- Wabah Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menyebabkan tiga orang meninggal dan beberapa penumpang jatuh sakit saat berlayar.
- Sebanyak 150 penumpang dari 23 negara kini berada di bawah pengawasan ketat otoritas kesehatan serta pihak WHO.
- Pihak berwenang sedang menyelidiki kemungkinan penularan virus antarmanusia di atas kapal ekspedisi polar yang sedang menjadi sorotan tersebut.
Suara.com - Kapal pesiar MV Hondius mendadak menjadi perhatian dunia setelah muncul laporan wabah Hantavirus di atas kapal tersebut. Perjalanan wisata mewah yang semula menawarkan pengalaman ekspedisi eksklusif kini berubah menjadi situasi darurat kesehatan internasional.
Laporan terbaru menyebut sedikitnya tiga orang meninggal dunia dan beberapa penumpang lainnya jatuh sakit. Saat kejadian berlangsung, kapal diketahui tengah berlayar membawa sekitar 150 orang dari 23 negara.
Kasus tersebut memicu perhatian besar karena hantavirus tergolong penyakit langka namun berbahaya. Virus yang ditemukan di Amerika Selatan itu dapat menyebabkan sindrom paru hantavirus yang memiliki tingkat kematian cukup tinggi.
Kini, otoritas kesehatan bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sedang melakukan pemeriksaan terhadap sampel para penumpang. WHO juga menduga penularan virus kemungkinan terjadi antarmanusia di atas kapal.
Di tengah sorotan terhadap wabah tersebut, banyak publik mulai penasaran dengan profil MV Hondius. Kapal ini dikenal sebagai salah satu kapal ekspedisi mewah yang kerap menawarkan perjalanan menuju wilayah Antartika dan Kutub Utara dengan harga fantastis.
Profil Kapal Pesiar MV Hondius
MV Hondius merupakan kapal ekspedisi polar milik Oceanwide Expeditions yang dirancang khusus untuk menjelajahi kawasan Arktik dan Antartika. Kapal ini mulai beroperasi pada 2019 dan dikenal sebagai salah satu kapal ekspedisi polar paling canggih di dunia.
Berdasarkan informasi resmi perusahaan, MV Hondius dibangun dengan standar Polar Class 6 yang memungkinkan kapal beroperasi di wilayah es laut. Teknologi tersebut membuat kapal mampu menembus area dengan kondisi cuaca ekstrem secara lebih aman.
Kapal ini memiliki panjang sekitar 107 meter dengan kapasitas hingga 170 penumpang. Desainnya dibuat modern namun tetap mengutamakan efisiensi bahan bakar dan dampak lingkungan yang lebih rendah.
MV Hondius juga dilengkapi berbagai fasilitas premium untuk mendukung kenyamanan wisatawan selama ekspedisi berlangsung. Beberapa di antaranya meliputi restoran, ruang observasi, lecture room, lounge, hingga kabin dengan jendela panorama.
Baca Juga: Menkes Budi Waspadai Hantavirus Masuk Indonesia, Rapid Test hingga PCR Disiapkan
Selain menawarkan wisata melihat lanskap es dan satwa liar, kapal ini juga menyediakan aktivitas petualangan. Penumpang dapat mengikuti kayaking, hiking, snowshoeing, hingga menyaksikan kehidupan penguin dan paus dari dekat.
Salah satu daya tarik utama MV Hondius adalah konsep perjalanan ekspedisi edukatif. Selama pelayaran, penumpang biasanya mendapatkan penjelasan langsung dari ahli biologi, geologi, dan peneliti polar yang ikut dalam perjalanan.
Kapal ini kerap digunakan untuk pelayaran menuju Semenanjung Antartika, Kepulauan Falkland, South Georgia, hingga wilayah Lingkar Arktik. Karena rutenya eksklusif dan jumlah penumpangnya terbatas, MV Hondius masuk dalam kategori kapal ekspedisi premium.
Harga Tiket Kapal Pesiar MV Hondius
Harga tiket kapal pesiar MV Hondius tergolong sangat mahal karena menawarkan pengalaman ekspedisi eksklusif ke wilayah kutub. Tarif perjalanan bervariasi tergantung rute, durasi pelayaran, tipe kabin, dan musim keberangkatan.
Berdasarkan informasi dari Antarctica Cruises , harga perjalanan MV Hondius untuk ekspedisi Antartika dimulai dari sekitar 7.800 dolar Amerika Serikat atau setara lebih dari Rp120 juta per orang. Harga tersebut biasanya berlaku untuk tipe kabin paling dasar.
Durasi perjalanan juga memengaruhi harga tiket secara signifikan. Ekspedisi singkat umumnya berlangsung sekitar 10 hingga 12 hari, sedangkan pelayaran yang lebih panjang dapat berlangsung lebih dari tiga minggu.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Hantavirus Tewaskan 3 Orang, Bakal Jadi Pandemi? Ini Penjelasan Resmi WHO
-
Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional
-
33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi
-
Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia
-
Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF
-
Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan
-
Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China
-
Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah
-
Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP
-
Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun