-
Konflik Iran-Israel menyebabkan kenaikan harga gas di pasar bursa energi Jerman secara signifikan.
-
Blokade Selat Hormuz menjadi faktor utama terhambatnya pasokan gas cair ke pasar global.
-
Kontrak baru gas di Jerman terancam mengalami kenaikan harga dibanding periode kontrak sebelumnya.
Suara.com - Konflik bersenjata yang pecah di Timur Tengah kini mulai mencekik sektor energi Jerman melalui lonjakan harga gas di pasar global.
Ketegangan antara Iran dan Israel memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas biaya hidup warga di negara ekonomi terbesar Eropa tersebut.
Lonjakan biaya ini menjadi konsekuensi logis bagi para pelaku pasar yang bergantung pada pasokan energi internasional saat ini.
"Konsekuensi dari konflik atas Iran dirasakan oleh semua orang yang harus membeli gas di bursa," kata Kepala Badan Jaringan Federal Jerman (Federal Network Agency) Mueller dalam sebuah wawancara dengan grup media RND.
Kenaikan harga ini mulai membayangi negosiasi kontrak-kontrak energi baru yang akan dilakukan oleh korporasi maupun individu.
Dia mencatat sebagian besar rumah tangga di Jerman saat ini mendapat jaminan harga gas mereka tidak akan berubah setidaknya dalam kurun waktu 12 bulan.
Namun, perlindungan harga tersebut bersifat sementara dan tidak akan berlaku bagi mereka yang melakukan pembaruan kesepakatan dalam waktu dekat.
Pasar energi Jerman kini berada dalam posisi rentan terhadap fluktuasi harga yang dipicu oleh sentimen keamanan global di wilayah Teluk.
"Akan tetapi, jika kontrak baru disepakati, maka harga bisa naik," kata Mueller.
Baca Juga: Perang Tak Kunjung Usai, Trump Sebut Proposal Perdamaian Iran Sebagai 'Sampah'
Meskipun tren kenaikan terlihat nyata, Mueller mencoba menenangkan publik dengan membandingkan situasi ini dengan krisis energi dua tahun silam.
Namun demikian, Mueller memperkirakan harga tidak akan naik secepat setelah konflik di Ukraina dimulai pada tahun 2022.
Meski tidak secepat krisis Ukraina, beban ekonomi tambahan tetap menjadi ancaman nyata bagi daya beli masyarakat Jerman di masa depan.
Penyebab utama guncangan harga ini adalah terganggunya jalur logistik energi paling krusial di dunia akibat serangan militer yang saling berbalas.
Pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel mulai menyerang target di Iran hingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Iran pun melakukan serangan balasan di wilayah Israel serta di fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
Gubernur Jakarta Siapkan Jalur Bawah Tanah di Bundaran HI Buat Penjalan Kaki
-
Janji Pramono Anung di HUT ke-499 Jakarta: Banjir Masih Ada, Tapi Tidak Akan Separah Dulu
-
Pramono Ungkap Biang Kerok Kemacetan Jakarta, 8 Juta Orang Keluar-Masuk Setiap Hari
-
Unik! Demi Nonton Mahalini, Warga 'Nangkring' di Atas Mobil Damkar saat Perayaaan HUT Jakarta
-
Bocah Terpisah dari Ortu hingga Istri Kehilangan Suami Warnai Malam Puncak HUT DKI Jakarta
-
5 Peserta Latsarmil KDMP Tewas, Koalisi Sipil: Stop Militerisasi Ruang Sipil!
-
Kepercayaan Rakyat ke Polri Meroket, Rudianto Lallo: Modal Besar Tingkatkan Pelayanan
-
Kepercayaan Publik ke Polri Tembus 82,4 Persen, Sari Yuliati: Hasil Kerja Nyata dan Konsistensi
-
Pilih Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta, Zulhas: Artis Itu Kreatif dan Kerjanya Produktif
-
HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno