-
OPEC+ menambah kuota 188.000 barel per hari untuk menjaga stabilitas pasokan minyak dunia.
-
Kebijakan produksi tetap berjalan meski Uni Emirat Arab resmi keluar dari organisasi pekan ini.
-
Blokade Selat Hormuz menjadi hambatan utama distribusi minyak mentah ke pasar internasional saat ini.
Suara.com - OPEC memutuskan untuk menambah kuota produksi minyak demi menjamin kepastian pasokan global dan menepis keraguan pasar pasca hengkangnya Uni Emirat Arab.
Langkah ini diambil oleh Arab Saudi, Rusia, dan lima negara anggota lainnya sebagai respons taktis untuk menjaga kepercayaan investor terhadap kekuatan kartel.
Dikutip dari Times Of Israel, kebijakan tersebut menjadi krusial di tengah ancaman kelangkaan energi akibat blokade jalur distribusi utama di kawasan Timur Tengah.
Aliansi tujuh produsen utama ini sepakat menyuntikkan tambahan kuota sebesar 188.000 barel per hari mulai Juni mendatang.
Keputusan kolektif ini secara resmi ditegaskan sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga keseimbangan harga energi di tingkat internasional.
OPEC dalam pernyataan resminya menyebutkan tambahan tersebut merupakan bagian dari “komitmen kolektif mereka untuk mendukung stabilitas pasar minyak”.
Menariknya, organisasi ini sama sekali tidak menyinggung status Uni Emirat Arab yang secara mengejutkan menyatakan keluar pada pekan ini.
Para pengamat menilai angka kenaikan ini sudah diprediksi karena nilainya setara dengan kebijakan pada periode Maret dan April lalu.
Meskipun kuota di atas kertas meningkat, realisasi produksi di lapangan diprediksi tetap sulit memenuhi target yang telah ditetapkan.
Baca Juga: Guncang Pasar Energi Dunia, Mengapa UEA Nekat Tinggalkan OPEC Setelah 60 Tahun?
Masalah utama muncul karena mayoritas cadangan minyak mentah yang belum tersentuh berada di bawah kendali negara-negara Teluk.
Logistik pengiriman minyak saat ini sedang lumpuh akibat penutupan akses vital di Selat Hormuz oleh pihak Iran.
Blokade tersebut merupakan aksi balasan terhadap serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang memicu peperangan sejak akhir Februari.
Kondisi geopolitik yang memanas ini membuat kenaikan kuota produksi menjadi tantangan berat bagi kelancaran distribusi ke pasar barat.
Krisis ini bermula saat Uni Emirat Arab memutuskan mundur dari keanggotaan OPEC+ secara tiba-tiba di tengah eskalasi konflik regional.
Konflik militer yang pecah pada 28 Februari 2024 mengakibatkan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz terhenti total sehingga mengganggu arus ekspor minyak dunia secara signifikan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Terbaru 2026 Baterai Jumbo 10.000 mAh: Tahan 3 Hari, Performa Kencang
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 2 Mei 2026, Menang Banyak Diskon hingga 60 Persen Kebutuhan Harian
- Promo Indomaret Hari Ini 1 Mei 2026, Dapatkan Produk Hemat 30 Persen
- 5 Cushion Waterproof dan Tahan Lama, Makeup Awet Seharian di Cuaca Panas
Pilihan
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
Terkini
-
Revisi UU Pemilu Mandek, Koalisi Sipil Desak DPR Bergerak Sebelum Agustus 2026
-
Mesir Gelar Latihan Militer, Israel Panik Skenario Perang Yom Kippur Terulang
-
KPK Dalami Skema Suap Impor, Pegawai Bea Cukai Kembali Dipanggil
-
Kenapa Donald Trump Tolak Proposal Iran Akhiri Perang? Apa Isinya?
-
Viral Sopir Angkot di Grogol Ketahuan Onani di Dalam Mobil, Langsung Kabur Usai Dipergoki Warga
-
KPK Telusuri Aliran Dana CSR BIOJK, Dua Pensiunan BI Diperiksa
-
KPK Kembali Periksa Staf Ahli Eks Menhub, Dalami Peran di Kasus Rel Kereta
-
Apa Itu Project Freedom Amerika di Selat Hormuz? Diklaim Misi Perdamaian Lawan Iran
-
Apa Itu Hantavirus? Virus Langka yang Tewaskan 3 Orang di Kapal Pesiar
-
AS Bangun Pangkalan Pesawat Tempur Raksasa di Alaska Senilai Rp121 Triliun