-
Amerika Serikat mengevakuasi 17 warga dari kapal pesiar MV Hondius akibat wabah virus hanta.
-
Penumpang akan dikarantina di Nebraska Medical Center dengan pengawasan ketat tim medis spesialis.
-
Tujuh negara bagian AS memantau kepulangan penumpang guna mencegah potensi penularan strain Andes.
Selain yang akan dievakuasi, otoritas juga melacak penumpang yang sudah lebih dulu pulang ke rumah masing-masing.
Terdapat delapan orang di tujuh negara bagian berbeda yang kini berada dalam radar pemantauan harian otoritas kesehatan lokal.
Negara bagian seperti Texas, Georgia, Virginia, hingga California terus melaporkan perkembangan kondisi kesehatan warga mereka.
Meski belum ada perintah isolasi mandiri yang ketat, pengecekan suhu tubuh secara rutin wajib dilaporkan setiap hari.
Upaya ini dilakukan karena masa inkubasi virus yang cukup panjang, yakni mencapai waktu sekitar enam minggu.
Ketakutan terbesar para ahli terletak pada jenis virus hanta yang terlibat, yaitu strain Andes yang sangat berbahaya.
Berbeda dengan jenis lainnya, strain ini merupakan satu-satunya versi yang diketahui mampu menular antarmanusia secara langsung.
Dr. Michael Wadman memastikan bahwa setiap kamar karantina telah dilengkapi fasilitas yang memadai untuk kenyamanan jangka panjang.
“Masing-masing kamar terlihat sangat mirip dengan kamar hotel, dengan tambahan ketersediaan Wi-Fi, peralatan olahraga. Jika karantina diperpanjang, hal-hal tersebut akan penting untuk memastikan mereka nyaman,” kata Wadman.
Baca Juga: Catatan Tertulis Suku Indian Navajo Tunjukkan Hantavirus Sudah Lama Mengintai Umat Manusia
Tim medis spesialis penyakit menular dan dokter perawatan kritis akan mendampingi seluruh proses karantina hingga dinyatakan aman.
Wabah ini bermula di atas kapal MV Hondius milik perusahaan Belanda yang menyebabkan tiga orang tewas, yakni pasangan suami istri asal Belanda dan seorang wanita asal Jerman.
Virus hanta umumnya berasal dari tikus kerdil Amerika Selatan, namun strain Andes memicu kekhawatiran global karena kemampuan transmisi antarmanusia.
Hingga saat ini, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) telah mengaktifkan Pusat Operasi Darurat tingkat 3 untuk mengoordinasikan respons nasional terhadap ancaman kesehatan ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
BRI Turut Berperan Aktif Dalam Percepat Pemulihan Gempa NTT Lewat Posko Logistik BRI Peduli
-
Video Penjemputan Tiga Orang yang Diduga Pejabat Disdik Lubuklinggau Viral, Ada Apa?
-
BRI Tinjau Posko BRI Peduli dan Dapur Umum Untuk Korban Gempa NTT
-
BRI Perluas Dukungan Pascagempa NTT, Tiga Posko Logistik dan Dapur Umum Disiapkan
-
Bantu Warga Terdampak Gempa NTT, BRI Bangun Tiga Posko Logistik dan Dapur Umum
-
Kanker Paru Masih Mematikan, Navigasi Pasien Dibutuhkan untuk Pangkas Waktu Pengobatan
-
Percepat Pemulihan Pascagempa NTT, BRI Peduli Siapkan Posko Logistik dan Dapur Umum
-
BRI Peduli Gerak Cepat Tangani Dampak Gempa NTT, Tiga Posko Logistik Disiapkan
-
Transaksi Judol Rp2,68 Miliar Terdeteksi di Keluarga Penerima Bansos Jawa Barat
-
Direksi BRI Turun Langsung Pantau Penanganan Gempa NTT dan Kesiapan Posko BRI Peduli