News / Internasional
Rabu, 29 April 2026 | 15:28 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Instagram.com/realdonaldtrump)
Baca 10 detik

Kanselir Friedrich Merz mengkritik lemahnya strategi Amerika Serikat dalam menghadapi taktik diplomasi Iran.

Konflik Iran berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi Jerman dan stabilitas pasar energi global.

Jerman siap membantu mengamankan Selat Hormuz dengan syarat pertempuran militer harus segera dihentikan.

Suara.com - Kanselir Jerman Friedrich Merz melontarkan kritik tajam terhadap ketidakmampuan Amerika Serikat dalam menuntaskan ketegangan dengan Iran saat ini.

Ia menilai Washington kehilangan arah dan tidak memiliki peta jalan yang konkret untuk menghentikan eskalasi di Timur Tengah.

Dikutip dari DW, kekuatan Teheran dalam percaturan politik regional dianggap jauh melampaui prediksi awal yang dibuat oleh pihak Barat.

Asap membubung di Teheran, Iran duga dari serangan rudal Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu (28/2/2026). [X/Vahid Online]

Kondisi ini menciptakan kebuntuan negosiasi yang justru memberikan panggung bagi Iran untuk mendominasi situasi geopolitik global.

Merz memandang bahwa posisi tawar Amerika Serikat kian melemah akibat taktik diplomasi Iran yang sangat terorganisir.

Kanselir Jerman memberikan peringatan keras agar Amerika Serikat tidak terjebak dalam lubang kegagalan yang sama di masa lalu.

"Masalah dalam konflik seperti ini selalu sama: Anda tidak hanya memulai (perang), tetapi juga harus mengakhirinya. Kita pernah melihat hal ini terjadi sangat menyakitkan di Afghanistan selama 20 tahun. Kita melihatnya di Irak."

Ilustrasi Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump [Suara.com/hd]

Kutipan tersebut merujuk pada kekhawatiran Merz akan absennya rencana penarikan diri atau penyelesaian konflik yang matang.

Tanpa strategi pengakhiran perang yang jelas, intervensi militer hanya akan menjadi beban panjang bagi stabilitas dunia.

Baca Juga: UEA Keluar OPEC, Siap Gelontorkan Pasokan Minyak ke Pasar Dunia Tanpa Kuota!

Ia menyoroti bagaimana Iran dengan cerdik memanfaatkan celah komunikasi dalam setiap proses perundingan internasional yang ada.

Ketangkasan pemimpin Iran dalam bermanuver di medan konflik dianggap telah menjatuhkan reputasi militer dan politik Amerika Serikat.

"Satu bangsa sedang dipermalukan oleh pemimpin Iran, khususnya oleh Pasukan Garda Revolusi.”

Kalimat tegas Merz ini menggambarkan betapa seriusnya dampak psikologis dari ketegangan yang terus berlarut-larut tersebut.

Pasukan Garda Revolusi Iran dinilai mampu mengendalikan ritme konflik yang membuat posisi Washington terlihat tidak berdaya.

Kanselir Jerman melihat fenomena ini sebagai bentuk degradasi pengaruh negara adidaya di mata masyarakat internasional saat ini.

Situasi panas di Timur Tengah ternyata tidak hanya menjadi persoalan keamanan tetapi juga menjadi beban finansial berat.

"Saat ini situasinya cukup rumit,” kata Merz. "Dan hal ini menghabiskan banyak uang. Konflik ini, perang melawan Iran, berdampak langsung pada output ekonomi kami.”

Gangguan pada stabilitas kawasan telah memicu fluktuasi pasar yang merugikan produktivitas industri nasional di wilayah Jerman.

Biaya logistik dan ketidakpastian pasokan energi menjadi faktor utama yang menghambat pertumbuhan ekonomi di bawah kepemimpinan Merz.

Oleh karena itu, penyelesaian konflik Iran menjadi prioritas yang mendesak demi memulihkan kesehatan ekonomi domestik Jerman.

Sebagai bentuk kontribusi nyata, Jerman menyatakan kesiapan untuk terlibat aktif dalam menjaga kelancaran jalur perdagangan dunia.

Pemerintah Jerman tetap menawarkan pengiriman kapal pembersih ranjau guna memastikan keamanan navigasi di wilayah Selat Hormuz.

Selat tersebut merupakan urat nadi distribusi minyak global yang sangat rawan terhadap sabotase selama masa peperangan berlangsung.

Namun, Merz memberikan catatan khusus bahwa bantuan militer teknis tersebut hanya akan dikirimkan jika ada gencatan senjata.

Syarat utama dari pengerahan armada Jerman adalah berakhirnya seluruh aktivitas pertempuran secara total di wilayah perairan tersebut.

Di sela kunjungannya ke Carolus-Magnus-Gymnasium di Marsberg, Merz juga berbicara mengenai masa depan kedaulatan Uni Eropa.

Ia mendorong agar negara-negara anggota blok Eropa mulai mengambil peran kepemimpinan yang lebih dominan dan mandiri.

Secara demografi, Uni Eropa memiliki jumlah penduduk yang jauh lebih besar dibandingkan dengan total populasi Amerika Serikat.

"Jika kita bersatu dengan lebih efektif dan melakukan lebih banyak hal secara bersama-sama, setidaknya kita bisa sekuat Amerika Serikat,” katanya.

Visi Merz adalah menjadikan Eropa sebagai kekuatan penyeimbang yang mampu berdiri tegak tanpa harus selalu bergantung pada Washington.

Konflik antara Iran dan Amerika Serikat telah memasuki fase baru yang melibatkan ketegangan di jalur maritim strategis.

Jerman sebagai kekuatan ekonomi terbesar di Eropa sangat berkepentingan terhadap stabilitas harga energi dan keamanan jalur logistik.

Pernyataan Merz ini muncul di tengah kekhawatiran global akan terjadinya resesi akibat gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz.

Kritik ini juga mencerminkan pergeseran sikap politik Jerman yang mulai berani mempertanyakan kebijakan luar negeri sekutu utamanya.

Dengan kondisi ekonomi yang tertekan, Berlin kini lebih vokal dalam menuntut kepastian strategi perdamaian di kawasan Timur Tengah.

Load More