- Perwakilan Marsinah.id, Dian Septi, menyoroti kasus pembunuhan Marsinah sebagai simbol impunitas dan represi militeristik yang masih terus berulang.
- Diskusi di Jakarta pada 30 April 2026 menekankan pentingnya mengaitkan perjuangan buruh dengan semangat anti-militerisme yang sistematis.
- Dian mengkritik serikat pekerja yang pro-penguasa karena dianggap mengabaikan akar persoalan eksploitasi buruh serta tuntutan politik yang substantif.
Tindakan merusak tubuh perempuan, menurutnya, adalah bentuk pesan konkret dari penguasa saat itu.
"Femisida dengan menghancurkan tubuh perempuan itu adalah pesan yang paling konkret bila kita melawan maka itulah ganjarannya. Karena tubuh itu kan punya pesan yang sangat kasat mata ya, secara visual tubuh itu adalah bagian yang paling pertama dan paling penting dalam berkomunikasi dan itulah yang paling dilukai. Ketika terluka maka itu yang kemudian memberikan pesan teror," jelasnya.
Tak hanya itu, Dian juga mengingatkan kembali bahwa Marsinah bukan sekadar simbol korban, melainkan pemikir yang progresif.
Marsinah kala itu mengusung 12 tuntutan yang sangat politis, termasuk pembubaran Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), cuti hamil, cuti haid, hingga jaminan kesehatan.
Ia memperingatkan bahwa memisahkan tuntutan ekonomi buruh dari kesadaran politik adalah langkah yang berbahaya karena dapat melemahkan pergerakan secara keseluruhan.
"Sebuah tuntutan hak normatif pekerja menjadi tidak politis adalah ketika dibiarkan itu menjadi tuntutan yang ekonomis, tetapi secara politis berdekatan dengan penguasa. Jadi tidak menjadi politis karena tidak disuarakan di level politik, dituntut kepada penguasa di level politik, dinegosiasikan dengan penguasa seolah-olah tuntutan akan terpenuhi ketika bisa bernegosiasi dengan penguasa tanpa kesadaran politik dari pekerja," ujarnya.
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
-
Jelang Hari Buruh, Jukir Liar dan PKL di Monas Jadi Target Penertiban
-
Pernah Alami Jam Kerja 'Gila', Rachel Amanda Sadari Privilege Artis Dibanding Buruh Pabrik
-
Jelang Hari Buruh, Ketimpangan Upah dan Rentannya Pekerja Informal Disorot
-
1.793 Personel Dikerahkan Amankan May Day 2026, 200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas
-
1 Mei Tak Cuma Hari Buruh, Tanggal Ini Juga Jadi Momen Bersejarah bagi Papua
Terpopuler
- Daftar Prodi Berpotensi Ditutup Imbas Fokus Industri Strategis Nasional
- 5 Parfum Scarlett yang Wanginya Paling Tahan Lama, Harga Terjangkau
- Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
- Membedah 'Urat Nadi' Baru Lampung: Shortcut 37 KM dan Jalur Ganda Siap Usir Macet Akibat Babaranjang
- 5 Rekomendasi Sepeda Roadbike Rp1 Jutaan, Cocok untuk Pemula hingga Harian
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Resmi! Pemerintah Bentuk Gugus Tugas Perbaikan Daycare Usai Marak Kekerasan Anak
-
May Day Bukan Wisata, Besok Perisai dan GMNI Aksi di Depan Gedung DPR
-
Truk Tronton Rem Blong, Hantam Separator Transjakarta di Slipi
-
Peringati 40 Hari Kasus Andrie Yunus, Massa Desak Prabowo Evaluasi Menhan Sjafrie Sjamsoeddin
-
Blokade AS Tak Gentarkan Iran, Mohsen Rezaei: Upaya Itu Pasti Gagal!
-
Cegah Warga Terobos Rel, Korlantas Siapkan ETLE dan Personel untuk Awasi Perlintasan Kereta Rawan
-
LRT Jakarta Fase 1B Masuk Tahap Uji Coba, Jalur Velodrome-Pasar Pramuka Mulai Dites
-
Korupsinya Pengaruhi Kualitas Pendidikan, Jadi Alasan Eks Direktur SD Divonis 4 Tahun Penjara
-
Korupsi Chromebook, Ini Alasan Hakim Ringankan Vonis Sri Wahyuningsih
-
Update Kebakaran Apartemen Mediterania: Pemadaman Tuntas, Tim Damkar Pastikan Tak Ada Korban Jiwa