News / Nasional
Senin, 27 April 2026 | 17:02 WIB
Ilustrasi harga beras di Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Dirut PT Food Station menyatakan biaya produksi beras membengkak akibat harga gabah petani melebihi aturan pemerintah.
  • Perusahaan menghadapi dilema karena aturan HET membatasi harga jual sementara biaya operasional sudah tidak tertutupi.
  • Food Station berencana mengusulkan revisi HET serta menggalakkan penjualan beras khusus dan kemasan besar untuk efisiensi.

"Jadi ada namanya beras khusus ya, beras khusus itu misalnya nih beras organik, beras merah, beras varietas khusus kayak Pandan Wangi, Rojo Lele, terus beras yang dikasih vitamin. Nah, itu tidak ada HET, kami masih ada margin," ungkap Dodot.

Taktik lainnya untuk memangkas biaya operasional adalah dengan mengganti kemasan ritel menjadi penjualan partai besar demi menekan biaya plastik.

"Kami menggalakkan penjualan yang tidak memakai kemasan 5 kiloan. Artinya yang bulk order, yang 25 kilo, yang 50 kilo gitu, sehingga biaya packaging itu bisa kami tekan," ujar Dodot.

Langkah efisiensi lewat subsidi silang dan pengiriman curah diharapkan mampu menjaga ketersediaan stok pangan bagi warga Jakarta, tanpa mengabaikan kesehatan bisnis BUMD.

"Jadi kami jualan beras yang kemasan 50 kilo gitu ke pedagang-pedagang kaki lima. Sehingga ibu-ibu rumah tangga ya ke warung, cukup membawa packaging sendiri gitu. Itu salah satu caranya, meskipun itu tidak bisa masif," pungkas Dodot.

Load More