- Pemerintah Kanada mengisolasi tiga warganya guna mencegah penyebaran wabah hantavirus Andes yang berawal dari kapal pesiar MV Hondius.
- WHO mengonfirmasi delapan kasus infeksi hantavirus Andes yang menyebabkan tiga orang meninggal dunia di kapal pesiar tersebut.
- Otoritas kesehatan Kanada memantau ketat seluruh penumpang kapal untuk mengantisipasi masa inkubasi virus yang mencapai enam minggu lamanya.
WHO Peringatkan Masa Inkubasi Panjang
Kapal pesiar MV Hondius dijadwalkan bersandar di Granadilla, Tenerife, pada Minggu pagi, meski jadwal tersebut masih dapat berubah.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, memperingatkan masa inkubasi virus Andes dapat berlangsung hingga enam minggu.
“Mengingat masa inkubasi virus Andes yang dapat mencapai enam minggu, ada kemungkinan lebih banyak kasus akan dilaporkan,” kata Tedros.
Ia menjelaskan virus Andes merupakan satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui dapat menular antarmanusia, meski dalam kondisi terbatas.
“Tampaknya itulah yang terjadi dalam situasi saat ini,” ujarnya.
Meski demikian, WHO menilai risiko kesehatan masyarakat global masih tergolong rendah.
Pengawasan Ketat Terus Dilakukan
Menteri Kesehatan Ontario, Sylvia Jones, memastikan otoritas kesehatan terus memantau para penumpang setiap hari untuk memastikan protokol karantina dijalankan.
Baca Juga: Berada di MV Hondius, Youtuber Ruhi Cenet Bongkar Fakta Ngeri saat Hantavirus Tewaskan 3 Orang
Pemerintah setempat juga bersiap memulangkan warga lain jika diperlukan.
“Situasinya dinamis dan kami akan terus memantau perkembangan,” kata Jones dalam konferensi pers.
Ia memperkirakan masa pemantauan ketat akan berlangsung hingga sekitar 30 hari ke depan.
Sebagai informasi, penularan hantavirus Andes antarmanusia dalam sejarah medis umumnya terjadi melalui kontak dekat dan berkepanjangan, termasuk di lingkungan keluarga atau tenaga medis tanpa perlindungan memadai.
Berita Terkait
-
Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius Picu Kewaspadaan, 3 Penumpang Dilaporkan Meninggal
-
Ahli: Virus Hanta di Kapal MV Hondius Tidak Berisiko Menjadi Pandemi Baru Seperti Wabah COVID-19
-
WHO Tegaskan Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Bukan Awal Pandemi Baru
-
3 Orang Meninggal Dunia, Kasus Pertama Hantavirus Ditemukan di Israel
-
Hantavirus Masuk Singapura? Dua Penumpang Kapal MV Hondius Diisolasi
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
Terkini
-
Pakar UGM Tolak Kampus Ikut Kelola MBG, Khawatir Perguruan Tinggi Kehilangan Independensi
-
Rasa Haru Selimuti Rumah Duka Haerul Saleh, Peti Jenazah Diantar Para Pimpinan BPK
-
Lantai 4 Rumah Anggota BPK Haerul Saleh Hangus 80 Persen
-
Kesaksian ART Selamat dalam Kebakaran yang Menewaskan Anggota BPK
-
Curhat ASN soal WFH Setiap Jumat: Bisa Hemat Rp 400 Ribu Sebulan tapi Banyak Distraksi
-
Waspadai Hantavirus, DPR Desak Pemerintah Perketat Bandara dan Pelabuhan
-
Tantangan Iklim Makin Kompleks, Pendekatan Interdisipliner Dinilai Jadi Kunci
-
Kisah Penjaga Perlintasan di Jogja: Lari Kibarkan Bendera Merah Hentikan Kereta saat Ada Mobil Mogok
-
Tewas Dalam Kebakaran, Jenazah Anggota BPK Haerul Saleh Dimakamkan di Kolaka
-
Mampu Serap Banyak Karbon, Lahan Gambut Jadi Fokus Penelitian Global Untuk Perkuat Kebijakan