- Koalisi Masyarakat Sipil mendesak DPR dan pemerintah segera membahas revisi UU Pemilu yang tertunda sejak tahun 2025 lalu.
- Revisi UU Pemilu harus diselesaikan paling lambat Agustus 2026 demi kelancaran proses seleksi penyelenggara pemilu mendatang secara konstitusional.
- Ketiadaan revisi berpotensi mengabaikan putusan Mahkamah Konstitusi serta mengancam kualitas demokrasi dan keadilan elektoral bagi seluruh peserta pemilu.
Suara.com - Koalisi Masyarakat Sipil untuk Kodifikasi Undang-Undang (UU) Pemilu mendesak Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan pemerintah segera memulai pembahasan formal revisi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.
Keterlambatan pembahasan dinilai berpotensi mengancam kualitas demokrasi, terutama menjelang tahapan krusial pemilu mendatang.
Dalam konferensi pers daring bertajuk “Revisi Undang-Undang Pemilu yang Tak Kunjung Dibahas, Demokrasi di Persimpangan Jalan” pada Senin (4/5/2026), perwakilan Perludem yang mewakili koalisi, Kahfi Adlan, menegaskan bahwa revisi UU Pemilu seharusnya menjadi prioritas utama. Pasalnya, tahapan seleksi penyelenggara pemilu akan segera dimulai pada pertengahan 2026.
“Urgensi revisi undang-undang Pemilu semakin nyata seiring semakin dekatnya tahapan seleksi penyelenggara pemilu yang akan dimulai pada pertengahan tahun 2026,” ujar Kahfi.
Ia menyayangkan sikap DPR yang dinilai terkesan menunda pembahasan, meskipun revisi UU Pemilu telah masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas sejak 2025. Namun, sepanjang tahun tersebut, belum ada pembahasan signifikan di parlemen.
“Revisi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 sudah masuk dalam Prolegnas prioritas sejak 2025, namun hingga saat ini belum juga dibahas,” katanya.
Koalisi menilai, penggunaan UU Pemilu yang lama tanpa revisi substantif hanya akan mengulang berbagai persoalan sebelumnya. Terlebih, terdapat kewajiban konstitusional untuk menyesuaikan regulasi dengan sejumlah putusan Mahkamah Konstitusi (MK).
“Berdasarkan laman resmi Mahkamah Konstitusi, sejak diundangkan terdapat 182 uji materi terhadap UU Nomor 7 Tahun 2017, dengan 21 di antaranya dikabulkan. Namun, penyesuaian regulasi belum dilakukan,” tegas Kahfi.
Ia menilai pengabaian terhadap putusan MK merupakan pelanggaran serius terhadap prinsip negara hukum. Selain itu, stagnasi pembahasan juga diduga berkaitan dengan kepentingan pragmatis partai politik.
Baca Juga: May Day di DPR Kondusif: Massa Gebrak dan Kasbi Bubar Jalan, Pasukan Oranye Sisir Sampah Sisa Aksi
“Partai politik cenderung mempertahankan aturan yang ada apabila dianggap menguntungkan posisi mereka dalam kompetisi elektoral. Hal ini berpotensi menciptakan ketimpangan dan melemahkan prinsip keadilan elektoral,” tambahnya.
Target Rampung Agustus 2026
Urgensi revisi UU Pemilu juga berkaitan langsung dengan proses seleksi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).
Koalisi menekankan, revisi undang-undang tersebut idealnya harus rampung paling lambat Agustus 2026 agar tidak mengganggu tahapan berikutnya.
“Secara ideal, revisi UU Pemilu harus telah rampung paling lambat pada Agustus 2026 untuk memastikan kesiapan regulasi sebelum tahapan dimulai,” ujar Kahfi.
Empat Desakan Koalisi Masyarakat Sipil
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Terbaru 2026 Baterai Jumbo 10.000 mAh: Tahan 3 Hari, Performa Kencang
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 2 Mei 2026, Menang Banyak Diskon hingga 60 Persen Kebutuhan Harian
- Promo Indomaret Hari Ini 1 Mei 2026, Dapatkan Produk Hemat 30 Persen
- 5 Cushion Waterproof dan Tahan Lama, Makeup Awet Seharian di Cuaca Panas
Pilihan
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
Terkini
-
Mengejutkan! OPEC Naikkan Kuota Produksi Minyak Usai UEA Mundur, Pengaruh ke Dunia Apa?
-
Mesir Gelar Latihan Militer, Israel Panik Skenario Perang Yom Kippur Terulang
-
KPK Dalami Skema Suap Impor, Pegawai Bea Cukai Kembali Dipanggil
-
Kenapa Donald Trump Tolak Proposal Iran Akhiri Perang? Apa Isinya?
-
Viral Sopir Angkot di Grogol Ketahuan Onani di Dalam Mobil, Langsung Kabur Usai Dipergoki Warga
-
KPK Telusuri Aliran Dana CSR BIOJK, Dua Pensiunan BI Diperiksa
-
KPK Kembali Periksa Staf Ahli Eks Menhub, Dalami Peran di Kasus Rel Kereta
-
Apa Itu Project Freedom Amerika di Selat Hormuz? Diklaim Misi Perdamaian Lawan Iran
-
Apa Itu Hantavirus? Virus Langka yang Tewaskan 3 Orang di Kapal Pesiar
-
AS Bangun Pangkalan Pesawat Tempur Raksasa di Alaska Senilai Rp121 Triliun