News / Internasional
Sabtu, 02 Mei 2026 | 08:05 WIB
Mulai Senin (14/3) pukul 10.00 waktu Washington, Angkatan Laut AS bertindak sebagai polisi lalu lintas di Selat Hormuz dan bisa memicu perang terbuka dengan negara lain [Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Serikat Pelaut Iran melaporkan 44 pekerja tewas akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel di wilayah maritim Iran.
  • Insiden tersebut terjadi antara 28 Februari hingga 1 April 2026 yang menargetkan pelabuhan serta armada komersial Iran.
  • Blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat sejak 13 April menyebabkan sekitar 20.000 pelaut terjebak di Selat Hormuz.

Suara.com - Sedikitnya 44 pelaut Iran dilaporkan tewas sejak pecahnya perang antara AS-Israel melawan Iran.

Menurut data Serikat Pelaut Niaga Iran, korban terdiri dari pelaut sipil, nelayan, hingga pekerja pelabuhan yang terdampak serangan di wilayah maritim Iran.

Sekretaris Jenderal Serikat Pelaut Niaga Iran seperti dilansir dari Aljazerra, Saman Rezaei, menyatakan sebanyak 22 pelaut sipil, 16 nelayan, dan enam pekerja dermaga tewas dalam periode 28 Februari hingga 1 April 2026.

Selain itu, 29 orang dilaporkan luka-luka dan sembilan lainnya masih hilang.

Rezaei menuding kematian para pekerja sipil tersebut disebabkan serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap pelabuhan serta armada komersial Iran.

Rezaei telah melayangkan sejumlah surat protes kepada Organisasi Maritim Internasional PBB terkait insiden tersebut.

Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran merilis video yang diklaim menunjukkan pasukan Garda Revolusi menyiata dua kapal kargo di Selat Hormuz. [Istimewa]

“Serangan oleh militer AS dan Israel terhadap pelabuhan Iran serta armada komersial di perairan teritorial Iran telah menimbulkan korban sipil,” demikian isi pengaduan yang disampaikan serikat pekerja itu.

Menurut Rezaei, perang telah memicu krisis kemanusiaan bagi ribuan pelaut yang terjebak di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Banyak awak kapal disebut mengalami tekanan psikologis berat setelah terperangkap selama berminggu-minggu di zona perang.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Terus Menyala, Keputusan Trump di Selat Hormuz Makin Perburuk Kondisi

Data pemantau konflik independen ACLED mencatat lebih dari 3.000 serangan udara dilakukan pasukan AS dan Israel ke wilayah Iran sejak 28 Februari.

Sebagai balasan, Iran disebut telah melancarkan hampir 1.600 serangan balasan ke berbagai target di Timur Tengah.

Meski gencatan senjata antara Washington dan Teheran berlaku sejak 8 April, ketegangan di jalur laut tetap tinggi.

Amerika Serikat bahkan meluncurkan blokade laut terhadap seluruh pelabuhan Iran pada 13 April guna menekan ekspor minyak Teheran.

Situasi tersebut membuat sekitar 20.000 pelaut dilaporkan terjebak di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur energi terpenting dunia.

Load More