- Kualitas udara Jakarta memburuk pada Selasa pagi dengan kategori tidak sehat dan indeks polusi sebesar 134 AQI.
- Jakarta menempati peringkat keempat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia berdasarkan data pemantau IQAir.
- Pemprov DKI Jakarta menyiapkan langkah penanganan polusi melalui uji emisi serta kolaborasi dengan berbagai instansi terkait lainnya.
Suara.com - Kualitas udara Jakarta kembali memburuk pada Selasa (12/5/2026) pagi. Berdasarkan data pemantau kualitas udara IQAir, ibu kota menempati peringkat keempat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.
Mengutip ANTARA, pada pukul 05.30 WIB, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Jakarta tercatat berada di angka 134. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 49 mikrogram per meter kubik.
Kondisi ini dinilai berisiko terutama bagi kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki gangguan pernapasan. Paparan polusi juga dapat berdampak pada hewan sensitif, tumbuhan, hingga menurunkan kualitas lingkungan secara umum.
Melihat kondisi tersebut, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di area terbuka. Warga juga disarankan menutup jendela rumah guna meminimalkan masuknya udara kotor dari luar.
Dalam daftar kota dengan udara terburuk dunia versi IQAir, posisi pertama ditempati Dhaka, Bangladesh dengan AQI 191. Disusul Kinshasa, Republik Demokratik Kongo di angka 167 dan Delhi, India dengan AQI 162. Sementara Jakarta berada di urutan keempat dengan AQI 134, di atas Wuhan, China yang berada di posisi kelima.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri telah menyiapkan sejumlah langkah cepat untuk menghadapi potensi peningkatan pencemaran udara selama musim kemarau yang diprediksi berlangsung dari Mei hingga Agustus 2026.
Upaya tersebut meliputi peningkatan sistem pemantauan kualitas udara, pelaksanaan uji emisi kendaraan bermotor, hingga evaluasi Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU).
Pemprov DKI juga menilai pengendalian polusi udara tidak bisa dilakukan secara parsial oleh Jakarta saja, melainkan membutuhkan kerja sama lintas daerah penyangga dan kolaborasi antarinstansi agar penanganannya lebih efektif.
Baca Juga: Bandung Darurat Kualitas Udara dan Air! Ini Solusi Cerdas Jaga Kesehatan Keluarga di Rumah
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
WNA China Diduga Dilecehkan Saat Bikin Video di Lovina Bali
-
Bibit Durian Diturunkan di Pelabuhan Makassar Padahal Punya Izin, Ini Respons Badan Karantina
-
Karhutla Sumsel Mencapai 1.926 Hektare, Ancaman Besarnya Justru Setelah Api Padam
-
Karhutla Sumsel Tembus 664,97 Hektare, 1.077 Kejadian Tercatat hingga Agustus
-
Bank Sumsel Babel dan Kodam II/Sriwijaya Perkuat Akses Layanan Keuangan Prajurit
-
Menteri Kebudayaan Fadli Zon Beberkan Alasan Geser Konser GBN dari Kota Tua ke Kabupaten Bogor
-
Polrestabes Bandung: Sopir Truk Jadi Tersangka Tabrak Lari yang Tewaskan Polisi
-
Cara Dapat Diskon Tiket Gaia Music Festival 2026 Pakai BRImo
-
Resah, Puluhan Pimpinan Media Lokal dari 4 Provinsi Kumpul di Pekanbaru Bahas Ekosistem Media
-
Beli Produk Nespresso Pakai BRI Bisa Hemat Rp750 Ribu