dakwaan perusakan properti terkait aksi paksa masuk ke pabrik di Filton tersebut.
Satu terdakwa bernama Samuel Corner juga dituduh melakukan penganiayaan berat karena diduga memukul petugas kepolisian dengan palu.
Rekaman video di pengadilan menunjukkan petugas Peter Adams mengarahkan taser ke arah Kamio sebelum menjatuhkannya ke lantai.
Kamio memberikan kesaksian bahwa sensasi terkena taser sangat menyakitkan dan membuatnya merasa kaku seketika.
“Rasanya tidak enak, sangat menyakitkan,” ujar Kamio.
Ia menceritakan bagaimana lengannya diputar dan petugas mencoba menarik pergelangan tangannya saat ia sedang berteriak kesakitan.
Baca Juga: Tragis! Bayi Kembar Jadi Korban Kekejaman Pemukim Israel di Tepi Barat Palestina
Dalam rekaman tersebut, Kamio sempat memprotes tindakan kekerasan yang ia alami kepada petugas keamanan.
“Kamu benar-benar memukulku,” teriak Kamio dalam video tersebut.
Petugas Adams membalas teriakan tersebut dengan menuduh rekan Kamio lebih dulu melakukan penyerangan menggunakan palu.
“Temanmu baru saja memukul kami dengan palu, menurutku kamulah yang bodoh,” balas Adams dalam rekaman tersebut.
Kamio menegaskan bahwa dirinya tidak mengetahui siapa yang menyebabkan luka hantaman palu pada tangannya sendiri.
Terdakwa lain, Samuel Corner, mengakui telah memukul petugas polisi namun mengklaim dalam kondisi kehilangan penglihatan.
Corner menyatakan dirinya terkena semprotan Pava yang merupakan cairan merica sintetis hingga menyebabkan rasa terbakar hebat.
“Rasanya menyengat, membakar, dan menyita seluruh perhatian. Sulit untuk fokus pada hal lain,” jelas Corner.
Kondisi tersebut membuatnya tidak menyadari bahwa orang yang dihadapinya adalah petugas kepolisian berseragam.
Ia mengira para petugas tersebut adalah petugas keamanan pribadi yang bertindak agresif terhadap rekan-rekan wanitanya.
“Saya takut dengan apa yang akan mereka lakukan terhadap kami, terutama para wanita,” ungkap Corner.
Meski mengakui tindakannya, ia menegaskan tidak memiliki niat sedikit pun untuk menyebabkan cedera serius kepada petugas.
“Tampaknya masuk akal untuk melakukan sesuatu dan saya harus bertindak cukup cepat,” tambah Corner.
“Saya benar-benar tidak tahu,” jawabnya saat ditanya jaksa mengenai potensi bahaya yang ia timbulkan.
Kamio menjelaskan motivasinya bergabung dengan Palestine Action adalah untuk menghentikan operasional pabrik senjata paling penting di Inggris.
Ia merasa tindakan merusak fasilitas pembuat senjata adalah langkah perlu untuk mencegah penderitaan manusia yang lebih besar.
“Saya masih merasa apa yang kami lakukan adalah hal yang perlu,” tegas Kamio di hadapan pengadilan.
Sebagai seorang guru TK, ia menyatakan komitmennya untuk melindungi nyawa anak-anak di atas perlindungan properti perusahaan.
“Bekerja dengan anak-anak, saya akan mendahulukan salah satu nyawa mereka sebelum properti apa pun,” lanjut Kamio.
Baginya, Elbit Systems adalah perusahaan yang sangat jahat karena menjadi tulang punggung kekuatan militer Israel.
“Saya panik karena saya berada di Elbit, ini adalah perusahaan yang sangat jahat, orang-orang yang bekerja di sana menggambarkan diri mereka sebagai tulang punggung militer Israel,” pungkas Kamio.
Meskipun memegang palu saat kejadian, ia bersumpah tidak pernah berniat untuk melukai siapa pun di lokasi tersebut.
Aksi ini merupakan bagian dari kampanye global Palestine Action untuk menutup paksa operasional Elbit Systems di seluruh dunia.
Pabrik di Filton yang menjadi sasaran merupakan fasilitas terbaru yang dibuka oleh duta besar Israel pada Juli 2023.
Para aktivis memandang fasilitas ini sebagai target utama karena perannya dalam memproduksi teknologi militer yang digunakan dalam konflik di Palestina.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
Terkini
-
KPAI Desak Pemerintah Terapkan Cukai Minuman Manis, Soroti Dampak Industri ke Anak
-
PBB Soroti Eksekusi Mati Kasus Narkoba di Singapura, Dinilai Tak Sejalan dengan HAM
-
Vietnam dan Korea Selatan Sepakati Belasan Kerja Sama, Fokus Teknologi hingga Energi Nuklir
-
China Desak Kamboja Berantas Tuntas Scam Center, Wang Yi: Harus Dihapus Sepenuhnya
-
Gedung Putih Mencari Benang Merah di Balik Kematian Jenderal dan Ilmuwan Nuklir AS William McCasland
-
Cerita di Balik Penggusuran 36 Bangunan Rumah di Cibubur
-
Guru dari Aceh hingga Papua Pasang Badan untuk Nadiem, Bongkar Fakta Chromebook
-
Thailand Siapkan Mega Proyek Rp4000 Triliun, Bikin Jembatan Darat Saingi Selat Malaka
-
Alarm KPAI: Anak Indonesia Kebanyakan Minum Manis, Ancaman Diabetes Bayangi Generasi 2045
-
Kebiadaban Israel Berlanjut: Bikin Cacat Warga Palestina, Kini Halangi Prostesis Masuk Gaza