News / Internasional
Sabtu, 25 April 2026 | 10:01 WIB
Hashim Finyan Rahim al-Saraji (NDTV)
Baca 10 detik

Amerika Serikat menawarkan hadiah Rp172 miliar untuk informasi lokasi pemimpin militan Hashim Al-Saraji.

Kelompok KSS pimpinan Al-Saraji dituduh menyerang warga sipil dan fasilitas diplomatik Amerika Serikat.

Washington memberikan jaminan keamanan dan relokasi bagi informan yang membantu penangkapan tokoh militan tersebut.

Suara.com - Amerika Serikat mengambil langkah drastis dengan menawarkan sayembara senilai 10 juta dolar AS untuk melacak Hashim Finyan Rahim al-Saraji.

Keputusan besar ini diambil Departemen Luar Negeri AS karena sosok tersebut dianggap sebagai ancaman keamanan yang sangat krusial.

Al-Saraji merupakan pemimpin kelompok Kata'ib Sayyid ul-Shuhada (KSS) yang memiliki pengaruh besar dalam eskalasi konflik regional.

Presiden AS, Donald Trump. [IG/@realdonaldtrump]

Tawaran ini menjadi sinyal kuat dari Washington untuk memutus rantai serangan terhadap aset-aset diplomatik mereka di Timur Tengah.

Keterlibatan kelompok ini diduga kuat didukung oleh kekuatan regional Iran dalam melakukan berbagai aksi sabotase.

"Imbalan hingga Rp172 miliar untuk informasi tentang Pemimpin KSS Hashim Finyan Rahim al-Saraji," kata RFJ di platform X.

Kelompok ini dituding menjadi otak di balik serangkaian kekerasan yang merenggut nyawa warga sipil di Irak.

Tidak hanya warga lokal, personel dan pangkalan militer Amerika di Irak serta Suriah turut menjadi target utama.

Fasilitas diplomatik yang seharusnya menjadi zona netral juga tidak luput dari serangan intensif kelompok tersebut.

Baca Juga: Ilmuwan AS Tewas dan Hilang Beruntun, dari Peneliti Nuklir hingga Pengamat UFO

Informasi mengenai keberadaan tokoh ini sangat dinantikan melalui saluran komunikasi aman seperti Tor atau Signal.

Pemerintah Amerika Serikat menjanjikan jaminan perlindungan berupa relokasi bagi informan yang memberikan data akurat dan valid.

Langkah ini menyusul tawaran sebelumnya pada 1 April senilai 3 juta dolar AS terkait teror di fasilitas diplomatik.

Tekanan diplomatik juga meningkat setelah Departemen Luar Negeri memanggil Duta Besar Irak untuk Washington baru-baru ini.

Pemanggilan tersebut bertujuan membahas tanggung jawab keamanan atas serangan berulang di Baghdad yang diduga melibatkan kelompok pro-Iran.

Ketegangan ini menunjukkan bahwa AS tidak akan membiarkan serangan terhadap kedaulatan diplomatik mereka berlalu tanpa konsekuensi.

Load More