- Kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi pada Senin malam menyebabkan tujuh orang meninggal dunia.
- Komisi V DPR RI mendesak pemerintah segera membenahi ribuan perlintasan sebidang yang rawan kecelakaan di seluruh wilayah Indonesia.
- Data PT KAI mencatat masih terdapat 912 perlintasan sebidang tidak terjaga yang berisiko menimbulkan insiden fatal bagi keselamatan transportasi.
Suara.com - Kecelakaan maut yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan rangkaian KRL di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, pada Senin (27/4) malam, memicu keprihatinan mendalam dari jajaran legislatif.
Komisi V DPR RI mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret dalam membenahi ribuan perlintasan sebidang yang dinilai menjadi ancaman serius bagi keselamatan transportasi kereta api di Indonesia.
Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, menyampaikan duka cita mendalam bagi para korban dan keluarga yang ditinggalkan. Ia meminta proses penanganan korban menjadi prioritas utama saat ini.
"Selaku pimpinan Komisi V DPR menyampaikan turut berduka cita yang mendalam atas insiden kecelakaan tersebut. Semoga keluarga korban diberi kekuatan dan ketabahan. Dan kepada petugas di lapangan untuk memastikan dan memprioritaskan penanganan korban agar mendapatkan penanganan dengan baik dan maksimal,” kata Lasarus kepada wartawan di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Berdasarkan laporan terbaru, insiden tragis ini telah merenggut tujuh nyawa dan menyebabkan puluhan lainnya luka-luka. Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, mengonfirmasi jumlah korban saat meninjau lokasi kejadian.
Peristiwa ini diduga bermula ketika sebuah taksi hijau tertabrak KRL di perlintasan sebidang. Setelah proses evakuasi awal, insiden lanjutan terjadi saat KA Argo Bromo Anggrek jurusan Surabaya menabrak rangkaian KRL yang tengah berhenti di Stasiun Bekasi Timur.
Menyikapi hal tersebut, Lasarus menegaskan bahwa Komisi V DPR telah bertahun-tahun mengingatkan Kementerian Perhubungan dan PT KAI untuk menyelesaikan persoalan perlintasan sebidang yang tidak tertangani dengan baik.
"Kita minta kepada pemerintah untuk segera menyelesaikan darurat perlintasan sebidang di Indonesia. Komisi V DPR sudah bertahun-tahun meminta kepada KAI untuk menyelesaikan jalur perlintasan sebidang, tapi hingga saat ini darurat perlintasan sebidang tersebut tidak tertangani dengan baik. Coba kita cek data sampai saat ini ada ribuan perlintasan sebidang di Indonesia yang tidak tertangani,” tegas Lasarus.
Ia menambahkan bahwa standar keamanan jalur kereta api di Indonesia masih jauh dari praktik internasional yang mengedepankan jalur steril atau bebas hambatan.
Baca Juga: Tragedi Kecelakaan di Bekasi Timur, Kenapa Kereta Tidak Bisa Berhenti Mendadak?
"Makanya di seluruh dunia ini jalur kereta api itu clear and clean, kecuali di Indonesia. Oleh sebab itu jika darurat perlintasan sebidang tidak tertangani dengan baik, maka ada ribuan kemungkinan kecelakaan akan kembali terjadi,” ujarnya.
Data PT KAI menunjukkan tantangan besar dalam pengelolaan infrastruktur ini. Pada tahun 2024, terdapat 3.896 perlintasan sebidang, di mana 971 di antaranya belum dijaga.
Meski pada akhir 2025 jumlahnya menurun menjadi 3.703 titik, masih terdapat 912 perlintasan yang tidak dijaga, yang terus menjadi titik rawan kecelakaan fatal.
Berita Terkait
-
Tragedi Kecelakaan di Bekasi Timur, Kenapa Kereta Tidak Bisa Berhenti Mendadak?
-
Basarnas Ungkap Alasan Lokomotif KA Argo Bromo Tak Langsung Dievakuasi: Ada Nyawa yang Terjepit
-
KA Argo Bromo Anggrek Secepat Apa? Tabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur
-
Haru dan Cemas, Warga Padati Pos Pengaduan Cari Kabar Korban Tabrakan KRL
-
Daftar Kecelakaan Taksi Green SM, Terobos Palang Perlintasan KRL hingga Tabrak Tukang Nasi Goreng
Terpopuler
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
- Beredar 24 Nama Terseret Kasus BGN, Kuasa Hukum Sony Sonjaya: Nama Itu Sudah Diserahkan ke Penyidik
Pilihan
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
-
Harry de Fretes Bagikan Kabar Haji Bolot Meninggal, Keluarga: Hoaks, Itu Orang Kurang Kerjaan
Terkini
-
Andrew Mulyono Bos Vendor Motor Listrik Jadi Tersangka Kelima Korupsi MBG, Ini Perannya
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Negara Boncos Rp1 Triliun per Bulan, DPR Desak MBG Disetop Sementara
-
Bantah Klaim BEM UI, Polda Metro: Sampai Detik Ini Tak Ada Surat Pemberitahuan Demo
-
DEN Temukan Potensi 9 Juta Barel Tangki Minyak Menganggur, Disiapkan untuk Kondisi Krisis
-
'Ada Bukti Transfer Uang'! Pengakuan Saksi dalam Kasus Suap Impor Bea Cukai
-
Jangan Tunggu Rakyat Menjerit! Guru Besar UMY Minta Pemerintah Evaluasi Kebijakan Energi Nasional
-
Sita Bom Molotov! Polisi Tangkap 2 Orang Diduga Ingin Tunggangi Demo Mahasiswa di Jakarta
-
Pegawainya Terjaring OTT KPK, Pengawasan Internal BPK Dinilai Gagal Total
-
IKN Tidak Urgent! DPR Diminta Tolak Tambahan Anggaran Rp15,5 Triliun