Suara.com - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali mendorong berbagai upaya diplomasi internasional.
Namun Pakistan disebut masih menjadi mediator yang paling dipercaya dalam proses perundingan antara Amerika Serikat dan Iran.
Peran Pakistan sebagai mediator semakin terlihat sejak digelarnya pembicaraan damai di Islamabad pada April 2026.
Perundingan kedua pun disinyalir akan kembali terjadi di negara tersebut, menurut sebuah media asal Rusia.
"Iran terus menganggap Islamabad sebagai mediator yang disukai dan dapat diandalkan dalam negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat," kata sumber diplomatik Iran ke Sputnik Globe, (23/4/2026).
Pertemuan tersebut menjadi salah satu upaya penting untuk meredakan konflik dan membuka jalan bagi kesepakatan yang lebih luas, meskipun belum menghasilkan keputusan final.
Jadi Mediator
Dalam beberapa waktu terakhir, komunikasi antara Amerika Serikat dan Iran terus berlangsung secara tidak langsung melalui Pakistan. Bahkan, pertukaran pesan antara kedua negara masih terus dilakukan melalui jalur diplomatik tersebut.
Pakistan dinilai memiliki posisi strategis dalam konflik ini. Selain merupakan negara dengan kekuatan militer yang signifikan di kawasan, Pakistan juga memiliki hubungan historis dan diplomatik dengan kedua pihak. Faktor ini membuatnya lebih mudah diterima sebagai pihak netral dibandingkan negara lain.
Baca Juga: Israel Bersiap Lawan Iran Lagi, Menanti Restu dari AS
Pakistan memiliki posisi unik, di satu sisi memiliki hubungan dengan Amerika Serikat, sementara di sisi lain juga menjaga kedekatan dengan Iran. Kombinasi ini membuatnya dianggap relatif netral dibandingkan negara lain.
Bahkan, pemerintah Pakistan secara aktif mendorong perundingan lanjutan dan berupaya menjaga komunikasi tetap terbuka di tengah situasi yang sangat sensitif.
Upaya ini bukan hanya soal diplomasi, tetapi juga bagian dari strategi Pakistan untuk meningkatkan pengaruhnya di panggung internasional.
Meski Pakistan telah memfasilitasi perundingan, jalan menuju perdamaian masih jauh dari kata mudah. Perbedaan kepentingan antara Iran dan Amerika Serikat tetap menjadi hambatan utama.
Beberapa isu krusial yang belum menemukan titik temu antara lain program nuklir Iran, kebijakan sanksi, serta kontrol atas jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Situasi semakin kompleks setelah adanya insiden militer, termasuk penyitaan kapal dan blokade laut yang memicu ketegangan baru. Bahkan, hal ini sempat membuat perundingan berada di ambang kegagalan.
Berita Terkait
-
Israel Bersiap Lawan Iran Lagi, Menanti Restu dari AS
-
Iran Kecam Usulan Italia Gantikan Posisi Timnas di Piala Dunia 2026: Kebangkrutan Moral
-
Cara Culas Prajurit AS Untung Rp6,5 Miliar dari Operasi Penangkapan Nicolas Maduro
-
Teori Konspirasi Misteri Kematian dan Hilangnya Ilmuwan Riset Sensitif di AS
-
AS Siapkan Opsi Serangan Baru ke Iran, Targetkan Selat Hormuz hingga Infrastruktur Militer
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- Berapa Harga Sepatu Lari Ortuseight Ori? Ini 5 Pilihan Bagus untuk Daily Run
Pilihan
Terkini
-
Qadari Bantah Pemerintah Tone Deaf di Tengah Tekanan Ekonomi: Kritik Masyarakat Didengar
-
RS Pondok Indah Beroperasi Tanpa SLF Aktif Sejak 2024: Sedang Proses Perpanjangan
-
Pecah Kongsi? Donald Trump Ultimatum Benjamin Netanyahu: Bibi, Kamu Harus Hati-hati
-
BPJS Kesehatan Beri Kepastian Jaminan Kesehatan Para Petugas SPPG
-
Bupati Muara Enim Edison Tiba di KPK Usai Terjaring OTT
-
Qadari Bocorkan Jurus Main Saham Saat IHSG Bergejolak: Cuan 40 Persen Langsung Out
-
Donald Trump Pede Akan Umumkan Kemenangan Mutlak Perang dengan Iran
-
DPR Bersiap Sahkan RUU Polri Hari Ini, Keputusan Final Ditentukan di Paripurna
-
Jual Mobil Demi Keliling Dunia, Pesepeda Wanita Iran Ini Ungkap Rahasia Bahagia Lewat 'Slow Life'
-
Ayatollah Mojtaba Khamenei: Rezim Zionis Goyang, Tunggu Beberapa Hari Lagi Berakhir