News / Internasional
Senin, 27 April 2026 | 11:59 WIB
Cole Tomas Allen (CNN)
Baca 10 detik
  • Cole Tomas Allen ditangkap setelah melakukan penembakan terencana di White House Correspondents Dinner.

  • Tersangka merupakan mantan guru berprestasi yang meninggalkan catatan pengakuan berisi motivasi kebencian politik.

  • Otoritas mengamankan senjata ilegal dan menyelidiki transformasi ideologi radikal dari rekam jejak pelaku.

Ia menyebut dirinya sebagai “Friendly Federal Assassin” atau pembunuh federal yang ramah sembari menyuarakan sentimen keras terhadap kepemimpinan Trump.

Ketegangan memuncak di luar hotel Washington Hilton saat Allen mencoba menerobos barikade keamanan yang dijaga ketat oleh Secret Service.

Tersangka sempat melepaskan beberapa tembakan yang mengenai seorang agen pelindung presiden, meski nyawa agen tersebut terselamatkan oleh rompi antipeluru.

Plt Jaksa Agung Todd Blanche mengonfirmasi bahwa penangkapan dilakukan dengan cepat saat situasi di dalam ruang perjamuan sedang mencekam.

“Kami masih berusaha memahami motifnya. Dari penyelidikan awal kami, tampaknya tersangka menargetkan anggota administrasi,” tutur Blanche.

Jeanine Pirro selaku Jaksa AS untuk Distrik Columbia kini menjerat Allen dengan dakwaan berlapis terkait penggunaan senjata api dan penyerangan petugas.

Ironisnya, Allen dikenal sebagai sosok cerdas lulusan California Institute of Technology (CalTech) tahun 2017 pada bidang teknik mesin.

Semasa kuliah, ia aktif dalam organisasi persekutuan Kristen dan bahkan sempat diberitakan media lokal karena menciptakan prototipe rem darurat kursi roda.

Dunia profesionalnya juga cemerlang dengan predikat “Teacher of the Month” pada Desember 2024 di lembaga bimbingan belajar C2 Education.

Baca Juga: Siapa Cole Tomas Allen? Guru Terbaik Diduga Pelaku Penembakan Trump, Pendukung Partai Demokrat

Selain mengajar, ia juga merambah dunia digital sebagai pengembang gim video dengan merilis judul gim non-kekerasan bernama Bohrdom.

Penangkapan Allen bermula dari kekhawatiran keluarga yang menerima pesan ancaman tersebut, di mana sang saudara laki-laki langsung melapor ke polisi.

Meski memiliki latar belakang agama yang kuat, Allen berdalih bahwa serangan tersebut tidak bertentangan dengan prinsip keyakinan yang ia anut selama ini.

“Menolehkan pipi saat orang lain ditindas bukanlah perilaku Kristen; itu adalah keterlibatan dalam kejahatan penindas,” argumennya dalam catatan itu.

Allen menutup pesannya dengan luapan emosi mengenai kebijakan pemerintah yang ia anggap telah melampaui batas toleransinya.

“Saya merasakan kemarahan saat memikirkan semua yang telah dilakukan pemerintahan ini,” pungkas tulisan Cole Tomas Allen tersebut.

Load More