Amerika Serikat menawarkan hadiah Rp172 miliar untuk informasi lokasi pemimpin militan Hashim Al-Saraji.
Kelompok KSS pimpinan Al-Saraji dituduh menyerang warga sipil dan fasilitas diplomatik Amerika Serikat.
Washington memberikan jaminan keamanan dan relokasi bagi informan yang membantu penangkapan tokoh militan tersebut.
Suara.com - Amerika Serikat mengambil langkah drastis dengan menawarkan sayembara senilai 10 juta dolar AS untuk melacak Hashim Finyan Rahim al-Saraji.
Keputusan besar ini diambil Departemen Luar Negeri AS karena sosok tersebut dianggap sebagai ancaman keamanan yang sangat krusial.
Al-Saraji merupakan pemimpin kelompok Kata'ib Sayyid ul-Shuhada (KSS) yang memiliki pengaruh besar dalam eskalasi konflik regional.
Tawaran ini menjadi sinyal kuat dari Washington untuk memutus rantai serangan terhadap aset-aset diplomatik mereka di Timur Tengah.
Keterlibatan kelompok ini diduga kuat didukung oleh kekuatan regional Iran dalam melakukan berbagai aksi sabotase.
"Imbalan hingga Rp172 miliar untuk informasi tentang Pemimpin KSS Hashim Finyan Rahim al-Saraji," kata RFJ di platform X.
Kelompok ini dituding menjadi otak di balik serangkaian kekerasan yang merenggut nyawa warga sipil di Irak.
Tidak hanya warga lokal, personel dan pangkalan militer Amerika di Irak serta Suriah turut menjadi target utama.
Fasilitas diplomatik yang seharusnya menjadi zona netral juga tidak luput dari serangan intensif kelompok tersebut.
Baca Juga: Ilmuwan AS Tewas dan Hilang Beruntun, dari Peneliti Nuklir hingga Pengamat UFO
Informasi mengenai keberadaan tokoh ini sangat dinantikan melalui saluran komunikasi aman seperti Tor atau Signal.
Pemerintah Amerika Serikat menjanjikan jaminan perlindungan berupa relokasi bagi informan yang memberikan data akurat dan valid.
Langkah ini menyusul tawaran sebelumnya pada 1 April senilai 3 juta dolar AS terkait teror di fasilitas diplomatik.
Tekanan diplomatik juga meningkat setelah Departemen Luar Negeri memanggil Duta Besar Irak untuk Washington baru-baru ini.
Pemanggilan tersebut bertujuan membahas tanggung jawab keamanan atas serangan berulang di Baghdad yang diduga melibatkan kelompok pro-Iran.
Ketegangan ini menunjukkan bahwa AS tidak akan membiarkan serangan terhadap kedaulatan diplomatik mereka berlalu tanpa konsekuensi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
PERKUPI Lantik Pengurus Jakarta, Tegaskan Peran Jaga Kerukunan Umat Beragama di Ibu Kota
-
Alasan KPK Dorong Capres hingga Cakada dari Kader Parpol: Demi Cegah Mahar Politik
-
Hadirkan Raisa hingga Yura Yunita, Pagelaran Sabang Merauke 2026 Siap Guncang Indonesia Arena!
-
Terseret Pusaran Narkoba, Pemprov DKI Jakarta Segel Permanen Whiterabit PIK
-
Swadaya Warga Matraman Lindungi Ibu Hamil dan Anak dari Asap Rokok
-
Dokumen Pentagon Bocor Ungkap Rencana AS Hukum Spanyol dan Inggris Terkait Perang di Iran
-
Rapor Merah Pelayanan Hijau Jakarta: Kurang Armada, Ribuan Permohonan Pemangkasan Pohon Antre!
-
Tercekik Harga BBM, Transjakarta Siap Akhiri Era Tiket Murah Rp 3.500?
-
KPK Dorong Capres hingga Cakada Wajib dari Kader Parpol, Ini Alasan di Baliknya
-
Kelaparan Ekstrem Melanda Dunia di 2026, Gaza dan Sudan Paling Parah